Inilah Alasan Saham Sawit Sektor Hilir Ungguli Hulu

Nampak seorang petani tengah melakukan panen tanaman kelapa sawit di kawasan Bogor Jawa Barat, Kamis 28 Mei 2021. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia

JAKARTA,  – Kebijakan mandatori biodiesel B40 yang membidik target nihil impor solar pada 2026 membawa dampak struktural yang signifikan bagi industri kelapa sawit nasional. 

Namun, berkah kebijakan ini ternyata tidak dirasakan merata oleh semua pelaku industri.

Founder Stocknow.id, Hendra Wardana, menyoroti fenomena menarik di awal tahun ini terhadap kebijakan B40 tersebut. Menurutnya, terjadi divergensi kinerja fundamental di mana emiten hilir dan terintegrasi berada pada posisi yang jauh lebih diuntungkan dibandingkan emiten hulu murni.

Sebagai konteks, emiten hulu adalah pemain yang menggantungkan hidup dari perkebunan dan penjualan CPO mentah, sehingga sangat sensitif terhadap harga pasar. Sementara emiten hilir fokus pada pengolahan lanjutan menjadi produk bernilai tambah, seperti biodiesel; yang memiliki margin lebih stabil.

Baca juga:

Privilese Pemain Hilir

Hendra menjelaskan, emiten yang memiliki fasilitas pemrosesan biodiesel dan terintegrasi, seperti PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA) dan PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR), kini memegang kartu "As". Kebijakan B40 memberikan mereka kepastian offtaker (pembeli siaga) dan arus kas yang lebih stabil akibat peningkatan volume serapan CPO domestik.

"Bagi emiten seperti TBLA dan JARR, kenaikan harga CPO tidak sepenuhnya menjadi tekanan biaya bahan baku. Sebaliknya, hal tersebut justru mendorong utilisasi pabrik dan menciptakan efisiensi skala produksi," ujar Hendra kepada TrenAsia.id, Kamis, 15 Januari 2025.  

Ia menambahkan, dengan komposisi biodiesel mencapai 40% dalam solar, kondisi mencipatkan permintaan domestik menciptakan bantalan yang menjaga stabilitas kinerja emiten hilir, bahkan ketika pasar ekspor sedang lesu. Artinya kinerja emiten hilir cenderung tidak terpengaruh oleh votalias harga CPO global.

 

Posisi Unik DSNG dan LSIP

Lantas, di mana posisi emiten favorit pasar seperti PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) dan PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP)? Hendra menilai keduanya memiliki daya tarik tersendiri di luar dikotomi hulu-hilir yang ekstrem.

Untuk DSNG, Hendra melihatnya memiliki keunggulan model bisnis yang terintegrasi dari kebun hingga pengolahan, mirip dengan pemain hilir. "DSNG masih memiliki ruang penguatan karena mampu menangkap margin di berbagai fase siklus harga CPO, tidak hanya bergantung pada harga mentah," jelasnya.

Sementara itu, LSIP dinilai sebagai pengecualian di sektor hulu. Meskipun bisnis intinya adalah perkebunan, LSIP diuntungkan oleh karakter neraca yang sangat solid (strong balance sheet) dan pendekatan bisnis yang disiplin.

"Pasar mulai memberikan premi terhadap kualitas laba dan stabilitas arus kas LSIP. Jadi, meskipun dia pemain hulu, LSIP dianggap lebih aman (defensive) dibanding rekan sejenisnya," tambah Hendra.

Risiko Volatilitas di Hulu

Kondisi berbeda dialami oleh emiten hulu murni lainnya seperti PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI). Hendra menilai, raksasa hulu yang dimiliki Astra Grup tetap menghadapi risiko volatilitas margin yang lebih besar di Kuartal I-2026.

"AALI tetap lebih sensitif terhadap fluktuasi harga CPO global, biaya pupuk, serta faktor cuaca. Berbeda dengan pemain hilir atau terintegrasi yang punya lindung nilai alami, pemain hulu murni tidak memiliki kemewahan tersebut," paparnya.

Akibatnya, meskipun harga CPO dunia relatif tinggi, volatilitas margin laba emiten hulu masih lebih besar. Secara relatif, margin laba emiten terintegrasi seperti TBLA dan JARR berpotensi tumbuh lebih superior dibanding AALI pada awal tahun ini.

Perubahan Valuasi Pasar

Lebih jauh, Hendra menyebut bahwa kebijakan B40 telah mengubah cara pasar memvaluasi saham sawit. Jika sebelumnya kinerja emiten sangat bergantung pada luas lahan tertanam (planted area) dan harga komoditas global, kini parameter kesuksesan bergeser.

Pasar mulai beralih menghargai emiten yang memiliki integrasi vertikal. Kemampuan mengolah CPO menjadi produk turunan bernilai tambah, khususnya energi, kini menjadi kunci utama dalam menjaga keberlanjutan laba.

"Tahun 2026, pasar akan lebih memberikan premi valuasi pada emiten yang memiliki integrasi bisnis dan visibilitas laba yang kuat, dibanding sekadar ekspansi berbasis luas lahan," tutup Hendra.

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Alvin Bagaskara pada 15 Jan 2026 

Bagikan

Related Stories