BucuKito
Menjaga Aren Terakhir, Harapan Baru Tumbuh di Muara Sindang Tengah
TANGAN Batin, warga Desa Muara Sindang Tengah, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan, Sumatera Selatan, perlahan mengarah ke tandan bunga aren. Baginya, pohon itu bukan sekadar tanaman yang tumbuh di sekitar desa. Ia menyimpan pengetahuan yang diwariskan dari masa ketika masyarakat masih akrab dengan gula aren.
Sebelum air nira keluar, ada proses yang harus dilakukan dengan sabar.
Bunga aren itu digoyang-goyangkan berkali-kali. Sekitar seratus kali.
Setelah itu, bagian bunga dipotong sedikit demi sedikit. Tidak bisa sekaligus. Ada ritme dan ketelitian yang harus dijaga. Dari proses itulah, perlahan, cairan manis dari pohon aren mulai menetes.
Cairan itu kemudian dikumpulkan. Jika ingin diolah menjadi gula aren, nira harus dimasak menggunakan kuali besar selama kurang lebih tiga jam.
Baca Juga:
- Hapelnas 2026, Pertagas Tegaskan Komitmen Layanan Energi Handal
- Sinergi TPID Sumsel Sukses Kendalikan Inflasi di Tengah El Nino
- DSI Integrasikan Data Ekspor, Visibilitas Perdagangan RI Diperkuat
Bagi sebagian orang, proses itu mungkin terdengar sederhana. Tetapi bagi Batin, pengetahuan tentang aren adalah sesuatu yang semakin jarang dimiliki warga.
Kini, ia menjadi satu dari sedikit bahkan disebut sebagai satu-satunya petani aren yang masih bertahan di Muara Sindang Tengah.
Di desa yang mayoritas warganya menggantungkan hidup pada kopi itu, aren perlahan kehilangan tempatnya.
Padahal, Pak Batin pernah membuktikan bahwa aren bisa menghasilkan uang.
Ia masih mengingat ketika mencoba membuat dan menjual gula aren. Saat itu, produknya pernah dibeli dengan harga Rp20 ribu per kilogram.
Tidak besar. Tidak pula menjadikannya sumber penghasilan utama.
Namun, pengalaman itu menunjukkan satu hal, pohon aren sebenarnya memiliki nilai ekonomi. Masalahnya bukan semata-mata bagaimana menghasilkan nira.
Masalah terbesar justru muncul setelah nira berhasil dipanen.
Ke mana produk itu akan dijual?
Potensi yang Tumbuh, Pasar yang Belum Ditemukan
Pertanyaan tentang pemasaran menjadi keresahan warga Muara Sindang Tengah. Hal itu, terungkap saat mahasiswa PKM-KKN dosen UIN Raden Fatah Palembang yang dipimpin Dr Kun Budianto S.Ag SH, Msi, Erik Darmawan, M.HI, Ibrahim Mifthafariz Mirza, M.P.A dan 10 mahasiswa KKN yaitu Dino Satrio, Sutrisno, Muhammad Arif Teidha, Ria Wati, Raisya Allya Arzety, Nanda Marsa Bela, Wira Yuda Ihza Kusuma, Yudha, Ahmad Akbarudin dan Clara Audia.
Masyarakat tidak menolak gagasan mengembangkan nira aren. Mereka mengenal pohonnya. Sebagian bahkan mengetahui cara mengolahnya. Tetapi pengalaman ekonomi mengajarkan mereka bahwa sebuah produk tidak cukup hanya bagus.
Produk harus memiliki pembeli. Keresahan itulah yang mengemuka ketika dosen dan mahasiswa UIN Raden Fatah Palembang datang ke Muara Sindang Tengah untuk melihat dan mengembangkan potensi lokal tersebut.
Salah satu dosen UIN Raden Fatah Palembang, Kun Budianto melihat nira aren bukan sebagai pengganti kopi.
Menurutnya, justru di situlah kesalahan jika pengembangan ekonomi desa selalu dimaknai sebagai mengganti mata pencaharian lama dengan komoditas baru.
“Kami datang bukan untuk menggeser kopi,” katanya.
Kopi, menurutnya, tetap menjadi identitas sekaligus sumber penghidupan utama masyarakat Muara Sindang Tengah.
Nira aren hanya membuka kemungkinan lain.
Sebuah sumber pendapatan tambahan.
“Ini bisa menjadi tambahan penghasilan bulanan bagi masyarakat,” ujarnya.
Potensinya, kata dia, tidak kecil. Dengan pengolahan dan kemasan yang tepat, nira aren dapat memiliki nilai jual lebih tinggi. Produk yang dikemas dalam botol, misalnya, dapat membuka peluang pasar yang berbeda dibandingkan produk yang dijual secara tradisional.
Namun, mengubah potensi menjadi produk ekonomi bukan pekerjaan semudah memetik nira dari pohonnya.
