Ragam
Prof Rhenald Kasali: Dunia Hadapi Triple Disruption
Ringkasan dengan Bantuan AI
Triple disruption menandai pergeseran besar dalam tatanan global, di mana teknologi, iklim, dan geopolitik saling berkelindan. Disrupsi perdagangan yang dipicu konflik seperti di Laut Hitam dan Selat Hormuz menunjukkan rapuhnya rantai pasok global. Pada saat yang sama, transformasi menuju era kuantum dan ancaman krisis iklim mempercepat perubahan model bisnis. Dalam konteks ini, strategi berbasis efisiensi tidak lagi memadai, digantikan oleh pendekatan resiliensi dan manajemen risiko.
PADA tayangan Youtube Prof Rhenald Kasali, Kamis (26/3/2026) berjudul "Godzilla El Nino sampai Global Trade Disruption, Selamat Tinggal Barang Murah!". Di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, banyak pihak melihatnya sekadar sebagai perang geopolitik biasa.
Namun Rhenald menjelaskan di balik itu, dunia sebenarnya sedang menghadapi guncangan yang jauh lebih kompleks, sebuah rangkaian disrupsi global yang saling terkait dan telah berlangsung sejak berabad-abad lalu.
"Fenomena ini dikenal sebagai global trade disruption, yang akarnya bisa ditelusuri hingga era Jalur Sutra," tegasnya. Sejak masa itu, perdagangan dunia tidak hanya ditentukan oleh komoditas, tetapi juga oleh jalur distribusi, teknologi, dan kekuatan politik yang menguasainya. Ketika jalur ini terganggu, perubahan besar tak terhindarkan.
Baca Juga:
- Penipuan: Tautan Pendaftaran Pencairan THR ASN 2026
- Traffic OPI Mall Palembang Naik Tajam, Ekonomi Berputar
- IHSG Hari Ini Ditutup Ambles Hampir 2 Persen
Kini, dunia tidak hanya menghadapi satu jenis disrupsi. Tahun ini, para pengamat menyebut adanya “triple disruption” yang terjadi secara bersamaan: disrupsi teknologi, disrupsi iklim, dan disrupsi perdagangan global.
Dampak terhadap Indonesia
Disrupsi pertama datang dari sektor teknologi. Dunia tengah bergerak dari era digital menuju era kuantum. Perkembangan dalam Quantum Computing menghadirkan kecepatan dan kompleksitas baru, tetapi juga ketidakpastian yang tinggi. Teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) dan drone bahkan telah digunakan dalam konflik modern, mengubah wajah peperangan menjadi semakin canggih dan sulit diprediksi.
Di saat yang sama, ia menjelaskan publik global kini didominasi oleh emosi. Informasi negatif menyebar lebih cepat dibandingkan fakta yang terverifikasi, memperkuat fenomena yang disebut sebagai “the death of expertise”, ketika opini kerap mengalahkan pengetahuan berbasis data.
Disrupsi kedua berasal dari perubahan iklim. Indonesia diperkirakan akan memasuki fase El Niño setelah Idul Fitri tahun ini. Fenomena ini berpotensi memicu kekeringan panjang, krisis air, kebakaran hutan, hingga lonjakan harga pangan. Pengalaman krisis 1998 menjadi pengingat bahwa gangguan iklim dapat berujung pada tekanan ekonomi yang serius.
Sementara itu, disrupsi ketiga terjadi pada perdagangan global. Blokade energi di Selat Hormuz jalur yang memasok sekitar 20 persen energi dunia menjadi contoh nyata bagaimana konflik dapat menghambat distribusi vital.
Sebelumnya, hal serupa terjadi di Laut Hitam akibat perang Rusia-Ukraina, yang mengganggu pasokan gandum dan pupuk global.
Dampaknya terasa hingga Indonesia. Harga komoditas melonjak, distribusi terganggu, bahkan negara produsen seperti Indonesia pun ikut merasakan tekanan akibat rantai pasok global yang tersendat.
Sejarah menunjukkan, setiap disrupsi perdagangan selalu memicu perubahan besar. Ketika Jalur Sutra runtuh akibat konflik, bangsa Eropa memulai era eksplorasi. Ketika mesin uap ditemukan, Inggris mengubah peta industri dunia. Dan saat Amerika Serikat mengambil alih dominasi global, sistem keuangan dan perdagangan internasional ikut bergeser.
Bertahan dengan Resiliensi
Kini, perubahan serupa kembali terjadi. Dunia bergerak dari prinsip efisiensi menuju resiliensi. Jika sebelumnya perusahaan berfokus pada biaya murah dengan satu sumber pasokan, kini mereka mulai beralih ke multi-sumber, regionalisasi rantai pasok, dan penyimpanan strategis untuk mengantisipasi gangguan.
Baca Juga:
- Arus Mudik Jalan Lintas Tengah Sumatera Padat, Macet hingga 1 Jam
- Pertamina Tambah 3,2 Juta Tabung LPG di Regional Sumbagut
- H-1 Lebaran: Daging Sapi di Pagar Alam Rp140 Ribu/kg
Bagi pelaku usaha, termasuk UMKM, kondisi ini menuntut perubahan cara berpikir. Ketidakpastian bukan lagi risiko, melainkan keniscayaan yang harus dihadapi. Kemampuan beradaptasi, memperluas pasar, serta mengelola risiko menjadi kunci untuk bertahan.
Tokoh manajemen Peter Drucker pernah mengingatkan bahwa bahaya terbesar dalam masa turbulensi bukanlah guncangan itu sendiri, melainkan cara berpikir lama yang masih digunakan untuk menghadapi situasi baru.
Di tengah triple disruption yang sedang berlangsung, pesan itu menjadi semakin relevan. Dunia memang sedang berubah cepat dan hanya mereka yang mampu menyesuaikan diri yang akan tetap bertahan.(*)

