Apa Kabar Daya Beli, saat Harga Pertamax dan Suku Bunga Naik

Rabu, 10 Juni 2026 17:36 WIB

Penulis:Nila Ertina

5 Pengeluaran Tidak Penting yang Hanya Menghabiskan Isi Tabungan
5 Pengeluaran Tidak Penting yang Hanya Menghabiskan Isi Tabungan (Foto: Pixabay.com/Chronomarchie )

JAKARTA, WongKito.co - Efek dari kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) menjadi 5,50% dan lonjakan harga Pertamax sebesar Rp3.900 per liter berpotensi memberikan tekanan berlapis terhadap keuangan rumah tangga, khususnya keluarga muda yang masih memiliki cicilan dan mobilitas tinggi.

Seperti diketahui, PT Pertamina resmi menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi secara serentak di seluruh Indonesia. Salah satu yang mengalami kenaikan paling signifikan adalah Pertamax (RON 92), yang kini dibanderol Rp16.250 per liter dari sebelumnya Rp12.300 per liter. 

Selain itu, harga Pertamax Green 95 juga naik menjadi Rp17.000 per liter dari sebelumnya Rp12.900 per liter. Sementara itu, Pertalite (RON 90) tidak mengalami perubahan harga dan tetap dijual Rp10.000 per liter. 

"Penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green dilakukan setelah melalui proses evaluasi sesuai formula harga yang ditetapkan pemerintah. Harga jual tersebut diputuskan dengan tetap dikoordinasikan dengan pemerintah sebagai regulator," jelas Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun dalam keterangan persnya, Rabu (10/6/2026).

Baca Juga:

Penyesuaian harga ini membuat selisih harga Pertamax mencapai Rp3.950 per liter dan Pertamax Green 95 naik Rp4.100 per liter dibandingkan harga sebelumnya.

Secara terpisah, dampak masing-masing kebijakan mungkin terlihat tidak terlalu besar. Namun ketika kenaikan bunga kredit, biaya bahan bakar, dan tekanan inflasi terjadi bersamaan, tambahan pengeluaran bulanan dapat mendekati Rp1 juta hingga lebih dari Rp1,1 juta per bulan.

Bagi banyak keluarga dengan pendapatan tetap, kondisi ini dapat menggerus ruang untuk menabung dan berinvestasi.

Baca juga : Bom Waktu APBN: Ketika Selisih Harga BBM Picu Migrasi Massal

Biaya BBM Kendaraan Naik Berapa?

Agar lebih mudah dibayangkan, berikut simulasi tambahan pengeluaran untuk berbagai tingkat penggunaan kendaraan yang disusun TrenAsia,

Mobil Menempuh 500 Km per Bulan

Dengan asumsi konsumsi BBM 12 liter per 100 km:

  • Jarak tempuh: 500 km per bulan
  • Kebutuhan BBM: 60 liter per bulan
  • Kenaikan harga Pertamax: Rp3.950 per liter
  • Tambahan biaya: Rp237.000 per bulan
  • Dalam setahun: Rp2,84 juta

Mobil Menempuh 1.000 Km per Bulan

  • Jarak tempuh: 1.000 km per bulan
  • Kebutuhan BBM: 120 liter per bulan
  • Kenaikan harga Pertamax: Rp3.950 per liter
  • Tambahan biaya: Rp474.000 per bulan
  • Dalam setahun: Rp5,69 juta

Mobil Menempuh 1.500 Km per Bulan

  • Jarak tempuh: 1.500 km per bulan
  • Kebutuhan BBM: 180 liter per bulan
  • Kenaikan harga Pertamax: Rp3.950 per liter
  • Tambahan biaya: Rp711.000 per bulan
  • Dalam setahun: Rp8,53 juta

Pengguna Motor dengan Konsumsi 10 Liter per Bulan

  • Konsumsi BBM: 10 liter per bulan
  • Kenaikan harga Pertamax: Rp3.950 per liter
  • Tambahan biaya: Rp39.500 per bulan
  • Dalam setahun: Rp474.000

Pengguna Motor dengan Konsumsi 20 Liter per Bulan

  • Konsumsi BBM: 20 liter per bulan
  • Kenaikan harga Pertamax: Rp3.950 per liter
  • Tambahan biaya: Rp79.000 per bulan
  • Dalam setahun: Rp948.000

Pengguna Motor dengan Konsumsi 30 Liter per Bulan

  • Konsumsi BBM: 30 liter per bulan
  • Kenaikan harga Pertamax: Rp3.950 per liter
  • Tambahan biaya: Rp118.500 per bulan
  • Dalam setahun: Rp1,42 juta

Meski kenaikan Rp3.950 per liter terlihat tidak terlalu besar saat mengisi bensin, dampaknya menjadi signifikan ketika diakumulasi selama berbulan-bulan. 

