Rabu, 11 Maret 2026 18:07 WIB
Penulis:Susilawati

JAKARTA – Bulan Ramadan adalah momen istimewa bagi umat Islam untuk memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Di samping itu, sepuluh malah terakhir Ramadan merupakan momen yang sangat dinantikan oleh umat Muslim di seluruh dunia.
Dalam sepuluh malah terakhir Ramadan, terdapat satu malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan, yaitu Lailatul Qadar. Dan salah satu ibadah untuk menjemput keistimewaan tersebut adalah iktikaf.
Al-Hanafiyah mendefinisikan iktikaf sebagai berdiam diri di masjid yang biasa digunakan untuk salat berjamaah. Sementara, Mazhab Asy-Syafi’iyyah memaknai iktikaf sebagai berdiam diri di masjid dengan melakukan berbagai amalan tertentu yang diniatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Baca juga:
Dilansir dari muhammadiyah.or.id, terkait waktu pelaksanaan iktikaf, para ulama memiliki pendapat yang berbeda. Sebagian ulama, seperti Al-Hanafiyah, membolehkan iktikaf dilakukan dalam waktu singkat tanpa batasan batasan tertentu.
Sedangkan, Al-Malikiyah berpendapat bahwa minimal waktu iktikaf adalah satu hari satu malam. Dengan demikian, iktikaf dapat dijalankan dalam berbagai durasi, mulai dari beberapa jam hingga sehari semalam.
Adapun, tempat pelaksanaan iktikaf, Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 187 menyebutkan iktikaf dilakukan di masjid. Namun, para ulama memiliki perbedaan pandangan mengenai jenis masjid yang dapat digunakan.
Sebagian ulama, seperti Al-Hanafiyah mensyaratkan bahwa masjid yang digunakan untuk iktikaf harus memiliki imam dan muadzin khusus. Sementara, Al-Hanabilah berpendapat iktikaf dapat dilaksanakan di masjid yang biasa digunakan untuk salat berjamaah, meski bukan masjid yang digunakan untuk salat Jumat.
Namun, bagi para pekerja kantoran dengan jadwal yang super padat, tantangan untuk melaksanakan iktikaf sering kali sulit terlaksana karena rutinitas pekerjaan kerap menguras waktu dan energi. Meski begitu, kesibukan duniawi seharusnya tidak menjadi alasan untuk melewatkan kesempatan tersebut.
Dengan perencanaan yang baik, kamu masih bisa meraih keberkahannya meskipun masih berstatus sebagai karyawan aktif. Lantas, bagaimana caranya? Tenang saja, bagi kamu yang bekerja dari pagi hingga sore, kamu bisa mengikuti langkah-langkah berikut!
Dilansir dari berbagai sumber, berikut tips iktikaf bagi pekerja untuk mendapat Lailatul Qadar:
Niat adalah dasar utama dalam beriktikaf. Pastikan tujuanmu benar-benar untuk mencari rida Allah dan memohon ampunan-Nya. Hindari niat yang bersifat duniawi, seperti hanya mengikuti teman atau sekadar ingin menghindari pekerjaan rumah.
Jika sejak awal niatnya tidak lurus, pelaksanaannya akan sulit berjalan dengan baik. Karena itu, menjaga niat sangatlah penting. Luruskan niat semata-mata karena Allah SWT, bukan untuk mendapatkan pujian atau pengakuan dari manusia.
Sebelum memulai iktikaf, pastikan seluruh pekerjaan atau tanggung jawab telah diselesaikan terlebih dahulu. Jika kamu harus meninggalkan pekerjaan selama beriktikaf, kamu sudah menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Hal ini penting agar pikiranmu tetap tenang dan tidak terbagi, sehingga dapat lebih fokus saat beribadah, baik ketika sujud maupun saat membaca Al-Qur’an.
Iktikaf membutuhkan daya tahan yang kuat. Maka dari itu, pastikan mengonsumsi makanan bergizi saat berbuka puasa dan sahur sebelum menjalani masa iktikaf. Sebaiknya kurangi makanan yang terlalu berminyak karena dapat menyebabkan rasa kantuk berlebihan atau gangguan pencernaan, sehingga ibadah dapat dilakukan dengan lebih nyaman dan fokus.
