AI
Kamis, 09 Juli 2026 09:55 WIB
Penulis:Nila Ertina

BANGKOK, WongKito.co – Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) mengungkapkan kecerdasan buatan generatif atau Generative Artificial Intelligence (GenAI) diperkirakan akan memengaruhi hamper 80 juta pekerja di kawasan ASEAN. Meski demikian, hingga kini belum ditemukan bukti terjadinya disrupsi besar atau kehilangan pekerjaan dalam skala luas akibat adopsi teknologi tersebut.
Temuan itu tertuang dalam laporan terbaru ILO bertajuk Generative AI and Labour Markets in ASEAN: Significant Exposure, Limited Disruption, Uneven Preparedness yang mengkaji dampak GenAI terhadap pasar kerja di 11 negara anggota ASEAN.
Berdasarkan estimasi ILO pada 2025, sekitar 22,9 persen atau hampir 80 juta pekerja di ASEAN berada pada jenis pekerjaan yang memiliki tingkat paparan terhadap GenAI di atas ambang minimal. Namun, hanya 3,3 persen atau sekitar 11,7 juta pekerja yang berada pada kategori pekerjaan dengan tingkat paparan tertinggi terhadap teknologi tersebut. Sementara itu, sekitar 67 persen pekerja masih berada pada pekerjaan yang tidak teridentifikasi memiliki paparan terhadap GenAI.
Baca Juga:
Laporan tersebut menunjukkan Singapura menjadi negara dengan proporsi pekerja yang paling banyak terdampak GenAI, yakni 42,2 persen dari total tenaga kerja. Posisi berikutnya ditempati Filipina sebesar 28,1 persen, disusul Indonesia 21,7 persen, Vietnam 20,8 persen, dan Thailand 20,6 persen.
Menurut ILO, tingginya angka di Singapura dan Filipina dipengaruhi struktur ekonomi yang didominasi sektor jasa, teknologi informasi, dan pekerjaan berbasis digital.
Meski jumlah pekerjaan yang berpotensi terdampak AI terus meningkat, ILO menegaskan adopsi GenAI di kawasan ASEAN masih berada pada tahap awal sehingga belum memicu gelombang pemutusan hubungan kerja secara masif.
Pemanfaatan AI saat ini masih terkonsentrasi pada pekerjaan yang intensif teknologi. Sementara itu, penggunaan GenAI di sektor administrasi dan perkantoran yang sebenarnya memiliki tingkat paparan tinggi masih berlangsung secara bertahap.
Laporan juga menemukan adanya kesenjangan gender dalam dampak AI terhadap dunia kerja. Perempuan memiliki peluang lebih dari dua kali lipat dibandingkan laki-laki untuk bekerja pada profesi dengan tingkat paparan tinggi terhadap GenAI. Kondisi tersebut dipengaruhi tingginya keterwakilan perempuan di bidang administrasi, kesekretariatan, dan profesi profesional.
Selain itu, ILO menyoroti adanya kesenjangan kesiapan (preparedness gap) di antara negara-negara ASEAN. Singapura dinilai memiliki ekosistem AI paling matang berkat dukungan infrastruktur digital, ketersediaan talenta, serta strategi nasional yang terintegrasi dalam pengembangan kecerdasan buatan.
Baca Juga:
Untuk memastikan AI mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menciptakan lapangan kerja yang berkualitas, ILO merekomendasikan sejumlah langkah strategis. Di antaranya membangun tata kelola AI yang berpusat pada manusia, memperluas program peningkatan keterampilan (upskilling) dan pelatihan ulang (reskilling), memberikan dukungan kepada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta memperkuat kerja sama pengembangan sumber daya manusia di kawasan ASEAN.
Ekonom ILO sekaligus penulis utama laporan, Christian Viegelahn, menegaskan bahwa keberhasilan pemanfaatan AI tidak hanya ditentukan oleh akses terhadap teknologi, tetapi juga investasi pada kualitas sumber daya manusia dan sistem perlindungan sosial.
"Produktivitas tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada investasi dalam modal manusia dan perlindungan sosial. Masa depan pasar kerja akan lebih ditentukan oleh kebijakan yang membangun kesiapan dan ketahanan pekerja, perusahaan, serta institusi," ujarnya.
ILO menilai kebijakan yang tepat akan menjadi kunci agar perkembangan AI dapat menciptakan manfaat yang inklusif, meningkatkan produktivitas, dan memperkuat daya saing ekonomi negara-negara ASEAN tanpa menimbulkan disrupsi besar terhadap dunia kerja.(*)
8 bulan yang lalu