Patahkan Paradigma Perempuan Lemah

Mempunyai perusahaan yang mendapatkan sertifikat Global Women Owned Business, misi Ayu ingin menggerakkan perempuan. (ist/IG ayupuspitadewi)

AYU Puspita Dewi terlihat bersemangat sebagai interpreter atau juru bahasa dalam pelatihan jurnalistik ABCID di Palembang, pertengahan Agustus 2025. Ia tampil profesional membantu peserta pelatihan memahami materi yang disampaikan dalam bahasa Inggris oleh fasilitator asing.

Baginya, menjadi juru bahasa membuat hidup jauh lebih bermakna. Sebab, seorang juru bahasa harus menerjemahkan perkataan atau bahasa lisan secara langsung yang membutuhkan kefasihan berbicara. Pekerjaan ini bukan cuma karir tapi bagian dari hidup yang ia cintai.

Hanya saja, selama menjalankan profesi ini, Ayu mendapati paradigma yang sama bahwa perempuan khususnya perempuan Indonesia selalu dilihat lemah dan tidak bisa membela diri. Misalnya, saat ia mendampingi klien bule untuk wawancara BAP di kantor kepolisian. Klien laki-laki itu suka menggoda dan bicaranya vulgar karena dia perempuan. Dia meyakini akan berbeda jika kebalikannya, klien perempuan dan juru bahasanya laki-laki.

“Saat di kepolisian juga demikian, saya melihat hasil BAP tidak dituliskan dengan benar, lalu saya komplain. Mengingat, integritas saya sebagai intrepreter, maka ketika klien saya menjadi saksi atau korban, keterangannya di hadapan petugas BAP harus ditulis sesuai yang dia bicarakan, ini tanggung jawab hukum saya. Tapi karena saya perempuan, komplain itu tidak ditindaklanjuti,” ujar Ayu dibincangi di sela istirahat pelatihan.

Menurut Ayu, dalam profesi apapun perlu ada dukungan khusus bagi perempuan. Sebab, posisi power atau kuasa di Indonesia masih jadi kesenjangan antara laki-laki dan perempuan. Hal ini menjadi bahan refleksi baginya dalam mengelola Bali Interpreting Academy untuk membekali calon juru bahasa perempuan ketika ada indikasi pelecehan dalam kerjanya.

Ayu menegaskan, juru bahasa perempuan harus menjaga profesionalitas dengan meminta klien yang berupaya melakukan pelecehan untuk menghentikan aksinya. Calon juru bahasa bahkan bisa menolak mendampingi klien tersebut.

“Jangan kira sebagai perempuan, kita mau-mau saja ketika klien laki-laki tidak bisa mengontrol diri. Saya mendengar dari rekan-rekan intrepreter sendiri ternyata ada juga yang pernah punya pengalaman serupa. Sehingga saya katakan ke mereka agar jangan takut karena kita bekerja profesional. Berani bersuara, kita memang akan menghadapi lebih banyak tantangan dan ancaman,”

Perempuan Mau Perempuan Bisa

Begitupun sebagai pengusaha perempuan, Ayu akui persentasenya jauh dari pengusaha laki-laki yang bergerak di bidang yang sama. Perempuan tidak dilibatkan dalam lobi-lobi, negosiasi dengan klien cenderung didominasi laki-laki.

Karena itu, founder Bali Interpreting ini terus tunjukkan bahwa meski perempuan ada kualitas profesional dalam kerjanya. Meskipun jalannya lebih sulit, tapi akhirnya dirinya bisa bertumbuh di bidang interpreting.

“Mempunyai perusahaan yang mendapatkan sertifikat Global Women Owned Business, misi saya ingin menonjolkan kaum perempuan, menggerakkan perempuan. Staf perempuan bisa set up alat. Perusahaan saya juga berikan beasiswa dan magang untuk anak-anak perempuan,” ungkapnya.

“Ini kebanggaan bagi saya, karena perempuan perlu banyak dukungan di negara kita. Kalau perempuan mau, perempuan bisa melakukan itu. Jadi, kesempatan yang sama itu harus direbut.  Perempuan di Indonesia masih dianggap lebih rendah dari laki-laki.”

Dibincangi terpisah, Wira Santika dari Solidaritas Perempuan Palembang mengatakan, berbagai profesi di ranah publik yang bukan pekerjaan domestik memang selalu dianggap bukan pekerjaan perempuan. Sedari dulu perempuan hanya diajarkan pekerjaan rumah tangga. Sehingga ketika dewasa, kesempatan untuk berada di ranah publik tidak mendukungnya. “Inilah akibat budaya patriarki dan ini bukan hanya di Indonesia,” ulas Wira, belum lama ini.

Dia menjelaskan, perempuan selalu disubordinasi. Segala profesi selalu dihalangi kerja-kerja domestik bagi perempuan. Orang-orang di pemerintahan juga kerap menempatkan perempuan di pekerjaan yang tidak strategis. Apalagi jika perempuan itu berlatar belakang tidak dengan pendidikan formal, akan lebih diremehkan.

“Sulit mencari lingkungan yang tepat yang bisa menghargai dan tidak meragui kemampuan perempuan. Masih sedikit karena tidak ramah gender. Karena itu, perlu kesadaran dari perempuan sendiri harus diperkuat. Cerita Ayu yang sukses menerapkannya berarti dia paham potensinya sebagai perempuan,” kata Wira. (yulia savitri)

Editor: Redaksi Wongkito
Bagikan
Redaksi Wongkito

Redaksi Wongkito

Lihat semua artikel

Related Stories