Ragam
Panen yang Tak Lagi Sama di Lingkar PLTU Keban Agung
SIANG itu, Senin, 27 Januari 2026 hujan baru saja berhenti, tapi awan hitam masih tampak. Di sela hamparan sawah, sekelompok mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang berjalan menyusuri pematang bersama tim Yayasan Anak Padi Lahat. Mereka tidak datang untuk menanam atau memanen. Mereka mendata kehilangan yang dialami petani di lingkar tambang.
Satu per satu lahan petani didatangi, petani ditemui dan diwawancarai.
Divisi Kampanye Yayasan Anak Padi Lahat, Melia, menyampaikan hasil survei yang dilakukan bersama mahasiswa tersebut pada akhir Januari. Sebanyak 17 petani di lingkar PLTU Keban Agung didata. Hasilnya menunjukkan pola yang sama, produksi panen menurun signifikan dalam satu dekade terakhir.
Baca Juga:
- Dari Keluarga Ulama, Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi Iran
- Jadwal Imsakiyah dan Berbuka Palembang, 12 Ramadan
- Simak 9 Film Indonesia Tayang Bioskop Maret 2026
Darmiana (53) berdiri di tepi ladangnya. Suaranya tenang, tetapi angka yang ia sebutkan tajam.
“Sebelum PLTU beroperasi, sekali musim panen bisa dapat 20 sampai 25 karung. Sekarang paling 10 sampai 15 karung,” ujarnya.
Artinya, dalam satu musim, ada selisih sekitar 10 karung yang hilang. Bagi petani dengan lahan rata-rata ½ hingga 1 hektare, kehilangan itu bukan sekadar angka statistik — melainkan beras di dapur, biaya sekolah anak, dan modal musim tanam berikutnya.
Dari 17 petani yang didata, sebagian besar mengelola lahan padi sebagai komoditas utama. Jagung, kacang-kacangan, dan sayur-sayuran menjadi tanaman pendamping. Pola tanam ini telah berlangsung jauh sebelum 2010 — sebelum pembangkit listrik tenaga uap berdiri dan beroperasi penuh.
Modal Besar, Hasil yang Menyusut
Pada awal musim tanam, setiap petani rata-rata mengeluarkan biaya produksi sekitar Rp1.000.000. Biaya tersebut mencakup pembelian bibit, pupuk, ongkos tenaga kerja, hingga operasional lainnya.
Modal dasar itu tidak berkurang. Bahkan dalam beberapa kasus meningkat karena kebutuhan pupuk tambahan. Namun hasil panen justru menyusut.

Dalam logika pertanian, ketika biaya tetap atau naik sementara hasil turun, margin keuntungan tergerus. Ketahanan ekonomi keluarga petani ikut melemah.
Dampak Lingkungan
Para petani menduga penurunan hasil tidak terjadi begitu saja. Mereka menyebut perubahan kualitas tanah dan air sebagai faktor yang mulai terasa setelah 2015.
Perubahan tersebut, diantaranya hujan yang terasa lebih “keras” dan merusak daun, dugaan limbah fly ash dan bottom ash (FABA) yang terbawa angin dan meresap ke tanah.
Secara ilmiah, fly ash dan bottom ash merupakan residu pembakaran batu bara yang dapat mengandung logam berat jika tidak dikelola dengan baik. Jika terakumulasi di tanah atau air, ada potensi memengaruhi kesuburan lahan.
Namun hingga kini, dugaan tersebut masih memerlukan kajian lingkungan yang komprehensif dan independen untuk memastikan hubungan kausal antara aktivitas industri dan penurunan produktivitas pertanian.
Dasar Awal
Yang membedakan survei ini adalah pendekatannya. Tim mahasiswa dan Yayasan Anak Padi tidak hanya mengumpulkan keterangan lisan, tetapi melakukan verifikasi langsung di lahan dan kebun.
Perbandingan dilakukan antara hasil panen sebelum 2010 dan setelah 2015. Data dihimpun dari pengalaman konkret petani, bukan asumsi.
Baca Juga:
- Ramadhan, Wujudkan Mudik Hepi 2026 Lewat Telkomsel Poin
- Iftar Buffet Arista Palembang, Hadirkan Alun-alun Nusantara!
- Berburu Takjil di Jalan Ratna, Palembang
Bagi Melia, data ini adalah dasar awal.
“Ini bukan kesimpulan akhir, tetapi pintu masuk untuk mendorong kajian lebih lanjut,” ujarnya.
Kajian tersebut diharapkan mencakup evaluasi kualitas tanah, air, serta dampak lingkungan yang mungkin berpengaruh terhadap produktivitas pertanian di Desa Telatang dan wilayah sekitar lingkar PLTU.
Di Desa Telatang, penurunan 10 karung bukan sekadar angka statistik dalam laporan survei. Ia adalah selisih yang terasa di dapur, di pasar, dan di ruang keluarga.
Petani tidak berbicara tentang teori energi atau kebijakan makro. Mereka berbicara tentang panen yang tak lagi sama.(ril)