Selain itu, saat puasa, tubuh kehilangan banyak cairan. Tubuh manusia membutuhkan sekitar 2 liter air setiap hari, setara dengan kurang lebih 8 gelas. Jadi, sejak waktu berbuka hingga menjelang sahur, dianjurkan untuk memperbanyak minum air putih.
Lokasi masjid sangat menentukan kelancaran ibadah sekaligus aktivitas kerjamu. Sebaiknya pilih masjid yang lokasinya dekat dengan kantor atau berada di jalur perjalanan pulang ke rumah. Masjid yang menyediakan fasilitas sahur dan buka puasa juga dapat membantu menghemat waktu.
Selain itu, pastikan masjid tersebut memiliki koneksi internet yang stabil jika sewaktu-waktu kamu menyelesaikan pekerjaan yang bersifat mendesak
Kamu tidak harus berada di masjid selama 24 jam penuh jika masih terikat dengan pekerjaan. Banyak ulama membolehkan iktikaf dilakukan dalam waktu tertentu. Kamu bisa datang ke masjid setelah salat Isya, lalu berniat iktikaf hingga menjelang Subuh. Setelah menunaikan salat Subuh, kamu dapat beristirahat sejenak sebelum bersiap berangkat ke kantor.
Bagian akhir Ramadan merupakan waktu yang sangat baik untuk memperbanyak amal kebaikan. Amalan tersebut bisa dilakukan dengan berbagai cara, seperti memperbanyak salat malam dengan lebih khusyuk, rutin membaca Al-Qur’an, memperbanyak zikir, dan memanjatkan doa dengan sungguh-sungguh.
Dalam hadis, malam-malam ganjil mendapatkan perhatian khusus. Oleh karena itu, jika energi dan waktu yang dimiliki terbatas, malam ganjil sebaiknya menjadi prioritas utama untuk beribadah. Namun, hal ini bukan berarti malam genap harus diabaikan. Semakin konsisten dan merata ibadah dilakukan di setiap malam, maka semakin besar pula manfaat yang dapat diperoleh
Mencari Lailatul Qadar bukan sekadar meramaikan satu malam dengan ibadah, lalu kembali lalai pada malam berikutnya. Yang lebih penting adalah menjaga konsistensi dalam beribadah. Ibadah yang dilakukan secara terus-menerus akan membuat hati tetap terjaga dan lebih siap menyambut datangnya malam yang penuh kemuliaan tersebut.
Lailatul Qadar adalah malam yang sangat berkaitan dengan ampunan Allah. Jadi, kamu harus memperbanyak doa dan istighfar. Tidak harus menunggu doa yang panjang atau rumit, yang terpenting adalah ketulusan hati, merasa butuh kepada Allah, dan sungguh-sungguh memohon ampunan-Nya.
Lailatul Qadar adalah malam yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai malam lebih baik daripada seribu bulan. Malam tersebut menjadi puncak dari berbagai kemuliaan di bulan Ramadan 2026. Namun, di balik keistimewaannya tersebut, tersimpan sebuah misteri besar tentang kapan tepatnya malam mulia itu terjadi.
Mayoritas ulama merujuk pada hadis sahih riwayat Imam Bukhari, di mana Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam untuk mencari Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan. Pada tahun 2026, malam-malam ganjil tersebut meliputi:
- Malam 21 Ramadan: 11 Maret 2026
- Malam 23 Ramadan: 13 Maret 2026
- Malam 25 Ramadan: 15 Maret 2026
- Malam 27 Ramadan: 17 Maret 2026
- Malam 29 Ramadan: 19 Maret 2026
Para ulama menjelaskan waktu pasti terjadinya Lailatul Qadar tidak disebutkan secara jelas. Hal ini diyakini sebagai hikmah agar umat Islam beribadah tidak hanya pada satu malam tertentu.
Dalam berbagai hadis disebutkan, Lailatul Qadar berada pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan, yakni malam ke-21, 23, 25, 27, atau 29.
Meski demikian, sebagian besar ulama berpendapat peluang terbesar terjadinya Lailatul Qadar adalah pada malam ke-27 Ramadan. Karena itu, banyak umat Islam memberikan perhatian khusus dengan meningkatkan ibadah pada malam tersebut.
Karena memiliki keutamaan yang sangat besar, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah pada malam tersebut. Amalan yang bisa dilakukan antara lain salat malam, membaca Al-Qur’an, memperbanyak zikir, dan memohon ampunan kepada Allah.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Distika Safara Setianda pada 11 Mar 2026