Ekspedisi ke Batang Toru, Fitri: Mau Lihat Orangutan Langsung di Habitatnya

Rabu, 19 Agustus 2026 17:14 WIB

Penulis:Redaksi Wongkito

Editor:Redaksi Wongkito

1000273886.jpg
Fitri Utami adalah satu-satunya perempuan yang turut mengayuh sejauh 1.700 km dari Jakarta-Batang Toru dengan membawa misi kampanye perlindungan Orangutan Tapanuli. (wongkito.co/yulia savitri)

PALEMBANG, WongKito.co - Ekspedisi Hutan Merdeka resmi selesai dengan finish-nya lima pesepeda di Jembatan Trikora, Batang Toru, Sumatera Utara, tepat pada momen Hari Orangutan Internasional 19 Agustus, Rabu (19/8/26). 

Dari lima pesepeda tersebut, Fitri Utami adalah satu-satunya perempuan yang turut mengayuh sejauh 1.700 km dari Jakarta-Batang Toru dengan membawa misi kampanye perlindungan Orangutan Tapanuli atau Pongo tapanuliensis.

“Mau lihat orangutan langsung di tempatnya, kalau memang bisa,” kata Fitri mengungkapkan harapannya mengikuti ekspedisi, saat tiba di Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (6/8/26) lalu. 

Fitri mengatakan, tidak butuh persiapan banyak untuk ekspedisi yang diinisiasi Satya Bumi ini. Diakuinya, perjalanan ini justru menjadi persiapannya mengikuti event lari trail. Mengingat, venue atau jalur trail di Jakarta cukup jauh dan dapat dijangkau dengan sepeda.

Selain itu, dia juga setiap hari memang bersepeda ke tempat kerja atau bike to work sehingga sudah cukup terbiasa dengan jalan kota. “Saya sudah aktif gowes sejak 2018 saat memilih bike to work. Turing jarak jauh juga pernah, seringnya sendiri,” ujarnya.

Selama ekspedisi, Fitri menjadi pemandu bagi pesepeda lainnya untuk tetap menjaga nutrisi dengan makan meski sedikit. Menurutnya, pesepeda perempuan maupun laki-laki sama saja, jika sudah capek pasti ada rasa malas untuk makan. Dia memastikan pesepeda cukup makan dan minum air putih, jangan sampai tidak ada tenaga.

Tim  Ekspedisi Hutan Merdeka saat melewati Jembatan Ampera Palembang. (ist/Satya Bumi)

Diakuinya, ramainya jalan lintas Sumatera dengan bis besar menjadi kendala selama perjalanan di Sumsel. Sebab, dari pengalaman bike to work di jalan Jakarta tidak pernah berjumpa dengan bis besar. Tidak hanya itu, jalanan yang jelek dan cuaca panas menjadi tantangan tersendiri. Ditambah pula harus melewati area lahan terbakar yang membutuhkan kehati-hatian ekstra saat riding.

Manager Komunikasi Satya Bumi, Restu Diantina menyebutkan, ekspedisi ini bukan hanya membawa pesan perlindungan hutan dan orangutan, tapi juga pemulihan Sumatera dan pemenuhan hak warga negara. Satya Bumi menyoroti penurunan populasi Orangutan Tapanuli sampai 7 persen pasca bencana banjir Sumatera, dari kurang 800 individu diperkirakan 58 individu tewas.

“Ancaman kepunahan Orang Utan Tapanuli sudah nyata. Sebab 1 persen penurunan populasi saja dapat mengancam populasinya sangat cepat,” kata dia dibincangi di Palembang.

Memperingati Hari Orangutan Internasional sekaligus titik akhir Ekspedisi Hutan Merdeka, spanduk raksasa terbentang di Jembatan Trikora, Batang Toru, diikuti aksi damai untuk menyerukan penyelamatan hutan dan orangutan. (yulia savitri)