KabarKito
Mengenal Konservasi Gajah Sumatera Berbasis Fying Squad, Tawaran Solusi Pakar Ekologi IPB
JAKARTA, WongKito.co - Deforestasi besar-besaran yang terjadi di bentang alam Seblat, Bengkulu, tengah menjadi sorotan para ahli konservasi. Salah satunya datang dari Burhanuddin Masyud, pakar Ekologi dan Manajemen Satwa Liar IPB University, yang menilai kondisi tersebut sudah memasuki fase kritis.
Menurutnya, kerusakan yang terjadi bukan sekadar menyusutnya tutupan hutan. “Ini ancaman sistemik yang menggerus fondasi keberlangsungan populasi gajah Sumatra,” tegas Burhanuddin, dikutip Jumat (28/11/2025).
Data terbaru mencatat setidaknya 1.585 hektare habitat gajah hilang antara Januari 2024 hingga Oktober 2025. Jumlah itu belum termasuk dugaan perambahan ilegal sekitar 4.000 hektare yang disinyalir kuat telah dialihfungsikan menjadi kebun sawit.
“Apa yang terjadi di Bengkulu bukan sekadar hilangnya hutan. Ini serangan langsung terhadap ekologi, reproduksi, dan keseimbangan interaksi gajah dengan lingkungannya. Dampaknya berlapis dan bersifat jangka panjang,” ujarnya.
Burhanuddin menjelaskan, area yang hilang merupakan bagian dari koridor jelajah musiman di kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT) Lebong Kandis. Koridor tersebut berfungsi sebagai jalur migrasi, sumber pakan, hingga ruang yang memungkinkan terjadinya reproduksi secara alami.
“Begitu koridor musiman rusak atau hilang, sinkronisasi perilaku fisiologis gajah untuk kawin ikut terganggu. Dan jika proses reproduksi terganggu, penurunan populasi tinggal menunggu waktu,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa percepatan alih fungsi lahan baik menjadi perkebunan, lahan budi daya, maupun permukiman meningkatkan risiko konflik manusia dan gajah. Situasi serupa, kata dia, sudah terjadi di Aceh dan Riau, yang mencatat tingginya angka kematian gajah akibat perburuan, keracunan, hingga benturan aktivitas manusia.
Menurutnya, akar persoalan terletak pada tata kelola lahan yang masih sangat berorientasi pada kepentingan ekonomi jangka pendek. “Banyak alih fungsi terjadi secara ilegal. Koridor ekologis jarang dipertimbangkan dalam kebijakan. Yang dominan tetap nilai finansial,” ujar Burhanuddin.
Cara pandang sebagian masyarakat yang menganggap gajah sebagai hama juga memperburuk keadaan. “Tanpa edukasi dan intervensi, persepsi ini bisa berujung pada tindakan berbahaya seperti peracunan atau pembunuhan gajah,” tambahnya.
Sebagai langkah strategis, ia menekankan pentingnya koordinasi lintas lembaga untuk memetakan ulang jalur jelajah gajah, terutama yang terhubung dengan Taman Nasional Kerinci Seblat.
- DFSK dan SERES Resmi Gandeng Pegadaian untuk Permudah Pembiayaan Kendaraan Listrik dan Niaga
- Begini Resep Membuat Bolu Tiramisu Kukus Simpel yang Enak
- Wyndham Opi Hotel Palembang Raih Penghargaan Excellent Performance Prestige pada Traveloka Hotel Awards 2025
Ia juga menyoroti pentingnya implementasi UU No. 32/2024 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya, termasuk penetapan area preservasi seperti koridor ekologis dan kawasan bernilai konservasi tinggi.
Selain upaya regulasi, Burhanuddin menilai pendekatan konservasi berbasis flying squad bisa menjadi solusi realistis, seperti yang telah terbukti efektif di Taman Nasional Tesso Nilo, Riau. Program tersebut tidak hanya menekan konflik, tetapi juga membuka peluang wisata edukasi bagi masyarakat.
“Pelibatan masyarakat adalah kunci. Tanpa itu, konservasi hanya akan menjadi dokumen kebijakan tanpa implementasi,” tutupnya.
Apa Itu Flying Squad?
Konservasi berbasis flying squad merupakan pendekatan perlindungan satwa liar yang berkembang di Indonesia, khususnya untuk meredam konflik antara gajah liar dan warga di sekitar habitatnya.
Alih-alih mengandalkan cara-cara kekerasan, metode ini menggerakkan tim yang bekerja secara mobile dan memanfaatkan gajah-gajah latih untuk membantu mengamankan situasi.
Dalam praktiknya, flying squad terdiri dari para pawang (mahout), gajah latih, hingga petugas kehutanan atau ahli konservasi. Mereka siap meluncur ke lokasi begitu ada laporan gajah memasuki kebun atau permukiman.
Fungsinya sederhana namun krusial: mencegah interaksi yang bisa merugikan kedua pihak. Gajah latih digunakan untuk menggiring atau mengarahkan kawanan gajah liar kembali ke hutan tanpa melukai mereka.
Kehadiran gajah latih terbukti efektif karena adanya komunikasi alami antar-satwa, membuat proses penghalauan berlangsung lebih aman dan minim stres.
- Rumah Limas Palembang, Simbol Kebanggaan dan Warisan Budaya Melayu Islam
- Catatan dari Leiden, Belanda: Menggugat Narasi Kolonial di Jantung Amsterdam
- Revisi Perpres Percepatan EBT Melegitimasi Pembangunan PLTU Baru dan Menambah Kesia-siaan COP30
Selain bersifat reaktif, tim ini juga melakukan patroli rutin di titik-titik rawan konflik untuk memantau pergerakan gajah dan memberi peringatan dini kepada masyarakat. Edukasi kepada warga pun menjadi bagian penting dari kerja mereka, mulai dari cara menyimpan hasil panen yang aman hingga langkah menghadapi gajah jika sewaktu-waktu muncul di sekitar desa.
Pendekatan flying squad dinilai sebagai salah satu metode paling efektif saat ini. Di satu sisi, ia membantu masyarakat terhindar dari kerugian akibat rusaknya lahan dan tanaman. Di sisi lain, ia melindungi gajah liar dari risiko perburuan, racun, atau tindakan balas dendam yang kerap muncul ketika konflik tak tertangani dengan baik.
Tulisan ini telah tayang di TrenAsia.com, jejaring media WongKito.co, pada 28 November 2025.

