BucuKito
Tinggal 4 Unit, Cerita Amir Pertahankan Rumah Rakit (Bag 2)
SEIRING dengan perubahan zaman, rumah rakit satu per satu menghilang, hingga kini hanya empat unit rumah yang masih bertahan berdekatan di RT 03, Tuan Kentang, Kota Palembang. Salah satunya rumah rakit milik, Amir Hamzah (54) yang masih menjadi tempat tinggal di tepi Sungai Ogan Kertapati, Palembang, Sumatera Selatan.
Amir bercerita, pada tahun 2000-an setelah menikah Ia dan istri memilih tinggal di rumah rakit tersebut. Rumah itu mengapung di air sungai tanpa penyangga tiang sama sekali. Seluruh bangunan hanya bertumpu pada bambu dan tali tambat.
"Awalnya, belum terbiasa tinggal di rumah rakit, kadang mesti ke darat dulu. Memaksakan tetap di rumah rakit yang bergoyang-goyang, membuat pusing, mual jika tidak terbiasa," kata Amir, Sabtu (14/02/2026).
Baca Juga:
- Jadwal Berbuka Puasa dan Imsakiyah Palembang, 5 Ramadan
- Kia Sonet, SUV Urban dengan Fitur Pintar & Tangguh
- Cek 7 Lagu ZEROBASEONE yang Wajib Masuk Playlist Kamu
Empat rumah rakit yang masih bertahan, ialah satu berada di samping rumahnya milik sepupu istrinya, dua di belakang milik orang tua dan adik dari istrinya juga. Empat rumah itu dalam satu lokasi yang berdekatan membentuk lingkaran kecil kehidupan yang tersisa di atas air.
Air menjadi hal utama untuk semua kebutuhan hidup. Mencuci, memasak, membersihkan rumah semua dibutuhkan Amir dengan air sungai. Namun, air juga yang kerap membawa ancaman.
Ia mengungkapkan, ketika pasang besar, air bisa setinggi lutut orang dewasa. Amir kesulitan keluar rumah, apalagi ketika arus deras.
"Desember hingga Januari kemarin, air pasang tinggi, tetapi sekarang sudah surut. Kadang juga banjir tahunan yang terjadi lima tahun sekali, kalau yang ini kecil hanya setahun sekali," ucap Amir.

Tak hanya itu, Menurut Amir ancaman terbesar datang dari angin. Angin deras kerap membuat rumah bergoyang. Talinya sempat putus, penyangga patah, dan rumah sedikit bergeser dari tempatnya.
"Angin deras yang besar, sejenis badai tapi badai kecil, masih bisa untuk diatasi," ungkap Amir.
Andalkan Bambu
Bambu yang menjadi penopang memiliki batas masa. Normalnya dua hingga tiga tahun. Jika sering terendam pasang, bisa bertahan sedikit lebih lama. Namun cepat atau lambat, bambu akan rapuh dan harus diganti. Mengganti seluruh rakitan membutuhkan biaya besar.
"Satu bambu besar seharga Rp40.000, untuk rumah rakit membutuhkan 30 sampai 50 batang bambu setiap pergantian masa bambu selama satu tahun," jelas Dani Haryanto (46) penjual bambu.
Baca Juga:
- Hoaks: Lowongan Kerja Dapur MBG
- Catat! Syarat Mudik Gratis Lebaran 2026 Bersama KA Palembang
- Hoaks: Lowongan Kerja PT PLN, Cek Faktanya
Oleh karena itu, biasanya pergantian dilakukan sacara bertahap. Amir menambah satu per satu batang bambu diganti ketika rumah mulai terasa tenggelam, dan mengikat ulang tali ketika arus sungai makin deras.
Namun kondisi tersebut akan berubah ketika angin mereda dan air kembali surut, ketegangan perlahan mengendur. Rumah rakit terus hidup mengikuti arus, pasang, dan usia masa bambu yang terus berjalan.(Magang/Manda Dwi Lestari)

