Film Seungue Lam Kayee: Kisah Korban Bencana Aceh Bersiap Temui Penonton

Minggu, 08 November 2026 19:03 WIB

Penulis:Redaksi Wongkito

Secara naratif, Seungue Lam Kayee mengikuti seorang pembuat film dokumenter dan seniman tutur hikayat yang berkolaborasi merawat ingatan sebuah kampung
Secara naratif, Seungue Lam Kayee mengikuti seorang pembuat film dokumenter dan seniman tutur hikayat yang berkolaborasi merawat ingatan sebuah kampung (Foto tangkapan layar Youtube)

ACEH, WongKito.co –  Film Seungue Lam Kayee, dengan judul internasional First as Tragedy, Then as Silence, karya sutradara Hikayatussistance, Muhammad Hendri, kembali menghadirkan karya terbarunya. Film yang mengangkat kisah ingatan dan kehilangan pascabanjir bandang ini bersiap memasuki perjalanan menuju penonton.

Dalam penggarapannya, Muhammad Hendri berkolaborasi dengan Fauzan Santa, sineas sekaligus pegiat sastra yang dikenal melalui film Surat Kaleng 1949 dan kiprahnya di Sekolah Menulis Dokarim, serta Fuadi Klayu, seniman tutur hikayat Aceh yang sebelumnya menjadi figur utama dalam film Hikayatussistance. Fauzan terlibat sebagai produser dan penulis skenario, sementara Fuadi turut mengembangkan skenario sekaligus menggarap musik orisinal film.

Film ini menyerap ide dari cerita-cerita pendek pemenang Sayembara Cerpen Piala Gubernur Aceh 2026 dan berkembang menjadi sebuah narasi yang berdiri sendiri. Melalui proses kreatif yang mempertemukan sastra dan sinema, ide-ide tersebut diolah menjadi cerita baru dengan karakter, struktur naratif, dan pendekatan artistiknya sendiri.

Pengembangan tersebut membuka kemungkinan penceritaan yang tidak hanya bertumpu pada peristiwa kebencanaan, tetapi juga pada pengalaman manusia dalam menghadapi kehilangan.

Baca Juga:

Secara naratif, Seungue Lam Kayee mengikuti seorang pembuat film dokumenter dan seniman tutur hikayat yang berkolaborasi merawat ingatan sebuah kampung setelah dilanda banjir bandang. Melalui kamera dan tuturan, keduanya berupaya menghadirkan kembali pengalaman masyarakat yang tersisa di tengah perubahan kehidupan pascabencana.

Sementara itu, seorang adik harus menghadapi pertentangan antara mempertahankan kenangan dan menerima kehilangan. Melalui puisi dan perjumpaan dengan ingatan, ia berusaha memahami dukacita serta perlahan menerima sesuatu yang tidak lagi dapat kembali.

Bagi Muhammad Hendri, Seungue Lam Kayee merupakan kelanjutan eksplorasi penciptaan hybrid cinema, sebuah pendekatan yang mempertemukan berbagai bentuk dan praktik penceritaan dalam bahasa sinema. Melalui karya terbarunya ini, Hendri kembali menyelidiki kemungkinan sinema yang tumbuh dari pengalaman lokal, dengan menghubungkan seni tutur, sastra, praktik dokumenter, dan pendekatan artistik naratif film untuk mengartikulasikan pengalaman kehilangan serta kehidupan masyarakat pascabencana.

Dalam proses penciptaannya, Hendri juga mengeksplorasi pendekatan produksi beranggaran mikro (microbudget filmmaking) dengan menengok kembali warisan French New Wave, neorealisme Italia, dan pemikiran auterisme yang menempatkan pembuat film sebagai subjek kreatif dengan kebebasan menentukan bahasa serta sikap estetikanya.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa penciptaan film tidak semata bergantung pada besarnya anggaran atau kelengkapan fasilitas, tetapi juga pada kemampuan pembuatnya mengembangkan bahasa sinema melalui sumber daya yang tersedia.

