GayaKito
Urban Farming Jadi Strategi Pangan di Tengah Perubahan Iklim
JAKARTA, WongKito.co – Bukan rahasia lagi bahwa kekhawatiran tentang perubahan iklim mendorong berbagai industri untuk mengevaluasi kembali cara kerja mereka, dan pertanian pun tidak terkecuali.
Dengan upaya pengiriman dan transportasi global yang berdampak besar pada jejak karbon keseluruhan dari makanan yang kita konsumsi, masuk akal untuk mendorong pencarian cara-cara inovatif untuk menanam lebih banyak makanan kita di dekat daerah perkotaan.
Mungkin itu lebih mudah diucapkan daripada dilakukan, tetapi tantangan inilah yang menjadi akar dari praktik pertanian perkotaan yang berkembang.
Jika kamu tinggal di kota, kemungkinan besar kamu pernah mendengar tentang urban farming, baik dalam percakapan sehari-hari maupun dalam pertemuan komunitas. Lahan-lahan kecil ini, meskipun lebih luas dari sekadar kebun rumah, kini menjadi cara populer bagi komunitas untuk menyediakan sayur-mayur segar, telur, dan daging bagi penduduk sekitarnya.
Apa Itu Urban Farming?

Dilansir dari unity.edu, urban farming adalah praktik menanam tanaman, memelihara ternak, atau memproduksi jenis makanan lain di lingkungan perkotaan. Meski menanam atau beternak di luar lahan pertanian tradisional terdengar seperti hal baru, pertanian perkotaan sebenarnya memiliki sejarah panjang.
Penduduk kota di Mesopotamia kuno sudah menyisihkan lahan untuk bercocok tanam, dan pada masa Perang Dunia II, victory garden menjadi pemandangan umum di kota-kota. Belakangan ini, urban farming menjadi topik penting bagi para pegiat keberlanjutan pertanian dan keadilan sosial, karena dapat menjadi sarana untuk menciptakan perubahan positif.
Lalu, bagaimana cara urban farming berjalan? Wajar jika muncul pertanyaan tentang bagaimana pertanian bisa berkembang di tengah kota yang dipenuhi beton dan besi. Meskipun ada tantangan praktis yang harus dihadapi, urban farming tetap bisa ditemukan di lokasi-lokasi dengan potensi yang belum dimanfaatkan.
Misalnya, semakin banyak bangunan yang dirancang dengan infrastruktur untuk mendukung taman komunitas di atap. Praktik lain, seperti pertanian vertikal, dapat mengubah ruang perkotaan yang ada menjadi pusat produksi pertanian yang padat.
Dilansir dari The Spruce Eats, tidak semua urban farming harus berada di halaman rumah pemiliknya, beberapa petani kota menyewa lahan di halaman orang lain, memanfaatkan atap gedung, atau bahkan bertani di dalam ruangan.
Berbeda dengan kebun pribadi, urban farming menanam untuk memenuhi kebutuhan komunitas, dan terkadang menjual hasilnya dengan keuntungan kecil atau bahkan tanpa tujuan keuntungan sama sekali.
Urban farming terjadi ketika seseorang yang tinggal di kota atau kota padat penduduk memanfaatkan lahan hijau untuk menanam makanan dan/atau memelihara hewan kecil, seperti kambing, kelinci, ayam, atau kalkun.
Memangkas Jarak Tempuh Pangan

Dari sisi mitigasi perubahan iklim, urban farming berperan dengan mengurangi jarak tempuh pangan (food miles). Biasanya, makanan yang dikonsumsi warga kota harus menempuh perjalanan puluhan hingga ratusan kilometer.
Proses distribusi ini memerlukan penggunaan bahan bakar fosil yang cukup besar dan menimbulkan emisi gas rumah kaca yang tinggi. Dengan menanam dan memproduksi pangan di dalam kota, kebutuhan akan transportasi berkurang secara signifikan, sehingga jejak karbon dari sistem pangan perkotaan juga ikut menurun.
Urban farming juga memiliki peran penting dalam adaptasi terhadap perubahan iklim dengan menghadirkan ruang-ruang hijau baru. Kehadiran tanaman di kawasan perkotaan membantu menurunkan suhu udara, mengurangi efek urban heat island, serta meningkatkan kemampuan tanah menyerap air hujan.
Di kota-kota Indonesia yang masih kekurangan ruang terbuka hijau, pertanian perkotaan bisa menjadi solusi ekologis yang cepat diterapkan dan tersebar secara merata.
Salah satu kontribusi lain dari urban farming adalah pengolahan limbah organik menjadi kompos. Sampah dapur dan sisa makanan yang dijadikan pupuk tidak hanya mengurangi tekanan pada tempat pembuangan akhir, tetapi juga menekan emisi metana yang muncul dari pembusukan sampah.
Praktik ini sekaligus mendorong ekonomi sirkular dan memperkuat ketahanan ekologis kota dalam menghadapi perubahan iklim.
Dengan segala manfaatnya, urban farming sebaiknya tidak hanya dilihat sebagai aktivitas sampingan atau sekadar hobi bagi warga kota. Aktivitas ini perlu diakui sebagai bagian penting dari kebijakan pertanian perkotaan, strategi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, serta perencanaan tata kota yang berkelanjutan.
Urban farming menyediakan hasil panen segar, sehat, dan ditanam secara lokal, terutama di wilayah yang biasanya sulit dijangkau.
- Banjir Kawasan Jalur, Sekolah Terpaksa Daring
- Simak 5 Alasan Sumber Pangan Lokal Lebih Ramah Lingkungan
- 3 Anak Sungai Tercemar PLTU, Perampasan Sumber Kehidupan!
Selain meningkatkan akses pangan, urban farming juga memiliki peran edukatif, mengajarkan masyarakat tentang cara menanam makanan, jenis tanaman yang cocok di wilayah tersebut, cara mengolahnya, serta pentingnya mengikuti musim tanam.
Semakin banyak orang tertarik pada urban farming untuk mengurangi biaya belanja dan menyediakan makanan sehat bagi komunitas. Beberapa urban farming juga berfungsi sebagai tempat pelatihan bertani dan membantu orang kembali ke dunia kerja.
Ada juga yang bertujuan membuat makanan segar lebih mudah diakses oleh masyarakat yang kurang mampu secara ekonomi.
Jika didorong secara besar-besaran dan dijalankan secara berkelanjutan, urban farming bisa membantu kota tidak hanya bertahan menghadapi dampak perubahan iklim, tetapi juga berubah menjadi lingkungan hidup yang lebih sehat, tangguh, dan ramah secara ekologis.
Secara keseluruhan, urban farming membantu menghemat biaya belanja, mengurangi jejak karbon pangan, dan memberi kesempatan bagi orang untuk mengetahui langsung dari sumbernya. Apapun tujuannya, urban farming terus berkembang dan menjadi bagian penting dalam kehidupan banyak kota.
Tulisan ini telah tayang di TrenAsia.com, jejaring media WongKito.co, pada 17 Januari 2026.

