Menengok Taman Wisata Bukit Siguntang yang Kini Terbengkalai

Gazebo di Taman Wisata Bukit Siguntang terlihat sepi pengunjung. (wongkito..co/Mg/Ferdinan Ahyuda Pahlevi))

PALEMBANG, WongKito.co - Rumput liar tumbuh tinggi di sela-sela paving yang retak. Gazebo dengan atap merah bata terlihat sepi, hanya sesekali didatangi peziarah. Begitulah potret Taman Wisata Bukit Siguntang Palembang yang kini jauh dari kata terawat.

Terpantau, pada Senin (20/1/2026), kondisi kawasan wisata seluas 12,4 hektare ini memprihatinkan. Fasilitas yang dulunya jadi kebanggaan kini terbengkalai, lantai pejalan kaki banyak yang retak, dan vegetasi liar dibiarkan tumbuh menutupi sebagian area.

Kepala Kantor Bukit Siguntang, M Apriansyah menjelaskan, taman wisata ini mulai dibangun tahun 1991 dan resmi dibuka untuk umum pada 1994. Meski sudah berusia lebih dari tiga dekade, pengelolaan kawasan ini masih sangat terbatas.

"Untuk perawatan ada satpam, petugas kebersihan, dan juru kunci. Jam operasional resmi dari pukul 08.00 sampai 16.00, kecuali hari Jumat dan Sabtu sampai pukul 17.00 WIB," ujar Apriansyah.

Meski kondisi fisik terbengkalai, Apriansyah tetap optimis kawasan ini punya nilai strategis. Menurutnya, Bukit Siguntang punya sejarah panjang sebagai pusat Kerajaan Melayu terbesar di Asia Tenggara.

"Harapan saya ke depan, anak-anak muda sadar bahwa Kerajaan Melayu terbesar di Asia Tenggara ada di sini, di Taman Wisata Bukit Siguntang. Ini warisan leluhur yang harus dijaga," ucapnya.

Pria yang akrab disapa Apri ini mengakui, jumlah pengunjung sangat fluktuatif tergantung waktu kedatangan. Ada yang siang, ada pula yang menjelang sore. Untuk tarif masuk, terbilang murah. Parkir motor cukup bayar Rp 2.000-Rp 3.000, sementara tiket masuk Rp 5.000 per orang yang dihitung berdasarkan grup.

"Pengunjung macam-macam. Ada ustad yang mau ceramah, keturunan raja-raja Melayu, sampai masyarakat yang mau menyampaikan nazar di area makam," tambahnya.

Dominasi Peziarah

Artur, penjaga warung di kawasan Bukit Siguntang mengungkapkan, aktivitas di taman wisata ini memang didominasi peziarah ketimbang wisatawan biasa. Hari-hari biasa tergolong sepi, baru ramai kalau akhir tahun atau ada pengajian.

"Harga makanan di semua warung di sini sama. Hari biasa sepi, ramai kalau akhir tahun ada orang ziarah atau pengajian. Kebanyakan pengunjung dari Pulau Jawa yang khusus datang berziarah," kata Artur.

Menurutnya, aktivitas baru meningkat saat akhir pekan. Biasanya anak-anak muda menyewa lokasi untuk kegiatan seperti ospek atau acara kampus lainnya.

"Kalau weekend kadang disewa sama anak-anak muda buat ospek atau acara-acara gitu," imbuh dia. 

Kondisi infrastruktur yang tidak terawat dan minimnya promosi membuat kawasan bersejarah ini kehilangan daya tarik sebagai destinasi wisata. Padahal, nilai historisnya sangat tinggi sebagai saksi kejayaan peradaban Melayu di Nusantara.

Ke depan, diperlukan perhatian serius dari Pemerintah Kota Palembang untuk merevitalisasi kawasan ini agar tidak hanya jadi tempat ziarah, tapi juga destinasi wisata edukatif yang layak dikunjungi. (Mg/Ferdinan Ahyuda Pahlevi)

Editor: Redaksi Wongkito
Redaksi Wongkito

Redaksi Wongkito

Lihat semua artikel

Related Stories