Review Film Pelangi di Mars, Jual Visual Saja

Review Film Pelangi di Mars, Jual Visual Saja (Ist)

TAHUN lalu ketika film animasi Jumbo menjadi satu-satunya film animasi Indonesia yang mendapat sambutan paling meriah dari masyarakat berbagai kalangan, tak hanya anak-anak tetapi juga orang dewasa dan dibanjiri pujian dari berbagai platform. Namun, tidak demikian dengan film yang rilis pada 18 Maret 2026, Pelangi di Mars.

Film Pelangi di Mars awalnya mendapatkan pujian baik visual, editing, efek visual, dan sebagainya mengundang semakin banyak orang untuk tertarik melirik. Berawal dari lirikan, muncullah ekspektasi. Lalu apa yang akan terjadi jika ekspektasi melebur dengan realita? Miris, sebuah karya yang digadang-gadang akan menjadi revolutionary di perfilman Indonesia, sesuatu yang dianggap never-been-done-before, kenyataanya hanya cangkang kosong dibalut dengan pernak pernik mahal. Hanya kaya visual, namun miskin kedalaman.

Visual sudah manis, dibalut efek-efek gagah buat penonton makin tergangah, musik juga masih masuk kategori terselamatkan. Jika masih ada aspek yang pantas dipuji, itu harusnya menjadi nilai plus tersendiri, meskipun kesannya seperti mencari berlian di tumpukan krikil. Usaha yang tidak sebentar dari berbagai pihak yang terlibat selama bertahun-tahun masih berhak mendapatkan apresiasi. Namun jika kritikan yang diberikan bisa dijadikan bahkan evaluasi maka itu lebih baik lagi.

Baca Juga:


Pelangi di Mars adalah film dengan genre animasi, sci-fi, dan drama. Bercerita tentang petualangan luar angkasa tokoh utama Pelangi yang merupakan anak pertama yang lahir di Mars. Di tengah kekacauan bumi yang kekurangan sumber air bersih, mengharuskan Pelangi untuk berpetualang dengan teman-teman robotnya untuk mencari batu mineral bernama Zeliot Omega yang konon katanya bisa menjadi sumber air bersih.

Sejak pertama kali penayangan serentak di 18 Maret lalu, film ini sudah ramai menimbulkan kritikan di berbagai platform sosial media, sepert tiktok, X, bahkan youtube, hingga mendapatkan rating rendah di berbagai platform review film. Para kritikus film dan penggiat sinema membombardir film ini dengan berbagai macam pendapat tak sedap.

Dari berbagai runtutan kekurangan dari film ini, jelas penulisan ceritanya yang paling ramai diserang. Tidak tanggung-tanggung, bahkan ada yang memasukkan film ini ke dalam kategori film sampah. Bagaimana tidak jika yang diprioritaskan itu safe boat sedangkan main ship-Nya dibiarkan tenggelam. Inilah yang terjadi jika menomorduakan aspek yang menjadi fondasi dalam sinema yaitu penulisan cerita, pendalaman karakter, dan akting. Padahal aspek-aspek ini  yang harusnya diberikan perhatian lebih banyak.

Show don’t tell: Menunjukan jangan memberitahu

Salah satu karakteristik penulisan yang buruk adalah ketika segalanya harus diberitahukan kepada audiens, menggunakan penjelasan cuma-cuma melalui dialog atau narasi tanpa membiarkan audiens larut dan mengintrepetasikanya sendiri, dan film ini adalah contoh gamblang dari hal itu.

Untuk sebuah film yang menargetkan audiens anak-anak, film ini terbilang sangat kuno dalam penyajian dialog dan unsur komedinya. Terdapat banyak istilah kekinian maupun jadul diselipkan sana sini baik dalam dialog maupun candaan para karakternya, menimbulkan kesan dangkal yang tak terelakkan. Daripada menulis dialog-dialog yang seperti ini, kenapa tidak investasikan kreativitas itu untuk menulis rangkaian kalimat yang lebih bermakna? Sesuatu yang anak kecil bisa pahami dan bukan berasal dari periode ketika mereka sendiri belum lahir.

Kurangnya kedalaman karakter mulai dari penulisan karakter Pelangi yang dibuat tidak konsisten, begitupun penulisan karakter-karakter  lain sebenarnya tidak ada bedanya. Seperti sembarangan memasukan karakter tanpa ada maksud karakter ini tujuannya apa. Sehingga karakter-karakter ini ketika dibuat komikal fungsinya hanya berisik saja. Begitupun karakter penjahat kartunis tapi tidak diimbangi dengan penulisan yang bagus, kesannya minta ditertawakan. Semua kombinasi ini membuat film ini sulit untuk dianggap serius.

Mau bersanding dengan film luar, tetapi kedalaman cerita masih seadanya. Iya sih visualnya bagus, tapi kalau penopangnya lemah ya tetap tidak terselamatkan. Asal jadi, asal mau yang menerima saja.

Menyalahkan kemampuan berpikir anak-anak, bukan kurangnya kompetensi dalam menciptakan konten berkualitas untuk anak-anak. Buktinya banyak film untuk anak-anak diluaran sana yang tetap cocok ditonton anak-anak yang termasuk berat dan realistik tetapi berhasil dikemas target audiensnya.

Libatkan Buzzer

Isu penggunaan buzzer pun ramai. Hal ini, tentunya tidak melulu sesuatu yang kontra jika konten dari film tersebut bisa memberikan dampak postif atau memang “pantas” untuk mendapatkan pujian. Namun di lain sisi jika film yang dibuat tersebut mendapatkan lebih banyak kritikan atau review negatif dari pada positif maka harus dipertanyakan juga kualitas dari film ini.

Beberapa kritikus film Indonesia juga mengeklaim bahwa budaya industri perfilman Indonesia yang anti kritik merupakan salah satu faktor penyebab sulit berkembangnya industri perfilman Indonesia yang semakin nyaman menyajikan konten pasaran yang representatif, menjual produk yang sama dengan bungkus berbeda, lebih mementingkan profit.

Baca Juga:

Hal ini berimbas pada kualitas perfilman Indonesia yang lebih mementingkan aspek-aspek primer seperti visual, sinematografi, audio, dan lain sebagainya, dan mengesampingkan aspek paling penting, seperti alur cerita, penulisan baik dialog maupun pendalaman karakter, dan akting, itu masih dinomorduakan. Meskipun tidak semuanya, tetapi setiap tahun itu. Mau menuntut karya sempurna itu berlebihan, di setiap karya pasti ada kekurangan, tetapi apakah meminta hal paling dasar sama dengan menuntut sempura?

Imbas dari banyaknya sentimen negatif  tersebut berpengaruh pada jumlah penonton, terhitung sejak pertama kali tayang hingga tulisan ini dibuat, film ini hanya mampu meraup sekitar 223.981 penonton menurut data yang diambil dari Cinepoint. Jumlah ini menurun drastis sebanyak 78% menjadikannya angka penurunan penonton tertinggi di antara film-film lainnya yang sedang tayang.(Magang/Siti Sundari)


Related Stories