Ketua SHI: Fast Fashion Genosida Paling Berbahaya dan Perempuan Korbannya

PALEMBANG, WongKito.co -  Ketua Sarikat Hijau Indonesia (SHI) Ade Indriani Zuchrie mengatakan fast fashion atau memroduksi beragam jenis sandang berupa pakaian, alas kaki dan tas secara cepat sudah dilakukan sejumlah produsen dengan merek-merek termasyur di dunia. 

  

"Fast fashion ini sangat buruk bahkan masuk kategori genosida paling  berbahaya," Kata dia ketika menjadi pembicara usai nonton bareng film "The True Cost", akhir pekan lalu. 

Ia mengungkapkan sejumlah produsen fashion ternama di dunia selama ini telah terbukti menjadi pelaku genosida tersebut. 

Dia mencontohkan runtuhnya gedung berlantai delapan tidak jauh dari Dhaka, Bangladesh pada 24 April 2013 tepat pukul 08.30 waktu setempat  menjadi contoh nyata bahaya genosida fashion tersebut terjadi. 


 

"Ketika itu, diinformasikan ratusan buruh perempuan menjadi korban runtuhnya gedung yang diketahui menjadi pusat produksi salah satu merek fashion di dunia, "ujarnya.


 

Bukan hanya minim dari fasilitas keamanan dan kenyamanan saat  bekerja, Ade menambahkan produsen fashion yang mengeksploitasi buruh perempuan dengan harga murah tersebut juga tidak memenuhi beragam hak lainnya. 


 

Buruh perempuan yang hanya mendapat upah berkisar 2-3 dolar AS tersebut juga terpaksa membawa bayi atau anak balita ke tempat kerja yang tentunya tidak ramah terhadap orang dewasa apalagi anak-anak. 


 

Hal itu, sangat bertolak belakang dengan fakta bahwa konglomerat atau pemilik modal produsen fashion tersebut kaya raya dari menghisap dan mengeksploitasi buruh perempuan. 


 

Akibatnya, sejumlah negara pemasok sampah fashion menjual atau memyerahkan ke negara-negara dunia ketiga. 


 

Saat masih layak pakai biasanya akan banyak dibeli pencinta produk dengan merek kelas dunia tersebut. 


 

Sisanya jadi sampah di buang sembarangan atau membakar produk yang notabene menghasilkan gas metan berbahaya. 


 

"Sungguh sangat keterlaluan, " Tegas dia. 


 

Dalam kesempatan nonton bareng dilanjutkan diskusi rangkaian Festival Bulan Juni Palembang dengan audien didominasi anak muda tersebut Ade juga bercerita bagaimana jahatnya dunia fashion terhadap perempuan. 

  

"Tak hanya mengeksploitasi perempuan dipabrik-pabrik tetapi pascaproduksi pun kembali mengeksploitasi perempuan, seperti menjadikan tubuh perempuan sebagai alat untuk menjual produk tersebut, " Kata dia. 


 

Ditambah lagi, ujar Ade produk fast fashion sangat tidak ramah lingkungan. Kenapa demikian dengan diproduksi secara cepat dan massal maka pengelola pabrik tidak lagi memikirkan bahan apa yang digunakan. 


 

Pemerintah Gagal Sediakan Pekerjaan


 

Runtuhnya gedung di Dhaka, Bangladesh tersebut, bisa saja terjadi dimanapun. Termasuk di Indonesia. 


 

Seperti kita ketahui Indonesia juga merupakan tempat beroperasinya beragam produk fashion terkenal di dunia. 


 

Diantaranya, produsen alas kaki baik berupa sandal maupun sepatu. Belum lagi di sejumlah kawasan industri di Jawa Barat, seperti Rancaekek dan Cimahi juga beroperasi pabrik-pabrik tekstil dengan mayoritas buruh perempuan. 


 

Padahal sudah rahasia umum, kalau perempuan yang bekerja di pabrik-pabrik tekstil banyak mengeluhkan beragam penyakit berbahaya dampak dari aktivitas mereka di pabrik. 


 

Buruh bersentuhan langsung dengan beragam produk kimia  berbahaya mulai dari pewarna tekstil sampai dengan benda lain yang terpaksa mereka gunakan dalam bekerja sesuai standar operasional diindustri tekstil. 


 

Seringkali ditemukan, perempuan pekerja pabrik tekstil terpaksa berhenti kerja karena kini menderita penyakit, seperti kanker dan radang paru-paru. 


 

Ditemukan beragam dampak buruk pekerja perempuan akibat pabrik atau tempat kerja yang tak ramah tentu sudah seharusnya menjadi perhatian masyarakat Indonesia. 


 

Kondisi tersebut membuktikan kalau negara telah gagal karena tak mampu memberikan pekerjaan yang layak bagi rakyat, kata Ade menambahkan. 


 

Dengan demikian, sebagai perempuan kita harus merubah cara berpikir untuk bisa menentukan pilihan sendiri dan kritis dalam setiap regulasi yang tak berpihak pada kaum hawa. 


 

"Kalau saja negara telah memberikan pekerjaa yang baik, kesempatan sekolah pada semua generasi tentunya tidak akan terjadi lagi beragam permasalahan , seperti eksploitasi perempuan diantaranya pernikahan dini, " Kata Ade l. (Ert) 

Bagikan

Related Stories