Ragam
Mengulik Sedekah Kampung Kapitan, dengan Beragam Agama dan Etnis yang Terjaga Hingga Kini
Suasana hangat kebersamaan warga Kampung Kapitan menyambut matahari terbit pada Minggu (11/4/2021) . Ramai terdengar suara dari pinggiran Sungai Musi, Palembang. Mereka mulai mempersiapkan acara Sedekah Kampung Kapitan yang menjadi tradisi sejak puluhan tahun bahkan bisa disebut ratusan tahun.
Kampung Kapitan berlokasi di tepi Sungai Musi dengan luas 165,9 meter x 85, 6 meter itu, kini masuk wilayah Kelurahan 7 Ulu Palembang. Awalnya, Kampung Kapitan ini mempunyai sejumlah rumah dengan gaya arsitektur China dipadukan dengan arsitektur tradisional Palembang. Bangunan tersebut bukan hanya difungsikan sebagai tempat tinggal tetapi juga ada yang khusus area peribadatan dan rumah abu.
Namun, sekarang hanya tersisa dua bangunan rumah yang berusia kurang lebih 400 tahun menurut cerita yang terpampang di depan bangunan itu.
Pada masa lalu, Kampung Kapitan menjadi tempat tinggal Kapitan Cina beserta keluarganya sejak abad XIV atau zaman Dinasti Ming. Awal mula munculnya kampung ini ketika Kerajaan Sriwijaya runtuh pada abad XI.

Pada masa itu, Kerajaan Cina membentuk lembaga dagang hingga akhirnya banyak pedagang Cina yang menetap dan menikah dengan warga Palembang. Bukan hanya etnis Tionghoa yang menetap disana, melainkan juga sudah hidup berdampingan bersama warga Palembang asli dan keturunan India.
Untuk menghormati leluhur yang lebih dulu berada di tempat itu, menurut Herman alias Slamet Wijaya (56) atau kerap disapa Ko Godek, tradisi sedekah kampung sudah turun-temurun dilakukan oleh leluhur Tionghoa dan menjadi wajib diselenggarakan tiap tahunnya.
“Sedekah kampung dilakukan tiap bulan April dengan tanggal yang tak menentu,” ujar lelaki keturunan ketujuh Tjoa Ham Ling atau dikenal sebagai keturunan Kapiten.
Maksud dari sedekah kampung ini, salah satu upaya meminta pertolongan kepada Tuhan untuk dihindarkan dari bala atau musibah.
Setiap kali sedekah kampung, warga gotong royong menyiapkan makanan yang akan disantap bersama. Seekor kambing jantan biasanya menjadi santapan utama warga.
Selagi menunggu seekor kambing selesai disembelih, warga Tionghoa menyiapkan persembahan untuk leluhur di tiga lokasi.
“Khusus kepala dan kaki kambing dikubur di tempat khusus serta didoakan secara Islam oleh tokoh agama setempat. Proses tersebut sebagai ungkapan penghormatan kepada leluhur yang sebelumnya telah melakukan itu,” ujar Ko Godek.
“Kami menjaga tradisi ini bersama-sama bukan hanya dari etnis Tionghoa dengan keyakinan Konghucu, tetapi ada juga yang beragam Katolik dan Budha. Warga muslim asli Palembang dan keturunan India pun menyatu dalam kegiatan ini," kata dia.

Sementara kilauan mata pisau serta bunyi gesekan antara pisau dengan batu asahan menambah riuhnya pagi itu. Ustadz Darja, tokoh agama setempat dan warga Muslim lainnya mengambil alih proses penyembelihan yang dilakukan secara syariat Islam.
Dengan cekatan, Eko (34) mengiris daging kambing menjadi potongan kecil-kecil. Ternyata, ada kriteria tertentu untuk kambing yang disembelih dalam sedekah tersebut.
“Hanya kambing jantan dan mempunyai Kendit (kambing jantan yang ada belang putih di pinggang),” jelas lelaki yang sudah dua tahun dipercaya mengambil bagian mencincang daging.
Menjelang petang selepas ashar, warga muslim mulai berdatangan untuk membaca surat Yasin dan berdoa bersama di depan bangunan bersejarah tersebut.
Sementara itu, Ko Godek juga sibuk mempersiapkan peralatan sembahyangnya. Disinilah momen kebersamaan dan keberagaman umat beragama terlihat. Dengan garu yang terselip di jari, Ko Godek terlihat khusyuk
memanjatkan doa-doa.
Warga muslim menyelesaikan bacaan Surat Yasin, semua warga larut dalam doa bersama untuk meminta perlindungan dan terhindar dari bala bencana dengan kepercayaan masing-masing.
Di akhir tradisi yang penuh dengan kekeluargaan dan toleransi tinggi, warga membaur menjadi satu untuk bercengkrama dan menyantap kue dan ngopi bersama.
Seorang warga keturunan India, Aba kunyit (74) sekaligus tokoh masyarakat setempat mengungkapkan makna dari tradisi sedekah kampung. Tradisi ini, sudah dilakukan puluhan tahu lalu dengan berbagai agama dan etnis di dalamnya.
“Jadi sudah terlihat dengan jelas betapa kayanya Bumi Sriwijaya ini dengan adat budayanya. Betapa harmonisnya kehidupan umat beragama dan betapa syahdunya kebersamaan antar etnis tanpa ada batas dalam bergaul bersama dan menjunjung tinggi kepercayaan dan agama masing-masing,” kata Aba seraya menyeruput kopi susu.
Makanan utama yang telah dimasak sejak selepas subuh dimasukan dalam kotak dan dibagikan kepada warga yang datang untuk dibawa, pulang dengan membawa nasi kotak lengkap dengan berbagai lauk juga olahan daging kambing. (Melati Arsika/Adam Rahman)

