Holding Ultra Mikro Kerek Bonus dan Insentif Karyawan BRI Tembus Rp14,47 Triliun

Gedung Bank Rakyat Indonesia (BRI) di kawasan Sudirman, Jakarta. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA – Emiten pelat merah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mencatat kenaikan pada pos bonus dan insentif karyawan sebesar 33,73% year to date (ytd) setara kenaikan Rp3,6 triliun pada kuartal III-2021.

Sekretaris Perusahaan BRI Aestika Oryza menyatakan, kenaikan pada pos liabilitas imbalan kerja tersebut dikarenakan masuknya PT Pegadaian (Persero) dan PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM sebagai perusahaan anak BRI. Konsolidasi tersebut merupakan hasil dari aksi korporasi holding ultra mikro yang dilakukan oleh BRI pada kuartal III-2021.

“Sehingga pada laporan keuangan konsolidasian BRI periode kuartal III-2021, sudah menyertakan Pegadaian dan PNM di dalamnya,” kata Aestika kepada TrenAsia.com, Kamis 4 November 2021.

Merujuk pada laporan keuangan BRI per September 2021,  pada pos liabilitas imbalan kerja terlihat adanya kenaikan sebesar 33,73% ytd menjadi total Rp14,47 triliun dari posisi akhir Desember 2020 Rp10,82 triliun.

Rinciannya, cadangan bonus dan insentif naik menjadi Rp5,17 triliun dari semula Rp3,50 triliun. Lalu, cadangan atas program imbalan kerja bagi pekerja juga naik menjadi Rp8,24 triliun dari sebelumnya Rp6,55 triliun.

Asal tahu saja, cadangan atas program imbalan kerja bagi pekerja meliputi program pensiun imbalan pasti. Program tunjangan hari tua dan program jangka panjang lain, seperti penghargaan tanda jasa, cuti besar, BPJS kesehatan pascakerja dan manfaat lain.

Kenaikan juga tampak pada cadangan tunjangan hari raya (THR), pada September 2021 jumlahnya naik menjadi Rp1,05 triliun dari Desember 2020 sebesar Rp423,88 miliar.

Menariknya, BRI menghilangkan anggaran untuk cadangan khusus PHK (Qonun), padahal pada akhir tahun lalu perseroan masih menyediakan dana senilai Rp339,78 miliar.

Aestika menyadari, pertumbuhan bisnis yang didukung dengan perkembangan teknologi yang cepat dan kompetitif memerlukan human capital (HC) atau talent unggul. Sehingga kesejahteraan karyawan merupakan salah satu faktor penting agar mampu membawa BRI dan BRI Group mencapai pertumbuhan dan perkembangan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.

“HC merupakan aset terbesar dan memegang peran penting dalam pencapaian visi perusahaan,” tegas Aestika.

Tak heran, jika emiten pelat merah ini mencatatkan pertumbuhan laba bersih hingga 34,74% year on year (yoy) pada kuartal III-2021. Catatan laba ini ditopang oleh melejitnya penyaluran kredit di segmen mikro.

Laba bersih BRI secara konsolidasi melonjak dari Rp14,12 triliun pada kuartal III-2020 menjadi Rp19,07 triliun pada kuartal III-2021. Secara bank only, laba bersih BRI pada sembilan bulan pertama tahun ini bahkan menyentuh Rp20 triliun.

Saat yang sama, rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) gross di BRI mencapai 3,28% per kuartal III-2021. Total kredit yang dikucurkan emiten bersandi saham BBRI ini tumbuh 9,74% year on year (yoy) dari Rp935,35 triliun menjadi Rp1.026,42 triliun.

Adapun untuk pencadangan, bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini mengalokasikan dana cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) dari kredit yang diberikan mencapai Rp83,71 triliun. Jumlah CKPN itu naik 27% dari akhir tahun lalu senilai Rp65,16 triliun.

Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun BRI pada kuartal III-2021 ini mencapai Rp1.135,31 triliun atau meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp1.131,93 triliun.

Editor: Redaksi
Bagikan

Related Stories