Minggu, 11 Oktober 2026 14:54 WIB
Penulis:Nila Ertina

MENGUNJUNGI Tugu Monas, kerap menjadi parameter ketika berkunjung ke Jakarta, dan disebut sah ke Jakarta, Namun, sesungguhnya jangan cuma tahu Monas saja.
Seorang kawan yang telah lama merantau di Jakarta mengatakan pada saya. "Coba sesekali waktu sore, ajak kawanmu naik motor ke Masjid Istiqlal. Rasanya beda banget buat hati," kata seorang kawan, disampaikannya sesaat setelah saya resmi angkat kaki dari Palembang untuk mengadu nasib di ibu kota.
Kalimat tersebut terus menempel di kepala. Jujur saja, sebagai perantau baru asal Palembang yang terbiasa dengan bentang alam sungai yang mengalir tenang, Jakarta di mata saya masih terasa sangat mengintimidasi. Macet tiada henti, deru mesin yang bising, hingga deretan gedung pencakar langit sering kali memicu rasa cemas yang samar di dalam hati saya tentang bagaimana masa depan saya sebagai perempuan di kota asing ini.
Baca Juga:
Hingga akhirnya pada suatu sore di hari Sabtu, saat momen libur kerja yang sudah lama saya tunggu, ego saya untuk keluar dari rasa penat yang memuncak. Setelah seminggu penuh diperas oleh rutinitas pekerjaan baru, saya mengajak seorang kawan untuk keluar dari kamar. Modal kami cuma satu motor matic tua dan niat untuk melipir sejenak mencari tempat bersandar.
Perjalanan sore itu bukan sekadar pelarian dari rasa penat, melainkan puncak dari penantian panjang sejak saya masih kecil. Selama ini, Masjid Istiqlal hanyalah sebuah tempat yang megah di kepala saya, sebuah ikon nasional yang cuma bisa saya pandang dengan takjub lewat layar kaca di rumah kami di Palembang. Menatapnya dari jauh selalu menumbuhkan janji dalam hati bahwa suatu hari nanti, saya harus berdiri di sana.
Ternyata impian masa kecil itu menjadi daftar keinginan utama yang juga disepakati bersama kawan saya ini. Kami ingin membuktikan sendiri testimoni banyak orang yang bilang kalau masjid terbesar di Asia Tenggara ini punya semacam daya magis untuk menenangkan jiwa yang sedang kebingungan di tanah perantauan.
Menembus Senja Jakarta Berboncengan
Perjalanan sore itu benar-benar menjadi pembaptisan pertama kami sebagai pendatang baru Jakarta di akhir pekan. Walaupun hari Sabtu adalah hari libur kerja, jalanan menjelang Magrib di sekitaran Lapangan Banteng ternyata tetap di puncak gilanya. Kami harus selap selip di antara himpitan mobil, menembus kepulan asap knalpot, dan melawan embusan angin sore yang kering.
Riuh rendah suara klakson terdengar seperti bentakan yang menyuruh kami untuk buru-buru.
Namun, semua ketegangan di atas motor itu mendadak ambyar begitu roda motor kami berbelok memasuki gerbang kompleks Masjid Istiqlal. Entah bagaimana mekanismenya, hawa panas dan kebisingan jalanan Lapangan Banteng langsung seperti diputus paksa. Suara bising berganti dengan hamparan pelataran luas yang bersih, pohon yang bergerak pelan, dan ketenangan yang terasa begitu mahal.
Bagi anak Palembang yang terbiasa melihat luasnya Sungai Musi, hamparan pelataran batu ini memberikan rasa lapang yang serupa, sebuah ruang napas yang sangat lega.
Setelah memarkir motor dan menitipkan alas kaki, kaki telanjang kami langsung disambut oleh dinginnya lantai marmer koridor masjid. Rasa sejuknya menjalar cepat dari telapak kaki, seolah langsung meluruhkan semua kelelahan fisik dan kecemasan mental yang kami bawa sepanjang jalan tadi.
Obrolan di Batas Suci dan Sejarah yang Terpahat
Sebelum melangkah lebih jauh ke ruang utama, kami sempat tertahan di area selasar, dan berpapasan dengan seorang petugas keamanan senior yang sedang berjaga.
Wajahnya tegas khas seragamnya, tapi senyumnya sangat ramah saat menyapa kami yang tampak celingukan. Melihat kami yang masih canggung, dia justru membuka obrolan santai.
Dari pak satpam inilah kami mendapat cerita yang jauh lebih hidup dibanding yang biasa tertulis di buku sejarah resmi. Sambil menunjuk ke arah pilar pilar besar, dia bercerita dengan nada bangga.
Mbak mbak ini pasti baru ya kesini? Kelihatan dari mukanya yang masih linglung, tebaknya sambil terkekeh halus. Masjid ini namanya Istiqlal, artinya Merdeka. Uniknya, yang merancang bangunan ini adalah mendiang Friedrich Silaban, seorang arsitek Kristen Protestan anak seorang pendeta.
Dulu Bung Karno sengaja mengadakan sayembara, dan rancangan bertema Ketuhanan milik Pak Silaban inilah yang menang.
Petugas itu juga menambahkan cerita menarik yang membuat saya tertegun. "Dulu tempat kita berdiri ini bukan tanah kosong, Mbak," kata pria itu. Ini bekas benteng pertahanan Belanda namanya Benteng Prins Frederik. Bung Karno bersikeras membangun masjid di sini agar berhadapan langsung dengan Gereja Katedral, ulasnya.
