BucuKito
Kisah Marisah, Teman Tuli yang Cekatan jadi Waiters
Di sudut outdoor Kafe Lapan Kopi, angin sore berhembus pelan, membawa aroma kopi yang hangat dan suara obrolan yang saling bersahutan. Di antara riuh itu, ada sosok yang bekerja dalam sunyi bukan karena ia tak ingin mendengar, tapi karena dunia memang tak lagi menghadirkan suara untuknya.
Namanya Marisah (23 tahun). Senyumnya ramah, geraknya cekatan, tapi ada cerita panjang yang tersimpan di balik tatapannya.
Marisah menyandang disabilitas sensorik bukanlah dari lahir, tetapi saat duduk di bangku taman kanak-kanak. Ia bercerita bermain jungkat-jungkit bersama teman berubah menjadi titik balik dalam hidupnya. Tubuh kecilnya terjatuh dan terbentur batu besar. Sejak saat itu, perlahan ia kehilangan kemampuan berbicara. Luka itu seperti belum cukup, karena kejadian serupa terulang saat lomba 17 Agustus. Dua kali jatuh, dua kali dunia berubah. Hingga akhirnya, dokter menyimpulkan, sarafnya mengalami kerusakan. Ia tak lagi bisa mendengar, juga tak bisa berbicara seperti dulu.
Baca Juga:
- Kia Hadirkan Pemeriksaan Gratis 31 Titik Pasca Mudik Lebaran
- Cek Syarat Daftarnya, Ajang SATU Indonesia Awards 2026 Dibuka
- Begini Cara Hitung Kalori Bersepeda
Di tengah keterbatasan, Marisah tetap tumbuh. Ia pernah menemukan ruangnya dalam tari gerakan yang menjadi bahasa lain untuk mengekspresikan diri. Tapi sejak menjadi seorang waiters di Lapan Kopi, aktivitas itu perlahan ia tinggalkan. Kini, langkahnya lebih banyak di antara meja-meja pelanggan, bukan lagi di panggung.
Perjalanan Marisah hingga bekerja di sini juga bukan kebetulan. Berawal dari sebuah perkumpulan disabilitas sensorik yang diajak oleh Direktur Utama Lapan Kopi, Reksi, kesempatan itu datang. Dari beberapa orang, hanya dua yang akan direkrut. Dan Marisah, dengan keberanian yang mungkin tak banyak orang sadari, mengangkat tangannya. Sebuah keputusan yang membawa perubahan besar bagi dirinya.
Bahagia Meskipun banyak Tantangan
Hari pertamanya dipenuhi rasa bahagia. Ia merasa diterima. Teman-teman di tempat kerja menyambutnya dengan baik, menciptakan ruang yang hangat di tengah keterbatasannya.
Namun, bekerja di dunia yang penuh suara tentu bukan tanpa tantangan.
Di balik senyumnya saat melayani pelanggan, ada rasa sedih yang kerap ia rasakan. Terutama ketika orang-orang di sekitarnya berbicara tanpa bahasa isyarat. Ia hanya bisa melihat, tanpa benar-benar memahami. Seolah berada di tengah keramaian, tapi tetap sendiri.
“Kadang aku sedih, karena aku tidak tahu mereka sedang membicarakan apa,” begitu kira-kira yang ia sampaikan lewat tulisan.
Rasa tidak percaya diri juga sering datang, terutama saat harus berhadapan langsung dengan pelanggan.
Sebagai bagian dari komunitas kawan Tuli, jika tidak bertemu dengan kawan Dengar untuk berkomunikasi, ia harus menyiapkan buku tulis alat sederhana yang menjadi jembatan antara dirinya dan dunia luar. Tidak semua orang sabar menunggu, tidak semua orang mengerti. Tapi Marisah tetap berdiri di sana, bersemangat setiap hari.
Baca Juga:
- Jaga Stabilitas Rupiah: Tahan BI Rate, Cek Apa Dampaknya
- SALAH: Harga BBM Indonesia Naik 40%
- Cek Rinciannya, Segini Harga Emas Antam Hari Ini 1 April 2026
Dan justru dari situlah, ia belajar banyak hal.
Meski tak merinci satu per satu, Marisah mengatakan bahwa pekerjaannya memberinya begitu banyak hal berharga. Mungkin bukan sekadar penghasilan, tapi juga keberanian, penerimaan, dan arti bertahan.
Di bawah langit sore Lapan Kopi, Marisah mengajarkan sesuatu yang sederhana, tapi sering terlupakan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti melangkah. Bahwa dalam diam pun, seseorang tetap bisa berbicara melalui usaha, melalui ketulusan, melalui cara ia menjalani hidupnya.
Di tempat yang penuh suara ini, Marisah memang tak mendengar. Tapi justru dari dirinya, banyak orang bisa belajar untuk lebih “mendengar” sesama.(Magang/Echa Cahya Zahira)

