Sungai Musi Hari Ini: Kualitas Air Menurun, Ancaman Mikroplastik, dan Pencemaran

Diskusi Sungai Musi yang digelar Ruang Benah Palembang di Kopi 16 Pro, (26/7/2026). (wongkito.co/yulia savitri)

PALEMBANG, WongKito.co - Peringatan Hari Sungai Nasional yang jatuh pada 27 Juli 2026 patut menjadi momentum bagi Kota Palembang untuk berkomitmen menyelamatkan Sungai Musi. Pasalnya, kondisi kualitas air, masalah sanitasi di tepian sungai, dan ancaman mikroplastik dinilai sudah mengkhawatirkan. Hal ini mengemuka dalam diskusi yang digelar Ruang Benah Palembang di Kopi 16 Pro, Minggu (26/7/26). 

Hadir dalam kesempatan tersebut, Direktur Eksekutif Ecological Observation and Wetland (Ecoton) Prigi Arisandi secara daring, Tokoh Masyarakat Kampung Perigi Mang Ifan, dan Akademisi Kesehatan Lingkungan Universitas Sriwijaya (Unsri) Prof Yuanita Windusari. Sementara Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumsel berhalangan hadir. 

Dalam paparannya, Direktur Eksekutif Ecoton Prigi Arisandi menekankan, sungai mempunyai hak-hak dasar seperti mengalir secara alami, menjalankan fungsi ekologisnya, bebas dari pencemaran, terhubung dengan sistem air tanah yang sehat. Adapula hak atas keanekaragaman hayati, dipulihkan dan direstorasi, serta tata kelola yang baik dari hulu hingga hilirnya.

Namun, berdasarkan hasil kajian ekologi Ecoton dalam Ekspedisi Sungai Nusantara Tahun 2022 diketahui mikroplastik telah meracuni sungai-sungai di Indonesia. Termasuk Sungai Musi yang tercatat memiliki konsentrasi mikroplastik yang cukup tinggi. Karena itu, menurutnya sangat perlu mendorong masyarakat untuk mengurangi pemakaian plastik dan membuang sampah serta limbah ke sungai.

"Kami mendapati banyaknya sampah di kawasan Sungai Musi dari arah Kampung Al Munawar sampai Jembatan Ampera. Hal ini memang berkaitan dengan kebiasaan masyarakat," jelasnya. “Karena itu, mari selamatkan Sungai Musi sebelum terlambat,” tegas Prigi.

Sementara itu, Tokoh Masyarakat Kampung Perigi Mang Ifan menyatakan sedih melihat kondisi Sungai Musi saat ini. Perubahan air Musi menjadi keruh dimulai pada 1990-an sejak beroperasinya industri tambang dan pengerukan pasir di bagian hulu, terutama di kawasan Sungai Lematang. 

Dulu, ia bercerita, air Musi sangat bening dan mudah untuk memancing, semua jenis ikan pun bisa didapatkan. “Bagian bawah rumah panggung kami di tepian sungai dulu sering terlihat ikan loncat, sekarang sudah jarang karena sudah tercemar sampah dan limbah,” tuturnya.

Ifan mengingatkan, sungai adalah nadi kehidupan, karena itu sepatutnya Pemerintah Kota Palembang memperhatikan bahwa limbah industri sepatutnya tidak lagi dibuang ke sungai, termasuk limbah sanitasi rumah tangga. Dia yakin, apabila nilai APBD besar tentu mampu untuk pembersihan sungai. 

“Minimal jadwal pengambilan sampah di pemukiman tepian sungai bisa dipercepat, karena mengganggu masyarakat,” imbuhnya.

Indikasi Pendangkalan Sungai

Rumah rakit di Sungai Musi tak jauh dari Jembatan Ampera. (wongkito.co/yulia savitri)

Akademisi Kesehatan Lingkungan FKM Unsri, Prof Yuanita Windusari membenarkan, ada perubahan kondisi Sungai Musi saat ini dibandingkan tahun 1990-an. Dapat terlihat dari warna sungai yang berwarna cokelat susu. Memburuknya kondisi Sungai Musi ini menjadi indikasi adanya pendangkalan sungai akibat pencemaran dari aktivitas pengerukan pasir dan tambang di kawasan hulu.

Adapun kualitas air Sungai Musi diketahui sudah mengalami penurunan. Parameternya ditinjau dari tingkat keasaman (pH rendah) dan basa (pH tinggi) air sungai. Yuanita menyebutkan, hasil penelitian pihaknya pada 2026 diketahui baku mutu pH air Musi sudah di bawah angka 6, dimana air normal atau netral berada di angka 7. Sedangkan pH tahun 2025 tercatat di angka 8.

“Artinya pH air Sungai Musi ini semakin lama semakin asam. Kandungan asam ini berkaitan dengan aktivitas transportasi kapal hingga cafe di pinggir Sungai Musi, yang meningkatkan kandungan minyak dan lemak di perairan Sungai Musi,” terang dia.

Begitu juga dengan kandungan logam di Sungai Musi terpantau semakin tinggi. Sepanjang 2022-2026, tingkat kekeruhan cenderung naik. Logam ini indikasinya karena banyak sampah berkarat. “Logam itu bersifat toksikan. Kalau semakin tinggi kandungan logam tentu dapat memberi dampak buruk bagi kualitas air sungai,” jelasnya.

Menurut Yuanita, fasilitas publik perlu diperbaiki, terutama untuk sanitasi dengan jamban sehat, mengingat masih ada masyarakat di tepian Sungai Musi yang BAB ke sungai. Perlu juga ada kebijakan pemilahan sampah, karena Sungai Musi menjadi muara akhir. Menurutnya, jika ada komitmen Pemerintah Kota untuk menjaga sungai, bukan tidak mungkin Sungai Musi ke depan dapat bersih. (yulia savitri)

Editor: Redaksi Wongkito
Redaksi Wongkito

Redaksi Wongkito

Lihat semua artikel

Related Stories