Ada persoalan kemasan. Ada standar produksi. Ada kontinuitas bahan baku. Dan yang paling penting, pasar.
Desa tidak Butuh Sekadar Pelatihan
Bagi warga, pelatihan produksi tanpa kepastian pasar hanya berisiko melahirkan produk yang kemudian berhenti di dapur.
Kepala Desa Muara Sindang Tengah, Syahriasittajri, juga menyampaikan pertanyaan yang sama kepada tim dari UIN Raden Fatah Palembang.
Bagaimana produk nira aren ini akan dipasarkan?
Pertanyaan itu sederhana, tetapi menjadi penentu keberlanjutan sebuah program.
Sebab banyak program pemberdayaan berhenti ketika pelatihan selesai. Masyarakat diajarkan membuat produk, diberi pengetahuan tentang pengemasan, bahkan diajak membentuk kelompok usaha. Tetapi setelah pendamping pergi, produk kehilangan jalur distribusinya.
Yang tersisa hanya alat produksi.dan cerita tentang pelatihan.
Kun menjawab keresahan itu dengan komitmen untuk tidak berhenti pada proses pengenalan produk.
Ia menyatakan kesiapan mencari mitra yang dapat bekerja sama untuk mendistribusikan nira aren ke daerah lain.
“Siap mencari mitra yang mau bekerja sama untuk mendistribusikan nira aren tersebut ke daerah-daerah lain,” katanya.
Ia mencontohkan kawasan Danau Ranau yang telah lebih dahulu mengembangkan potensi lokalnya.
Bagi Muara Sindang Tengah, contoh itu menjadi penting. Desa tidak harus menciptakan sesuatu yang sama sekali baru. Yang dibutuhkan adalah kemampuan membaca apa yang sudah tersedia di sekitar mereka.
Dan pohon aren adalah salah satunya.
Antara Kopi dan Aren
Muara Sindang Tengah tidak sedang diminta meninggalkan kopi.
Justru sebaliknya.
Pengembangan nira aren membuka cara pandang baru bahwa ekonomi desa tidak harus bergantung pada satu komoditas.
Ketika harga kopi berubah, masyarakat memiliki pilihan lain.
Ketika musim panen tidak sesuai harapan, ada sumber penghasilan tambahan.
Diversifikasi ekonomi menjadi penting terutama bagi masyarakat desa yang kehidupannya bergantung pada hasil alam.
Baca Juga:
- Baca BERIZIK, Membaca Kim Ji-Yeong, Bongkar Patriarki Korsel hingga Indonesia
- Sumsel Raih Financial Literacy Award 2026 lewat Sultan Muda
- Harga Beras Makin Mahal, Petani Kekeringan
Di tengah perkebunan kopi, pohon aren mungkin selama ini hanya berdiri sebagai bagian dari lanskap.
Tidak banyak yang melihatnya sebagai peluang.
Tidak banyak pula yang masih memiliki pengetahuan seperti Batin.
Padahal, ketika satu pengetahuan lokal berhenti diwariskan, yang hilang bukan hanya sebuah keterampilan.
Sebuah peluang ekonomi juga ikut hilang.
Karena itu, keberadaan Batin menjadi lebih dari sekadar cerita tentang seorang petani.
Ia adalah penghubung antara pengetahuan lama dan kemungkinan masa depan.
Tantangan berikutnya adalah memastikan program tidak berhenti ketika mahasiswa menyelesaikan masa pengabdian.
Kun menyadari persoalan tersebut.
Ia mengatakan program pengembangan nira aren di Muara Sindang Tengah akan tetap dipantau. Bersama tim, berencana melakukan kunjungan kembali untuk melihat perkembangan program yang telah dimulai.
Pendampingan menjadi penting karena membangun usaha masyarakat tidak bisa diselesaikan dalam satu kali pertemuan.
Masyarakat membutuhkan waktu.
Produk membutuhkan uji coba.
Pasar membutuhkan kepercayaan.
Dan usaha membutuhkan keberlanjutan.
Mungkin, keberhasilan program ini tidak bisa langsung diukur dari berapa banyak botol nira aren yang berhasil dijual.
Keberhasilan sebenarnya justru dimulai ketika masyarakat mulai kembali melihat pohon aren sebagai sesuatu yang berharga.
Ketika generasi muda mulai bertanya bagaimana cara mengambil nira.
Dan ketika warga mulai memiliki keberanian untuk mengatakan bahwa kopi tetap menjadi identitas mereka, tetapi bukan satu-satunya harapan ekonomi.
Di Muara Sindang Tengah, perubahan itu mungkin belum terlihat besar.
Namun, dari sana, sebuah harapan bisa tumbuh.
Seperti nira yang tidak keluar sekaligus dari bunga aren.
Ia membutuhkan proses.Digoyang berkali-kali. Dipersiapkan dengan sabar. Lalu menetes perlahan, satu demi satu.
Dan mungkin, begitulah masa depan ekonomi Muara Sindang Tengah sedang dimulai.(*)