Tujuannya mulia, biar bangsa kita yang beragam ini selalu ingat cara hidup berdampingan secara damai.
Mendengar cerita langsung dari sang penjaga malam itu membuat kekaguman kami berlipat ganda.
Istiqlal bukan sekadar bangunan mati, ada keringat sejarah selama 17 tahun pembangunan dan simbol toleransi luar biasa yang dirawat di dalam dinding dinding marmernya.
Khusyuk Jelang Magrib di Bawah Kubah Raksasa
Kami kemudian berpamitan pada petugas tersebut untuk menuju tempat wudhu dan bersiap masuk ke ruang utama salat.
Momen melangkah melewati pintu besar menuju ruang utama menjadi detik detik yang membuat dada saya berdegup kencang. Saat benar benar berada di dalam, langkah kaki saya spontan terhenti. Kepala saya refleks mendongak ke atas, dan seketika itu juga seluruh tubuh saya meremang.
Persis di langit langit, sebuah kubah raksasa berdiameter 45 meter berdiri dengan keagungan yang luar biasa, ditopang oleh 12 tiang besar berlapis baja antikarat yang berkilauan. Skala ruangan yang begitu masif berpadu dengan pencahayaan senja yang temaram membuat interior masjid ini tampak sangat sakral dan magis. Air mata saya hampir jatuh menatap pemandangan indah di atas sana.
Ada rasa haru yang membuncah luar biasa ketika menyadari bahwa anak kecil dari Palembang yang dulu cuma bisa mengagumi masjid ini dari balik layar televisi, kini benar benar sedang berdiri, bernapas, dan bersujud di bawah kubahnya. Impian yang dulu terasa begitu jauh di ujung pulau, kini mewujud nyata di depan mata.
"Megah banget," seruku sampai bingung mau berkata apa lagi, bisik kawan saya dengan suara bergetar karena ikut takjub.
Sore berganti malam, dan kumandang azan Magrib akhirnya menggema di dalam ruangan luas berkapasitas ribuan jemaah tersebut. Gema suaranya begitu bulat, memantul di dinding dinding tinggi dan seolah mengetuk lubuk hati yang terdalam. Kami langsung menuju saf perempuan, menunaikan shalat sunah dan shalat fardu berjamaah. Setelah selesai, kami tidak langsung beranjak. Kami hanya duduk bersila di atas karpet merah yang tebal, membiarkan mata kami terus memandangi setiap sudut detail arsitekturnya dengan sisa rasa tidak percaya.
Di bawah kubah raksasa itu, semua kepenatan sisa seminggu bekerja dan ketakutan saya sebagai anak rantau seolah luruh tanpa sisa, digantikan oleh rasa syukur yang teramat besar.
Catatan Kecil di Balik Kemegahan
Meski pengalaman spiritual di dalam ruangan sangat luar biasa dan memicu kekaguman mendalam, sebagai perantau yang mencoba jujur pada keadaan, ada satu catatan kecil yang kami rasakan saat berada di fasilitas luar setelah selesai ibadah.
Sebagai masjid nasional yang menjadi kebanggaan internasional, ekspektasi kami terhadap fasilitas penunjangnya tentu sangat tinggi. Malam itu, malam minggu di mana pengunjung sedang cukup ramai, saat kami hendak membasuh tangan di area toilet dekat parkiran motor, aliran air di beberapa keran terasa sangat kecil, bahkan ada yang mampet.
Beberapa colokan listrik di area tunggu luar juga tampak agak longgar dan rusak, menyulitkan kami yang ingin mengisi daya baterai ponsel.
Baca Juga:
Kekurangan itu sempat kami sampaikan secara sopan kepada salah satu petugas yang sedang membersihkan selasar. Tanggapannya sangat cepat dan responsif, Baik Kak, terima kasih banyak masukannya. Segera kami koordinasikan dengan tim teknis untuk diperbaiki. Sikap tanggap dan sopan para petugas di sini membuat kekurangan minor tersebut bisa larut tanpa merusak kehangatan pengalaman kunjungan kami.
Rumah Kedua di Tanah Rantau
Waktu menunjukkan pukul 19.15 WIB ketika kami akhirnya memutuskan untuk menyudahi kunjungan dan berjalan kembali ke parkiran motor.
Malam sudah sepenuhnya turun, dan lampu lampu sorot mulai menyinari menara tunggal Istiqlal yang menjulang tinggi menembus langit malam Jakarta, membuatnya terlihat semakin bercahaya dan agung.
Sembari memakai helm dan bersiap menembus kembali kemacetan malam minggu di ibu kota, saya memandang sekali lagi bangunan megah itu dengan senyum yang tidak bisa disembunyikan. Kunjungan yang hanya beberapa jam dari sore hingga lepas Magrib di hari libur ini sukses mengubah cara pandang saya tentang Jakarta yang keras.
Terima kasih, Istiqlal, sudah mengizinkan saya merealisasikan impian masa kecil saya. Kami berdua pulang membelah malam tidak hanya dengan galeri ponsel yang penuh foto arsitektur estetis, tapi juga dengan satu keyakinan baru di dalam dada: bahwa jauh dari rumah kami di Palembang, di tengah kerasnya perjuangan hidup di Jakarta, saya sudah menemukan rumah kedua yang paling menenangkan sekaligus mencoret salah satu wishlist terbesar dalam hidup saya.(Senia Aprinia Sari)