BucuKito
Kelompok 8 PBL FKM Unsri Edukasi Pilah Sampah-Biopori
Oleh: Soleman Aurai, Nabila Putri Kurniawan, Ihza Aulia Kiftia, Refanisa Putri, Mutia Fajriani, Yesi Ika Saputri, Luthfi Naufal Isthi Marennu, Kery Septriailsi, Diningtyas Kirana Azahrah, Reta Indriani, Aisyah Putri Mahayani, Petronela Awom*
DALAM upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan mengurangi permasalahan sampah rumah tangga, di Desa Rambutan, Kabupaten Banyuasin, mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Sriwijaya (Unsri) Kelompok 8 Mahasiswa Pengalaman Belajar Lapangan (PBL) melaksanakan program Gerakan Edukasi Resapan Air dan Pengelolaan Sampah Berkelanjutan (GERIMIS).
Program ini dirancang sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat yang tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga menghadirkan aksi nyata yang dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh masyarakat.
Pelaksanaan program GERIMIS juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama Tujuan 3 yaitu Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui upaya menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat, juga Tujuan 6; Air Bersih dan Sanitasi Layak, melalui peningkatan daya resap air dan pengelolaan sampah organik dengan lubang biopori, serta Tujuan 12; Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab melalui edukasi pemilahan sampah dan pemanfaatan kembali sumber daya, serta Tujuan 13; Penanganan Perubahan Iklim melalui penerapan teknologi sederhana yang membantu mengurangi limpasan air hujan dan menjaga keseimbangan lingkungan.
Baca Juga:
- Dongkrak Pariwisata, Palembang Gelar Parade Perahu Ketek Hias
- GPR x DKG 2026 Hadirkan Edukasi dan Hiburan di BKB
- Ketika Ekonomi Sedang Sulit: 10 Tips Belanja Hemat di Pasar Tradisional
Program GERIMIS mengusung pendekatan edukatif dan partisipatif. Kelompok 8 PBL FKM Universitas Sriwijaya tidak hanya berperan sebagai penyuluh, tetapi juga mendampingi masyarakat dalam menerapkan pengelolaan sampah yang lebih baik. Melalui keterlibatan langsung masyarakat, diharapkan perubahan perilaku dapat terbentuk sehingga pengelolaan sampah tidak lagi dianggap sebagai tanggung jawab individu, melainkan menjadi budaya bersama yang mendukung terciptanya lingkungan yang sehat.
Kegiatan diawali dengan penyuluhan mengenai pemilahan sampah rumah tangga yang menyasar ibu rumah tangga sebagai pengelola utama sampah di lingkungan keluarga.
Dalam kegiatan ini, peserta diberikan pemahaman mengenai pentingnya memilah sampah sejak dari sumbernya, mengenali perbedaan sampah organik dan anorganik, serta memahami dampak negatif pencampuran sampah terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Selain penyampaian materi, mahasiswa Kelompok 8 PBL FKM Universitas Sriwijaya juga memberikan contoh-contoh sederhana mengenai pengelolaan sampah yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sampah organik, seperti sisa makanan, daun, dan kulit buah dijelaskan dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan pengomposan maupun pengisian lubang biopori.
Sementara itu, sampah anorganik, seperti botol plastik, kardus, dan kaleng dapat dipilah untuk didaur ulang atau disalurkan ke bank sampah sehingga memiliki nilai ekonomi. Edukasi ini mendorong masyarakat untuk memandang sampah sebagai sumber daya yang masih dapat dimanfaatkan, bukan semata-mata sebagai limbah yang harus dibuang.

Antusiasme peserta terlihat selama kegiatan berlangsung. Ibu-ibu rumah tangga aktif berdiskusi, mengajukan pertanyaan, serta berbagi pengalaman mengenai pengelolaan sampah di rumah masing-masing. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa peserta telah memahami jenis-jenis sampah, pentingnya pemilahan sejak dari rumah, serta cara mengelola sampah organik maupun anorganik dengan lebih tepat dan ramah lingkungan.
