KabarKito
Menikmati Durian Perangai, di Antara Debu Batu Bara
LAHAT, WongKito.co - Musim durian kini kerap kali tidak bisa diprediksi lagi. Tahun 2025, durian asli Sumatera Selatan sudah tidak bisa dijumpai lagi ketika memasuki bulan Juni.
Namun, tahun ini berbeda, sampai bulan Agustus masih banyak petani yang panen durian, salah satunya petani di Kawasan Perangai, Kecamatan Merapi Selatan, Kabupaten Lahat yang notabene tidak jauh dari kawasan pertambangan batu bara Merapi Area.
Darmiana (56) warga Desa Telatang, Kecamatan Merapi Barat mengungkapkan kalau sudah lebih sepekan dirinya berjualan durian, durian tersebut dibeli dari petani yang berada di Kawasan Perangai.
"Kalau istilah kami, ini buah selang, atau buah antara belum memasuki musim panen, tetapi lumayan banyak," kata dia dibincangi beberapa hari lalu.
Baca Juga:
- by.U Hadirkan kUotamasya 2026, Beli Kuota Bisa Liburan
- PWNU Sumsel Minta Gus Rozin Perkuat Ranting dan Pesantren
- Mahasiswa KKN UIN Edukasi Warga Kesetaraan Gender dan Cegah KDRT
Ia bercerita meskipun buah duriannya tampak cukup banyak tetapi harganya lumayan mahal. Ia mengatakan satu buah durian dengan berat sekitar 1,5 kilogram dijual sekitar Rp40 ribu per buah.
Kalau tiba musim panen raya, ia mengungkapkan harga raja buah tersebut sangat terjangkau berkisar Rp15 ribu per buah ukuran sedang.
Namun, meskipun mahal dia mengakui pembeli tetap ramai, apalagi durian yang ditawarkan tersebut rasanya manis dan berdaging tebal.
Kini menjadi pertanyaan, kapan durian-durian itu tetap bisa dinikmati, ketika hutan dan bukit terus digerogoti perusahaan tambang batu bara.(ert)

