Rabu, 04 Februari 2026 19:01 WIB
Penulis:Susilawati

PALEMBANG, WongKito.co - Provinsi Sumatera Selatan pada Januari 2026 mencatatkan inflasi sebesar 0,05% (mtm), menurun dibandingkan periode sebelumnya yang sebesar 0,49% (mtm).
Secara tahunan, inflasi Sumatera Selatan tercatat 3,33% (yoy), meningkat dari bulan sebelumnya sebesar 2,91% (yoy), sejalan dengan tren inflasi nasional yang meningkat menjadi 3,55% (yoy) dari 2,92% (yoy).
Dengan capaian tersebut, inflasi Sumatera Selatan tetap berada dalam rentang sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1%, yang mencerminkan terjaganya stabilitas harga di tengah pertumbuhan ekonomi yang terus berlanjut. Dengan capaian tersebut, inflasi Sumatera Selatan tetap berada dalam rentang sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1%, yang mencerminkan terjaganya stabilitas harga di tengah pertumbuhan ekonomi yang terus berlanjut.
Baca juga:
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan, Bambang Pramono di Palembang, Rabu mengatakan, Inflasi di Provinsi Sumatera Selatan pada periode laporan, utamanya didorong oleh peningkatan harga sejumlah komoditas strategis.
Komoditas dengan andil inflasi terbesar antara lain emas sebesar 0,42% (mtm), tomat sebesar 0,06% (mtm), bawang putih (0,02%), dan kacang panjang (0,01%). Kenaikan harga emas perhiasan berlanjut sejalan dengan meningkatnya permintaan masyarakat terhadap instrumen safe-haven di tengah dinamika ekonomi global. Sementara itu, kenaikan harga komoditas pangan daging ayam ras didorong oleh meningkatnya konsumsi masyarakat pada periode HBKN Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Sedangkan kenaikan harga untuk aneka komoditas horti, diakibatkan terbatasnya pasokan dari daerah sentra dikarenakan gangguan cuaca.
Ke depan, lanjutnya, inflasi Sumatera Selatan diperkirakan tetap terjaga meskipun terdapat beberapa faktor yang perlu diantisipasi, seperti peningkatan konsumsi masyarakat pada periode Tahun Baru Imlek, dan Ramadhan. Tekanan harga pangan dan hortikultura berpotensi muncul seiring curah hujan yang diprediksi masih tinggi hingga Februari. Disamping itu perlu penguatan koordinasi pasokan dan distribusi pangan utamanya pada komoditas strategis yang berpotensi mengalami peningkatan permintaan jelang Ramadan dan Idul Fitri seperti telur, daging ayam ras, aneka bawang dan aneka cabai agar ketersediaan tetap terjaga dan harga tetap terkendali.
Lebih lanjut ia menuturkan, harga emas perhiasan masih berpotensi berada pada level tinggi akibat dinamika global yang mempengaruhi inflasi inti. Di sisi lain, tekanan inflasi diprakirakan mulai melandai sejalan dengan proyeksi puncak panen padi pada periode Februari – Maret 2026 yang akan memperkuat pasokan pangan.
Dalam rangka menjaga stabilitas harga, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumatera Selatan terus memperkuat koordinasi dan sinergi melalui strategi pengendalian inflasi berbasis 4K, yaitu keterjangkauan harga (K1), ketersediaan pasokan (K2), kelancaran distribusi (K3), dan komunikasi yang efektif (K4). Berbagai langkah konkret telah dilakukan, antara lain penyelenggaraan operasi pasar murah dan gerakan pangan murah, koordinasi pendistribusian beras SPHP secara intensif dengan Perum Bulog, serta penyaluran komoditas pangan yang terjangkau melalui Toko KePo (Kebutuhan Pokok), RPK (Rumah Pangan Kita), dan Toko Penyeimbang milik Perumda Pasar Palembang Jaya.
TPID juga secara rutin melakukan pemantauan harga dan ketersediaan pasokan di pasar untuk menjaga daya beli masyarakat, seperti melalui inspeksi mendadak (sidak) ke pasar, distributor, dan produsen untuk memastikan harga sesuai HET serta stok tersedia mencukupi.
Sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan, pada kuartal I 2026 telah dilaksanakan Panen Raya Jagung Serentak di berbagai kabupaten dan kota di Sumatera Selatan. Total luas lahan tanam mencapai lebih dari 270 ha dengan estimasi hasil panen mencapai 3-6 ton per hektar. Panen raya yang diperkirakan berlangsung hingga April 2026 diharapkan dapat mendukung stabilitas pasokan jagung serta berkontribusi dalam menjaga stabilitas harga komoditas pangan terkait (telur dan daging ayam) selama HBKN Idul Fitri.
Selain itu, TPID Sumatera Selatan senantiasa mendukung kelancaran distribusi pangan melalui pemberian subsidi harga dan ongkos angkutan untuk menjaga kelancaran distribusi dan stabilisasi harga pangan. Seluruh langkah tersebut dilengkapi dengan strategi komunikasi yang efektif melalui forum komunikasi dan koordinasi, seperti rapat koordinasi, high level meeting serta capacity building, hingga publikasi, sehingga kebijakan dapat tersampaikan secara luas dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Sebagai contoh, telah dilaksanakan audiensi dengan DKPP Provinsi Sumatera Selatan dalam rangka pembahasan sinergi menjaga ketahanan pangan dan Rakor pengamanan SPHP jelang HBKN Ramadhan dan Idul Fitri.
Ke depan, Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan bersama Pemerintah Daerah berkomitmen untuk terus memperkuat sinergi dan kolaborasi dalam menjaga stabilitas harga dan ketahanan pangan. Berbagai program strategis, baik melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) di tingkat nasional maupun Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP) di tingkat daerah, akan terus dioptimalkan.
Selain itu, TPID Sumatera Selatan akan senantiasa memperkuat koordinasi dengan pelaku usaha, distributor, serta instansi terkait guna memastikan keterjangkauan harga dan ketersediaan pasokan pangan, termasuk untuk mendukung pelaksanaan program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG). Seluruh upaya tersebut diarahkan untuk menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran, memperkuat fondasi ketahanan pangan, meningkatkan produktivitas sektor pertanian, serta mendorong pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan.