KabarKito
Wisatawan Padati Gunung Dempo, Sebabkan Kemacetan Panjang
PAGARALAM, WongKito.co - Hari ketiga lebaran Idulfitri 2025 objek wisata Gunung Dempo, di Kota Pagar Alam, Sumatera Selatan dipadati wisatawan yang datang dari berbagai daerah sehingga menyebabkan kemacetan panjang di kawasan kebun teh milik PTPN I Regional VII.
Prapti (27) warga Palembang mengungkapkan jauh-jauh berlibur ke Pagar Alam untuk menikmati suasana perkebunan teh dan berbagai wisata air, seperti curup dan sungai yang banyak di kawasan Lembah Dempo.
"Kami sengaja ingin mencari suasana alam untuk mengisi liburan," kata dia, dibincangi, Rabu (2/4/2025).
Baca Juga:
- Cek Begini Daftar Tarif Tol Pulau Jawa Saat Arus Balik Lebaran 2025
- Prakiraan Cuaca Pelabuhan Tanjung Api-Api 3 - 5 April 2025
- Kiat Detoks dan Turunkan Berat Badan Usai Lebaran
Ia bercerita mengisi waktu libur dengan suasana yang berbeda tentunya cara efektif menyegarkan pikiran sehingga kembali ke kota dengan lebih nyaman.
Apalagi, liburan kali ini sangat panjang sehingga waktu luang lebih banyak, tambah dia.

Sementara Zely (34) warga Kota Pagar Alam, mengatakan meskipun bermukim di Pagar Alam tetapi wisata ke Gunung Dempo tetap menjadi destinasi favorit.
"Kami setiap libur sengaja mengajak anak-anak berwisata di kawasan Gunung Dempo, kali ini kami ke Tugu Rimau yang berada di area perbatasan Kebun Teh dan Hutan Lindung," kata dia.
Baca Juga:
- Kembalikan Marwah Baik Kota Palembang, 300 Kg Rendang dan 1 Ton Ayam Kecap Dimasak di Tepi Sungai Musi
- Arus Mudik Lebaran, Tiket Bus Mahal dan Lonjakan Penumpang
- Intip Yuk Sejarah Kue Putri Salju, Si Manis yang Selalu Ada Saat Lebaran
Suasana ramai hingga menyebabkan kemacetan tersebut, juga menjadi ladang cuan bagi pedagang yang menjual beragam makanan dan minuman.
Yanto (45) pedagang mi instan mengatakan sejak hari kedua lebaran banyak wisatawan yang datang ke Tugu Rimau.
"Alhamdulillah hari ini tambah ramai, banyak pembeli yang menikmati mi instan dan minuman hangat yang kami jual," kata dia.
Ia bertutur pengunjung datang dari berbagai kota di Sumatera Selatan, bahkan juga ada dari Pulau Jawa dan Bali.
Hal itu, terlihat dari nomor kendaraan yang mereka gunakan dan dialek ketika mereka berbicara, tambah dia.(ert)