Cerita Pedagang, Harga Mahal MBG tak Dimakan

Minggu, 10 Mei 2026 12:29 WIB

Penulis:Nila Ertina

Editor:Nila Ertina

Ilustrasi pedagang berjualan di pasar tradisional
Ilustrasi pedagang berjualan di pasar tradisional (Foto generated by AI)

BUKAN hanya ibu rumah tangga yang selama ini mengeluhkan harga berbagai kebutuhan pangan terus naik. Tetapi para pedagang di pasar tradisional, Kota Palembang pun mengungkapkan hal serupa.

Sri (67) salah seorang pedagang sayuran di pasar tradisional Kota Palembang mengatakan akhir-akhir ini harga barang sangat sulit diprediksi.

"Seperti hari ini, harga cabai merah mencapai Rp70 ribu per kilogram," kata dia, dibincangi Minggu (10/5/2026).

Kini menurut dia, bukan hanya harga komoditas sayuran yang naik tetapi harga pembungku plastik naik rata-rata 50 persen.

Baca Juga:

Dia mencontohkan biasa membeli kantong plastik Rp10 ribu per bungkus kini menjadi Rp15 ribu. Hal itu tentunya sangat memberatkan bagi pedagang.

"Hingga kini belum ada alternatif penganti bungkus plastik," kata dia lagi.

Dia mengaitkan mahalnya harga komoditas dan barang pendukungnya karena kebijakan pemerintah yang tidak pro pada kepentingan rakyat. Ia menegaskan salah satu penyebab naiknya berbagai kebutuhan pokok akibat pemerintah focus pada program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Hal senada diungkapkan Desi (50) ia bercerita sejak program MBG diberlakukan tidak lagi bisa membeli daging ayam potong dengan leluasa.

"Sebelum harga naik, dulu bisa menyetok daging ayam untuk keperluan satu pekan," kata dia.

Kini menurut dia, harga ayam potong tidak pernah kurang dari Rp35 ribu per kilogram dijual pedagang di pasar tradisional dekat rumahnya.

"MBG ini benar-benar menguntung pemerintah, tetapi tidak bagi rakyat kecil seperti kami," kata dia.

Baca Juga:
 

Dia mengatakan sangat beralasan jika MBG hanya menguntungkan pemerintah dan kroninya. Karena setiap kali merima sajian MBG, mayoritas anak enggan memakannya, kata dia lagi.

Rudianto (34) pedagang ayam mengakui tidak pernah lagi menjual ayam dengan  harga di Bawah Rp35 ribu per kilogram.

"Harga dari bos mahal, jadi kami gak bisa jual murah," ujar dia.(ert)