Sungai Kungkilan Kembali Meluapkan Air Campur Lumpur Rendam Pekarangan Rumah

Salah satu kawasan yang terendam air campur lumpur di Desa Muaramaung

LAHAT, WongKito.co - Hujan deras yang terjadi di Desa Muaramaung Kabupaten Lahat, Selasa (20/10) dini hari membuat perkampungan warga yang dikeliling empat perusahaan tambang batubara tersebut kembali terendam air campur lumpur.

Salah seorang warga Desa Muaramaung, Sumhayana (48) mengatakan terkejut saat hendak menghidupkan mesin pompa air melihat air sudah sampai ke tangga rumah.

"Saya terkejut dan trauma melihat air campur lumpur rendam pekarangan rumah hingga dua anak tangga," katanya, Selasa (20/10).

Rasa trauma tentunya sangat beralasan bagi warga Desa Muaramaung, Sumhayana mengungkapkan pada akhir tahun 2019 desa digenangi air campur lumpur hingga kini ganti rugi belum dibayarkan empat perusahaan tambang yang mengeksploitasi batubara dari kawasan hutan dan kebun.

"Bahkan saya sempat panik, karena air terus naik meskipun akhirnya tidak sampai mengenangi lantai rumah panggungnya," ujar dia.

Dengan kembali terjadi luapan lumpur tersebut, warga desa setempat dipastikan akan mengalami banyak kerugian bukan hanya tumpukan lumpur yang sulit dibersihkan.

Tanaman di perkarangan dan kebun pun tidak bisa tumbuh lagi. "Saya baru sebulan lalu menanam pohon pisang, kalau sudah kena lumpur tak akan tumbuh dengan baik," kata Sum yang rumahnya berjarak sekitar 25 meter dari Sungai Kungkilan.

Rusdi pemuda Desa Muaramaung mengungkapkan aktivitas pertambangan batubara di hulu sungai membuat bentang sungai menjadi rusak. Begitu juga vegetasi tepi sungai rusak akibat eksploitasi batubara yang dilakukan oleh beberapa perusahanan di hulu.

Berdasarkan hasil ekspedisi Sungai Kungkilan, yang dilakukan oleh tim Gerakkan Pemuda Peduli Ayik Kungkilan (GPPAK) tahun lalu. Dari hulu sungai tepatnya di pertalangan petani “Macang Manis” yang berjarak sekitar 3 kilometer dari sumber mata air Sungai Kungkilan ditemukan dalam keadaan bersih dan belum tercemar, kata dia.

Namun, dia menambahkan setelah tim melanjutkan ke hilir sungai, sekitar 2 kilometer ditemukan kondisi sungai mendangkal dan berlumpur karena tepat di atas bibir sungai terdapat tumpukan tanah galian (over burden), di lokasi PT. Karya Kasih Agung (KKA) sepanjang 500 meter.

Selanjutnya ditemukan Sungai Kungkilan masuk dalam lahan eksploitasi batu bara di lokasi PT. Bara Alam Utama (BAU) sepanjang tidak kurang 2 kilometer di titik pertama dan 600 meter di titik kedua. Disini tim juga menemukan badan sungai dipindahkan, tim menduga pemindahan badan sungai untuk kepentingan eksploitasi batubara sepanjang tidak kurang 500 meter.

Selain itu, ada sebuah saluran air dari kolam pengendapan lumpur yang langsung di buang ke sungai. PT. Bara Alam Utama (BAU), memiliki IuP seluas 799,6 hektare, tambah dia.

Ekspedisi pun berlanjut dan tim menemukan beberapa parit besar, yang tim duga adalah patahan atau longsornya disposal yang ketika hujan tanah tersebut masuk ke sungai sehingga membuat aliran sungai mendangkal dan berlumpur, serta tidak kurang sepanjang 3 kilometer bibir sungai di jadikan tempat menumpuk tanah galian(overburden) oleh PT. Muara Alam Sejahtera ( MAS). Perusahaan ini telah beberapa kali memindahkan badan sungai akibat dari longsornya disposal yang menutupi aliran Sungai Kungkilan.

Kemudian tim juga menemukan beberapa kolam pengendapan lumpur yang langsung ke sungai. PT. Muara Alam Sejahtera (MAS), memiliki IuP seluas 2.821 hektare. Karena itu, Rusdi menjelaskan secara spesifik ekspedisi menemukan penyebab rusaknya Sungai Kungkilan sebagai berikut: perubahan warna air ketika musim kemarau air berwarna hitam kecoklatan berbau dan debit airnya menjadi tidak stabil. Ketika musim hujan debit air lebih besar dan banyak membawa lumpur.

Terjadi juga pendangkalan Sungai Kungkilan akibat lumpur yang terbawa arus pembuangan air Kolam Pengendapan Lumpur (KPL). Serta beberapa patahan disposal perusahaan tambang batu bara yang langsung diatas bibir sungai.

Pemindahan badan Sungai Kungkilan yang masuk dalam area eksploitasi perusahaan tambang batubara, serta pemindahan badan sungai Kungkilan akibat pelebaran area disposal perusahaan tambang batubara.

Lalu penambangan batubara di badan sungai menurunkan kuantitas biota Sungai Kungkilan dan rusaknya vegetasi sungai.

Bagikan

Related Stories