Lestarikan Tradisi Midang Morge Siwe di Kayuagung

Lestarikan Tradisi Midang Morge Siwe di Kayuagung (Foto Humas Pemprov Sumsel)

OKI , WongKito.co – Melestarikan tradisi budaya  lokal menjadi penting di era global, seperti sekarang ini, karena disrupsi informasi telah mengubah tatanan dunia, termasuk bagi masyarakat di pedesaan.

Di Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) budaya Midang Morge Siwe masih bertahan. Kegiatan yang berlangsung di pelataran Pantai Love, Sungai Komering tersebut merupakan bagian dari rangkaian perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah dan menjadi momen berkumpulnya masyarakat, termasuk para perantau yang pulang kampung.

Midang Morge Siwe merupakan tradisi arak-arakan budaya khas masyarakat Kayuagung. “Midang” berarti berjalan kaki atau berarak-arakan menggunakan pakaian adat, sedangkan “Morge Siwe” merujuk pada sembilan marga atau dusun asli pembentuk wilayah Kayuagung, yakni Kayuagung Asli, Perigi, Kutaraya, Kedaton, Jua-Jua, Sidakersa, Mangunjaya, Paku, dan Sukadana.

Baca Juga:

Dalam pelaksanaannya, tradisi ini menampilkan pemuda-pemudi yang mengenakan busana adat perkawinan (Mabang Handak) dan berjalan mengelilingi kota, khususnya di sepanjang Sungai Komering, dengan iringan musik tradisional tanjidor. Tradisi ini biasanya digelar pada hari ketiga dan keempat Idul Fitri atau dikenal sebagai Midang Bebuke.

Kali ini tradisi Midang Morge Siwe diselenggarakan, Senin (23/3/2026) dihadiri pejabat Pemprov Sumsel dan Bupati OKI.

Sekda Pemproc Sumsel, Edward mengungkapkan bahwa keberlanjutan tradisi Midang Morge Siwe sebagai warisan budaya tak benda Indonesia merupakan hasil kesungguhan masyarakat dalam menjaga dan melestarikan budaya leluhur.

“Kita bersyukur kegiatan budaya kebanggaan Midang Morge Siwe dapat terus dilaksanakan dan menjadi warisan budaya tak benda Indonesia. Ini berkat kesungguhan masyarakat dan Pemerintah Kabupaten OKI,” katanya.

Menurutnya, Midang Morge Siwe tidak hanya menjadi simbol budaya, tetapi juga mencerminkan nilai kebersamaan, gotong royong, serta penghormatan kepada leluhur yang tetap dijaga hingga saat ini.

Lebih lanjut, Edward mendorong Pemerintah Kabupaten OKI untuk terus mengembangkan pelaksanaan Midang Morge Siwe dengan tampilan yang lebih menarik, kreatif, dan inovatif guna menarik wisatawan dari luar daerah hingga mancanegara.

“Kami mendorong agar kegiatan ini dikemas lebih menarik dan inovatif sehingga mampu menarik wisatawan luar kota maupun mancanegara. Ke depan, ini bisa menjadi agenda nasional bahkan internasional,” tegasnya.

Ia juga menilai tradisi tersebut memiliki potensi besar dalam mendorong sektor pariwisata, khususnya ekonomi kreatif di daerah.

“Diharapkan kegiatan ini dapat mendorong kemajuan di bidang pariwisata, terutama ekonomi kreatif,” ujarnya.

Baca Juga:

Sementara itu, Bupati OKI, Muchendi Mahzareki, mengatakan Midang Morge Siwe merupakan warisan budaya tak benda yang menjadi kebanggaan masyarakat Kayuagung dan telah diakui pemerintah.

“Kita sambut adat ini dengan kebanggaan karena sudah diakui pemerintah sebagai warisan budaya tak benda masyarakat Kayuagung. Dalam acara ini tidak hanya pejabat yang hadir, tetapi juga banyak warga OKI yang pulang kampung untuk menyaksikan tradisi ini sehingga menimbulkan nostalgia,” ujarnya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk menikmati kemeriahan tradisi tersebut dengan tertib.

“Mudah-mudahan semarak Lebaran 2026 ini menjadi lebih berkesan dan tetap tertib. Kita jaga bersama. Selamat Lebaran dan selamat menyaksikan Midang Morge Siwe,” katanya.(ril)

Redaksi Wongkito

Redaksi Wongkito

Lihat semua artikel

Related Stories