Paradoks Bersinema di Aceh: Kebebasan Artistik dan Keterbatasan Infrastruktur

Di balik semakin terbukanya kemungkinan penciptaan film, praktik bersinema di Aceh masih menghadapi kondisi yang paradoksal. Teknologi kamera digital, komputer pribadi, dan perangkat penyuntingan yang semakin terjangkau memungkinkan lebih banyak orang memproduksi karya audiovisual.

Namun, kemudahan tersebut belum diikuti perkembangan infrastruktur pemutaran yang sepadan. Aceh masih belum memiliki jaringan bioskop komersial, sementara ruang pemutaran alternatif dengan fasilitas proyeksi dan tata suara yang memadai belum tersedia secara luas dan berkelanjutan. Bahkan, kebutuhan melakukan test screening melalui layar sinema yang layak masih menjadi tantangan bagi pembuat film setempat.

Dalam satu dekade terakhir, upaya pemajuan sinema dan kebudayaan di Aceh terus berlangsung melalui kegiatan komunitas, festival, serta berbagai program dukungan produksi. Kendati demikian, ekosistem yang menghubungkan produksi, distribusi, pemutaran, dan kehidupan ekonomi para pembuat film belum sepenuhnya terbentuk.

Ketergantungan pada proyek tahunan dan pendanaan yang bersifat musiman memperlihatkan bahwa persoalan perfilman tidak hanya berkaitan dengan kesempatan menghasilkan karya, tetapi juga dengan keberlanjutan institusi dan ruang yang menopang kehidupannya.

Kondisi tersebut turut memberi konteks bagi perjalanan Seungue Lam Kayee. Film ini tidak hanya lahir dari praktik penciptaan yang harus menyiasati keterbatasan ekosistem perfilman di Aceh, tetapi juga membawa pertanyaan mengenai keberlangsungan karya setelah proses produksi selesai.

Dalam konteks ini, inklusivitas sinema tidak cukup diukur dari semakin terbukanya akses terhadap teknologi produksi. Ia juga bergantung pada tersedianya ruang pemutaran, jaringan distribusi, dan kehidupan ekonomi yang memungkinkan pembuat film terus berkarya.

Tanpa keberlanjutan tersebut, film berisiko berhenti sebagai artefak administratif dari suatu program musiman, alih-alih berkembang menjadi praktik kebudayaan yang hidup bersama masyarakatnya.

Kolaborasi Produksi dan Perjalanan Menuju Penonton

Seungue Lam Kayee diproduksi melalui kerja sama Komunitas Hikayat Aceh, Muhammad Hendri Films, Aceh Menonton Films, Hikayatussistance, Timur Djauh, Cangkee Studio, Laelangge Lab, Gerakan Surah Buku Indonesia, Sakhi House Coffee, dan Kundang Institute. Produksi film ini mendapat dukungan dari Pemerintah Aceh dan Dinas Pemuda dan Olahraga Aceh.

Tim produksi tengah mempersiapkan peluang kolaborasi pemutaran bersama festival film, komunitas, perguruan tinggi, institusi kebudayaan, dan pengelola ruang pemutaran alternatif di berbagai wilayah. Kerja sama pemutaran dijadwalkan mulai dibuka pada awal 2027, dengan informasi lebih lanjut mengenai mekanisme kolaborasi dan perkembangan perjalanan film yang akan diumumkan melalui akun Instagram resmi @filmseunguelamkayee.

Baca Juga:

Perjalanan menuju berbagai ruang pemutaran tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan Seungue Lam Kayee kepada penonton yang lebih luas, sekaligus membuka percakapan tentang ingatan, pengalaman pascabencana, dan masa depan perfilman Aceh. Melalui perjumpaan dengan publik, film diharapkan memperoleh kehidupan yang melampaui proses produksi dan program yang melahirkannya.

Trailer resmi film terbaru sutradara Hikayatussistance, Muhammad Hendri, telah dirilis melalui kanal YouTube Aceh Menonton dan Instagram @filmseunguelamkayee. Mengusung pendekatan hybrid cinema dan produksi beranggaran mikro, film ini mempertemukan sastra, tradisi hikayat, dan sinema di tengah keterbatasan infrastruktur perfilman Aceh.

Tonton trailer resmi: youtu.be/Muk0dLUUt38.(ril)