Pentingnya Jurnalisme Konstruktif di Tengah Perubahan Iklim

Jurnalisme konstruktif dinilai lebih efektif dibandingkan hanya menangkal isu-isu disinformasi, termasuk yang berkaitan dengan isu lingkungan. (ist/SIEJ)

MINAHASA UTARA, WongKito.co - Indonesia saat ini lebih banyak merasakan dampak perubahan iklim. Hal ini disampaikan Advisor International Media Support (IMS), Henrik Grunnet saat menyampaikan materi pada workshop Debunking Climate Crisis Information: Constructive Journalism dan Al Fact-Checking Tool, pada ajang Green Press Community (GPC) 2026, di Hotel Sutan Raja, Minahasa Utara, Sulawesi Utara, Sabtu 7 Februari 2026.

Dalam pemaparannya, Henrik memberikan beberapa gambaran degradasi lingkungan yang terjadi di Indonesia saat ini. Ada pertambangan, pengelolaan sampah, deforestasi, hingga masalah sampah plastik. 

Kepada para jurnalis yang mengikuti workshop, Henrik mengingatkan, daripada bereaksi kepada informasi yang keliru, jurnalis lebih baik mengantisipasi dengan cara-cara yang logis dan lebih fokus kepada solusi. 

"Terkait jurnalisme iklim, bagaimana lebih kebutuhan pembaca kita. Dimana kita harus tahu tulisan kita itu pembacanya siapa dan informasi-informasi apa yang dibutuhkan oleh pembaca," ujar Henrik.

Selain itu, ia menyampaikan, jurnalisme konstruktif ini lebih efektif dibandingkan hanya menangkal isu-isu disinformasi. 

Sementara itu direktur eksekutif Indonesian Data Journalism Network (IDJN) Mawa Kresna memaparkan tools yang bisa digunakan oleh jurnalis yang fokusnya ke data. Meskipun banyak isu yang bisa dipakai. 

Kresna mengungkapkan terkait jurnalisme data. Kedepan bisa bekerjasama dengan teman-teman yang melakukan riset. "Terutama di isu lingkungan. Untuk menjadikan hasil risetnya sebagai pengetahuan,"ujarnya.

Dia menambahkan, saat ini IDJN mengelola sekitar 3000 data BPS. Dari data ini disimpan diserver database kemudian akan dipelajari oleh AI.

"Sehingga AI ketika kita tanya dia langsung tahu datanya ada di sini dan mengolahnya seperti ini," ujarnya.

Pada proses ini, pihaknya mentraining AI sebanyak 200 kali untuk mendapatkan akurasi.

"Jadi waktu uji coba kita coba sebanyak 10 kali ternyata jawaban AI masih salah. Kita coba 100 kali juga masih salah. Saat dicoba 200 kali lebih stabil jawabannya," ungkapnya saat menjelaskan tools di hadapan para peserta workshop.

Kalau misalnya datanya tidak ada. Dia akan memberitahukan datanya tidak ada. Kalau datanya ada dia bisa melampirkan data apa adanya.

Database kemudian masuklah ke dalam AI chatbox yang kemudian berinteraksi dengan jurnalis. Pihaknya juga berencana menggunakan tools ini untuk mengecek apakah ada hoaks terkait perubahan iklim, tentang isu lingkungan. 

Ia mencontohkan soal banjir di Jakarta yang disebut oleh Pramono Anung karena warganya buang sampah sembarangan ke sungai.

"Itu bisa jadi benar. Tapi tidak sepenuhnya benar. Seolah-olah buang sampah itu jadi penyebab banjir di Jakarta. Padahal lebih besar dari itu misalnya soal tata ruang,"katanya.

Dirinya berharap bagaimana bisa berkolaborasi dalam konteks menghadapi disinformasi. (*)

Editor: Redaksi Wongkito
Redaksi Wongkito

Redaksi Wongkito

Lihat semua artikel

Related Stories