Ragam
Simak Tips Cari Saham Saat MSCI dan Moody’s Bebani IHSG
JAKARTA, – Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG mencatatkan sejarah kelam pada awal tahun 2026. Hingga penutupan perdagangan Jumat, 6 Februari 2026 lalu, pasar saham domestik anjlok tajam sebesar 8,23% secara year to date menjadi indeks dengan kinerja terburuk di dunia.
Penurunan drastis IHSG ini dipicu oleh sentimen negatif ganda dari MSCI dan Moody’s. Dana asing tercatat keluar hingga Rp11,01 triliun, menandakan hilangnya kepercayaan investor global terhadap prospek pertumbuhan pasar modal Indonesia di awal tahun 2026 ini.
Fenomena awal 2026 ini menjadi pelajaran penting bagi investor domestik tentang dinamika pasar global. Kita belajar bahwa transparansi dan stabilitas politik sangat mempengaruhi gerak IHSG, bukan hanya sekadar kinerja fundamental emiten yang tercatat di bursa efek.
Baca juga:
- Begini Cara Buat Roti Tawar
- Roehana Koeddoes jadi Spirit Jurnalis Perempuan
- Cek! Ini Peluang dan Gaji Bekerja di Eropa Timur
1. Kalah Telak di Asia
Berdasarkan data statistik BEI, penurunan 8,23% menempatkan Indonesia di urutan keenam di kawasan Asia Tenggara. Artinya, kinerja pasar kita tertinggal jauh dibandingkan lima negara tetangga regional lainnya yang justru mampu tumbuh lebih positif di awal tahun ini.
Cakupannya semakin luas, IHSG juga terpuruk di peringkat ke-13 di kawasan Asia Pasifik. Bahkan secara global, indeks kita menempati posisi ke-35 alias juru kunci dunia. Kinerja ini sangat kontras dengan stabilitas bursa global lainnya saat ini.
Kondisi ini menjadi sinyal merah bagi investor bahwa risiko domestik sedang tinggi. Ketergantungan pada pasar Indonesia saja sangat berbahaya ketika negara lain di Asia Pasifik justru memberikan imbal hasil yang jauh lebih menarik dan stabil bagi portofolio.
2. Efek Si Penentu Indeks
Tekanan jual bermula dari MSCI (Morgan Stanley Capital International), lembaga penyedia indeks saham yang menjadi acuan utama investor kakap dunia. Keputusan mereka membekukan penilaian free float membuat bobot saham dalam IHSG tidak bisa bertambah untuk sementara waktu.
Kebijakan ini sangat krusial karena indeks MSCI ibarat "kitab suci" bagi dana asing dalam menentukan alokasi investasi antar negara. Langkah restriktif ini secara otomatis menutup peluang masuknya dana pasif baru ke saham unggulan IHSG dari investor institusi.
Edukasi penting di sini adalah pemahaman likuiditas IHSG yang bergantung pada stempel validasi dari lembaga indeks raksasa seperti MSCI ini. Tanpa restu mereka, pasar saham kita kesulitan menarik minat dana asing jangka panjang yang bersifat pasif di awal tahun.
3. Vonis Si Penilai Utang
Sentimen IHSG makin memburuk saat Moody’s memangkas outlook utang Indonesia. Moody’s adalah agen pemeringkat kredit global yang menilai seberapa aman surat utang suatu negara untuk dikoleksi investor, sehingga ucapannya sangat didengar oleh pasar keuangan internasional saat ini.
Keputusan mengubah status dari stabil menjadi negatif didasari kekhawatiran stabilitas fiskal dan tata kelola pemerintahan baru tahun 2026 ini. Penurunan outlook ini berdampak langsung pada kenaikan premi risiko atau biaya yang harus dibayar untuk memegang aset berisiko domestik.
Investor harus paham bahwa credit rating dari Moody's adalah fondasi utama valuasi aset keuangan di suatu negara. Jika fondasi makro ini goyah, maka seluruh bangunan harga saham di bursa akan ikut terguncang mencari keseimbangan valuasi yang baru lagi.
4. Jangan Panik: Pasar Sudah Kebal?
Analis Sucor Sekuritas Reyhan Pratama menilai perubahan outlook ini meningkatkan risiko bagi IHSG. Namun, ia optimis dampaknya terbatas saja karena, "Sebagian sentimen sudah lebih dulu terdiskon sejak isu MSCI sebelumnya, sehingga banyak risiko sudah ter-price in," jelasnya dalam keterangannya pada Minggu, 8 Februari 2026.
Reyhan menambahkan bahwa respons regulator sudah menunjukkan arah kebijakan perbaikan positif bagi IHSG. "Pasar tinggal menunggu implementasi dan konsistensi agar dampaknya terasa pada likuiditas dan kepercayaan," ujarnya menekankan pentingnya aksi nyata dari regulator tahun 2026 ini.
Konsep priced in ini mengajarkan investor untuk tidak panik berlebihan terhadap berita buruk. Seringkali IHSG sudah bereaksi lebih dulu sebelum berita keluar, sehingga potensi penurunan lanjutan pasca 6 Februari 2026 menjadi relatif lebih terbatas lagi nanti.
5. Anomali Aneh: Asing Malah Borong
Secara teknikal, Reyhan memproyeksikan IHSG akan berkonsolidasi di area support 7.915. Peluang rebound menutup gap masih ada, namun investor perlu waspada jika indeks kembali tertekan hingga menembus ke bawah level psikologis 7.700 dalam waktu dekat ini.
Menariknya, di tengah kepanikan pasar Jumat 6 Februari 2026, asing justru mencatatkan net buy Rp944 miliar. Akumulasi ini terjadi setelah tiga hari berturut-turut asing jualan, menandakan adanya minat beli selektif di IHSG saat diskon saham besar.
Fenomena ini mengajarkan strategi contrarian memanfaatkan momentum kepanikan di pasar saham domestik. Membeli saham fundamental bagus saat orang lain takut atau fear seringkali menjadi strategi investasi yang paling menguntungkan dalam jangka panjang di bursa saham IHSG.
6. Daftar Belanja Asing (Sepekan)
Sementara data perdagangan mingguan asing mencatatkan net sell sebesar Rp3,61 triliun, namun ada saham-saham spesifik yang justru diakumulasi secara masif. Ini adalah penerapan strategi stock picking selektif di mana investor kakap tetap membeli aset berkualitas yang sedang terdiskon.
Data sepekan terakhir menunjukkan BBCA menjadi favorit utama dengan net buy Rp656,85 miliar. Saham perbankan lain seperti BBRI juga diborong Rp189,23 miliar, serta BBTN yang dikoleksi asing sebesar Rp79,37 miliar.
Selain bank, asing juga masuk ke sektor lain seperti BULL senilai Rp271,42 miliar. Saham telekomunikasi EXCL dibeli Rp236,55 miliar, diikuti energi terbarukan BREN Rp133,93 miliar, dan mineral BRMS Rp133,22 miliar.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Alvin Bagaskara pada 09 Feb 2026

