Investasi Emas dan Obligasi Dinilai Lebih Perspektif

Ilustrasi

JAKARTA, WongKito.co - Presiden Asosiasi Perencana Keuangan (International Association of Registered Financial Consultants/ IARFC), Aidil Akbar menjelaskan berdasarkan jangka waktunya, investasi terbagi atas tiga tujuan finansial yakni pendek, menengah, dan panjang.

Karena itu, sangat dimaklumi jika masyarakat memilih investasi yang likuiditasnya paling tinggi seperti deposito, padahal berinvestasi dengan emas dan obligasi dinilai lebih perspektif, kata dia melansir TrenAsia.com, Rabu (14/10).

Untuk menjawab ketakutan masyarakat akan ketidakpastian finansial, Aidil menyarankan masyarakat dapat memilih sejumlah instrumen investasi yang lebih ‘ramah’. Alih-alih tabungan dan deposito, emas dan obligasi dinilai lebih prospektif karena menawarkan imbal balik yang cukup menjanjikan dengan profil risiko yang tetap rendah.

Jika selama ini sudah memiliki investasi setiap bulan, maka diusahakan untuk tidak berhenti. Memang, saat pandemi COVID-19, sejumlah instrumen investasi memang mengalami penurunan, namun justru itulah saat yang menguntungkan bagi investor.

“Ketika investasinya turun, kita justru membeli lebih banyak dengan nominal yang sama karena harganya lagi murah,” tambah dia.

Untuk investai jangka menengah, senyampang dana darurat atau likuiditasnya sudah tersedia baik, Aidil menyarankan untuk mengambil investasi yang dikeluarkan oleh negara seperti obligasi ritel atau surat berharga negara.

Sebab, instrumen tersebut memungkinkan masyarakat menjual investasinya sebelum jatuh tempo. Sementara untuk investasi jangka panjang, masyarakat bisa langsung berinvestasi di saham atau reksadana saham bagi yang pemula.

Selain saham, instrumen yang cukup bagus adalah properti, namun memang memiliki modal yang cukup besar dibandingkan dengan investasi lain. Bagi masyarakat yang likuiditasnya sudah baik, maka properti bisa jadi pilihan selain untuk membantu pemulihan ekonomi di sektor tersebut. (SKO)

 

Bagikan

Related Stories