Bagi pengguna mobil dengan mobilitas tinggi, tambahan pengeluaran bisa mencapai lebih dari Rp711 ribu per bulan atau sekitar Rp8,53 juta per tahun. Sementara bagi pengguna motor, kenaikan biaya berkisar puluhan hingga ratusan ribu rupiah per bulan tergantung tingkat konsumsi bahan bakar.

Baca juga : Pertamax Naik, IHSG Tetap Ngacir 0,49 Persen di Pembukaan Hari Ini

Tanggungan Kredit Naik Karena Suku Bunga

KPR Floating Rate Berpotensi Naik

Dampak berikutnya berasal dari kenaikan BI Rate yang biasanya akan diteruskan ke bunga kredit perbankan, terutama untuk KPR dengan skema floating rate.

Jika BI Rate naik 0,25%, maka cicilan KPR berpotensi mengalami penyesuaian. Sebagai simulasi, untuk KPR senilai Rp500 juta dengan tenor 20 tahun, kenaikan bunga sebesar 0,25% dapat meningkatkan cicilan sekitar Rp75.000 hingga Rp100.000 per bulan.

Besarnya kenaikan tentu bergantung pada suku bunga awal, kebijakan bank, dan sisa tenor kredit.

Kredit Kendaraan dan Pinjaman Usaha Ikut Terdampak

Selain KPR, kenaikan suku bunga juga dapat memengaruhi kredit kendaraan bermotor dan pinjaman usaha.

Bagi pemilik usaha kecil yang masih memiliki pinjaman modal kerja, kenaikan bunga berarti biaya pembiayaan yang lebih mahal. Sementara bagi rumah tangga yang memiliki kredit kendaraan dengan bunga mengambang, cicilan berpotensi meningkat ketika penyesuaian bunga dilakukan oleh lembaga pembiayaan.

Tekanan Inflasi dan Harga Pangan

Di luar BBM dan bunga kredit, rumah tangga juga menghadapi tekanan dari inflasi pangan.

Pelemahan nilai tukar rupiah di kisaran Rp17.000 per dolar AS membuat biaya impor berbagai komoditas menjadi lebih mahal. Selain itu, fenomena El Nino berisiko menekan produksi pertanian sehingga dapat mendorong kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok seperti beras, cabai, dan bawang.

Dalam skenario moderat, tambahan pengeluaran akibat kenaikan harga pangan dan kebutuhan sehari-hari dapat mencapai sekitar Rp150.000 hingga Rp300.000 per bulan.

Baca juga : Prabowo Didesak Tinggalkan Ekonomi Ekstraktif, Fokus Degrowth

Daya Beli Makin Tertekan

Tantangan utama bagi keluarga muda bukan hanya besarnya kenaikan pada satu pos pengeluaran, melainkan karena seluruh tekanan tersebut datang hampir bersamaan.

Baca Juga:

Biaya BBM yang lebih tinggi bersifat langsung dan berulang setiap bulan. Di sisi lain, kenaikan bunga kredit dapat bertahan selama periode suku bunga tinggi berlangsung. Ketika ditambah kenaikan harga pangan dan kebutuhan sehari-hari, ruang keuangan rumah tangga menjadi semakin sempit.

Dalam kondisi seperti ini, banyak keluarga berpotensi mengurangi porsi tabungan, investasi, hingga pengeluaran non-prioritas seperti rekreasi dan konsumsi sekunder.

Bagi masyarakat yang masih memiliki cicilan KPR, kredit kendaraan, serta mobilitas tinggi untuk bekerja, kombinasi BI Rate 5,50% dan kenaikan harga Pertamax menjadi tantangan baru yang tidak bisa diabaikan.

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 10 Jun 2026