Dampingi Keluarga Sakit, Lebaran di Kos-an pun Dinikmati

Senin, 06 April 2026 07:25 WIB

Penulis:Nila Ertina

Ilustrasi lebaran di kosan
Ilustrasi lebaran di kosan (Foto dibuat AI)

KETIKA mayoritas umat muslim berlebaran di kampung halaman, bersama keluarga besar. Ada keluarga yang terpaksa jauh dari kampung halaman, hingga ratusan kilometer di kos-an tengah Kota Palembang merayakan lebaran dan dinikmati demi menjaga keluarga yang sakit.

Dua keluarga ini sudah menghabiskan waktu selama berbulan-bulan jauh dari kampung halaman mereka yakni, suatu daerah di Provinsi Bengkulu. Sepanjang waktu itu, kunjungan rumah sakit, dan panggilan orang rumah sudah menjadi penjumlahan tak terhitung. Kota ini akan sesekali terasa menyesakkan jika yang ingin digapai faktanya hanya bisa dirindukan.

Adalah Suratmi penghuni kamar nomor 14, dengan daster dan hijab sebagai penopang penampilan sederhananya, selalu ramah ketika menyapa dengan mata binarnya, selalu siap siaga di dapur menyiapkan sang buah hati hidangan masakan rumahan. Saat ini hanya ada Suratmi yang menjaga, sedangkan suaminya sedang kerja ke Jepang, dan anaknya yang lain berada di kampung halaman, Bengkulu.

Baca Juga:

Tak hanya Suratmi, ada juga Demasari penghuni kamar nomor 9. Ia ditemani sang suami dalam bergandengan menjaga putra kecil mereka, dengan periode menetap yang sama seperti Sumarti lebih dari 6 bulan di kosan.

Berbulan-bulan sudah mereka di sini, melewati pergantian tahun, hari raya menanti pengumuman kabar bahagia, dalam doa-doa agar segala proses penyembuhan dan pengobatan berjalan baik. Hari berganti hari diharapkan semakin mendekati garis akhir pertarungan, memberikan kabar gembira, dan pernyataan selamat tinggal di rumah kedua tersebut.

Bahkan pada saat bulan Ramadan pun mereka harus terbiasa dengan lantutan Adzan di kota ini. Perasaan sedih tentu mereka nikmati dengan lapan dada, jauh dari rumah. Kerinduan rumah tidak bisa lagi terbendung ketika pengakuan terucap dari lisan yang tegas. Meskipun sudah berdamai dengan keadaan, tetap saja jika harus memilih, maka keadaan saat ini bahkan tidak akan masuk opsi sama sekali. Ada keinginan untuk pulang, namun keadaan tidak memungkinkan, sehingga pilihannya menyerupai pasir digengaman.

Seketika hari-hari istimewa harus tetap dirayakan meskipun kondisinya tidak seperti biasa, ucap Suratmi.

Perayaan lebaran tetap dilakukan dengan sangat sederhana, di rumah kos tersebut, menyajikan toples berisi kue-kue kering khas lebaran berjejer di atas meja umum hostel, di dekat jendela lantai atas, diapit dua kursi plastik.

Pada hari Idulfitri, tidak ada riuh keluarga pagi persiapan sholat Eid; tidak ada rombongan tetangga yang berkunjung; dan tidak ada segerombolan anak-anak meminta THR. Tradisi kunjungan ke sanak saudara pun terpaksa harus disimpan untuk Lebaran selanjutnya.

Baca Juga:

Rumah tidak hanya sekedar bangunan tempat berteduh. Secara literal tentu hanya sebuah bangunan, namun semakin kita dewasa, rumah bertransformasi menjadi sebuah konsep dari pada artian langsung. Konsep rumah yang kita kenal sejak kecil adalah: Bau masakan ibu; lentingan sendok dan garpu di meja makan; tawa canda di depan televisi saat kumpul keluarga, dan lain sebagainya. Namun konsep-konsep ini memiliki fungsi yang sama seperti artian literalnya, yakni sebagai tempat ‘aman’.

Hostel ini adalah rumah bagi dua keluarga ini. Memang tidak permanen, tetapi mereka bertahan sampai keluarga yang mereka kasihi sembuh dan bisa kembali pulang ke rumah di kampung dengan sehat dan riang.(Magang/Siti Sundari)