Sebagai tindak lanjut dari edukasi tersebut, Kelompok 8 PBL FKM Universitas Sriwijaya melaksanakan kegiatan edukasi sekaligus praktik pembuatan lubang resapan biopori bersama anggota Karang Taruna Desa Rambutan.
Sebelum praktik dimulai, peserta diberikan penjelasan mengenai fungsi biopori sebagai teknologi sederhana yang mampu meningkatkan daya resap air ke dalam tanah sekaligus menjadi tempat pengolahan sampah organik rumah tangga secara alami.
Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan demonstrasi pembuatan lubang biopori mulai dari proses pengeboran tanah, pemasangan pipa biopori, hingga cara pengisian sampah organik yang benar. Seluruh anggota Karang Taruna terlibat secara aktif dalam setiap tahapan sehingga mereka memperoleh pengalaman langsung dan keterampilan yang dapat diterapkan secara mandiri di lingkungan tempat tinggal masing-masing.
Keterlibatan generasi muda ini diharapkan mampu memperluas penerapan teknologi biopori di masyarakat sekaligus membangun kepedulian terhadap pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.

Melalui kolaborasi tersebut, Kelompok 8 PBL FKM Universitas Sriwijaya bersama Karang Taruna berhasil memasang lima pipa biopori di lima rumah anggota Karang Taruna yang dijadikan sebagai rumah percontohan.
Pemilihan rumah anggota Karang Taruna dilakukan karena mereka memiliki peran strategis sebagai generasi muda yang mampu menjadi pelopor perubahan di tengah masyarakat. Rumah percontohan ini diharapkan menjadi sarana pembelajaran bagi warga lain yang ingin menerapkan teknologi biopori di lingkungan mereka.
Monitoring yang dilakukan satu minggu setelah pemasangan menunjukkan hasil yang menggembirakan. Seluruh pipa biopori telah dimanfaatkan dengan baik dan diisi secara rutin menggunakan sampah organik rumah tangga sesuai dengan edukasi yang diberikan. Selain itu, anggota Karang Taruna telah mampu membuat, merawat, dan memanfaatkan lubang resapan biopori secara mandiri, sehingga menunjukkan bahwa program ini tidak berhenti pada tahap sosialisasi, tetapi benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Hasil tersebut memperlihatkan bahwa pendekatan edukasi yang dipadukan dengan praktik langsung mampu mendorong perubahan perilaku masyarakat menuju pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan.
Melalui program GERIMIS, Kelompok 8 PBL Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sriwijaya berharap budaya memilah sampah sejak dari rumah serta pemanfaatan lubang resapan biopori dapat terus berkembang di Desa Rambutan.
Baca Juga:
- Waspada Penipuan! Tautan Pendaftaran Loker Sari Roti
- Ini Alasan Indonesia Sulit Lepas dari Listrik Batu Bara?
- Yayasan Mitra Hijau Perkuat Transisi Energi dan Peran Perempuan di Sumsel
Sinergi antara ibu rumah tangga sebagai pelaksana pemilahan sampah dan Karang Taruna sebagai agen perubahan diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, bebas dari penumpukan sampah organik, serta lebih tangguh dalam menghadapi permasalahan lingkungan di masa mendatang.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa langkah sederhana yang dilakukan secara bersama-sama dapat memberikan dampak besar bagi keberlanjutan lingkungan dan kesehatan masyarakat. Dengan demikian, GERIMIS tidak hanya memberikan manfaat langsung bagi masyarakat Desa Rambutan, tetapi juga menjadi kontribusi nyata Kelompok 8 PBL FKM Universitas Sriwijaya dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) melalui pengelolaan sampah yang bertanggung jawab, peningkatan kualitas lingkungan, konservasi air, penguatan aksi adaptasi terhadap perubahan iklim, serta kolaborasi masyarakat dalam mewujudkan desa yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.
*Mahasiswa FKM Unsri Angkatan 2023

