Kala Perempuan Bertahan Suarakan Dampak Tambang Batu Bara

Selasa, 10 Februari 2026 10:51 WIB

Penulis:Nila Ertina

Sumhayana (47) warga Desa Muara Mauang
Sumhayana (47) warga Desa Muara Mauang (Foto WongKito.co/Joka M Munir)

EMBUN pagi menggantung di ujung daun, menetes pelan ke tanah yang gelap dan lunak. Udara dingin menyentuh kulit, membawa bau tanah yang belum tersentuh matahari. Banyak kendaraan lalu-lalang tepat di depan rumah salah satu warga Desa Muara Maung, Lahat, Sumatera Selatan.

Rumah itu adalah tempat tinggal perempuan bernama Sumhayana (47). Saat ini di depan rumah keadaan bising seperti di kota-kota besar.

Dahulu di belakang rumahnya ada kebun yang menghasilkan sayur-sayuran sebagai pangan untuk makan keluarga Sumhayana.

Tak hanya itu, sungai mengalir tidak jauh dari rumah. Airnya bening, bergerak pelan di antara batu-batu kecil yang licin. Banyak warga di pinggir sungai, memanfaatkan air sungai untuk kehidupan sehari-hari.

Baca Juga:

Di tepi sungai, rumput tumbuh rapat dan hijau.  Ketika hujan turun, air hujan meresap, menghilang ke dalam tanah, menyisakan permukaan yang lebih subur.

Terdapat hutan kecil di sekitar desa, cahaya matahari jatuh terputus-putus di sela dedaunan. Buah-buahan tumbuh, sebagian jatuh ke tanah, menyebarkan aroma manis dan asam. Sumhayana kecil memungut hingga memakan buahnya.

Sore hari, desa hidup oleh suara. Tawa anak-anak memantul dari sungai ke halaman rumah. Tubuh-tubuh kecil melompat ke air, menyelam kedasar bawah sungai. Malam datang, tanah mengeluarkan aroma hangat. Sunyi terasa akrab, bukan menakutkan. Alam dan manusia beristirahat bersama.

Begitulah Muara Maung dalam ingatan Sumhayana kecil, tanah yang menerima pijakan, air yang bisa dipercaya, dan kehidupan yang tumbuh tanpa dipaksa.

Kini, di bumi yang semakin panas, tanah sekitar permukiman gersang. Kebun tak lagi menjadi sumber pangan, buah dan sayuran sulit bertahan tumbuh. Air sungai keruh naik perlahan, menutup jalan tanah dan merayap masuk ke halaman rumah Sumhayana.

"Beberapa hari kemarin pada 1 Februari 2026, rumah kami kena banjir. Dulu banjir memang ada tapi cuma di lahan, sekarang sudah sampai masuk ke rumah dan berlumpur," kata Sumhayana pada Kamis (5/2/2026).

Air Tercemar Lumpur Batu Bara

Sungai yang telah tercemar lingkungan, tak terdengar riak kehidupan. Lumpur mengendap di dasar, membawa bau asing yang membuat warga tidak lagi menyentuhnya. Sumur-sumur warga pun bernasib sama, airnya tak bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Meski masih segelintir warga yang terpaksa memanfaatkannya karena tak punya pilihan lain.

Air yang dulu menjadi sumber kehidupan kini berubah menjadi ancaman. Warga menduga tanah telah tercemar zat berbahaya dari aktivitas perusahaan tambang batu bara yang berada di wilayah hulu sungai.

"Dulu makan minum semua mengandalkan sumur dan sungai, sekarang hanya bisa untuk mandi dan cuci, karena air lumpur sudah bercampur entah bahan apa, itupun kami duga berasal dari perusahaan tambang," ucap Sumhayana.

Kerusakan lingkungan itu perlahan menjalar ke tubuh manusia. Kesehatan warga Desa Muara Maung kian menurun. Anak-anak dan lansia menjadi kelompok paling rentan. Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), batuk, dan pilek menahun menjadi keluhan yang nyaris rutin terdengar.

Sumhayana, seorang ibu dengan dua anak sering menyaksikan langsung dampak itu. Ia kerap berkeliling desa, mendatangi rumah-rumah warga, mencari balita yang sering sakit. Dari para ibu, ia mendengar cerita yang hampir seragam.

"Anak mereka rutin sakit, hampir sebulan sekali kena. Berobat pun sendiri tanpa ada bantuan dari pihak perusahaan. Padahal itu seharusnya menjadi tanggung jawab pihak perusahaan yang ada di sekitar sini," kata Sumhayana.

Awalnya, Sumhayana hanya bisa diam. Ia menahan kegelisahan dan amarah dalam hati. Tidak berani bersuara, tidak tahu harus mengadu ke mana. Ketakutan dan kebingungan membuat banyak warga memilih bertahan dalam senyap.

Dukungan Datang

Perlahan, keberanian itu tumbuh. Bertemu dengan teman-teman media dan aktivis lingkungan membuka jalan baginya untuk bersuara.

"Beberapa tahun terakhir ini kami bersama teman aktivis dan jurnalis menyuarakan suara masyarakat yang terdampak, melalui media sosial, mendatangi dinas-dinas terkait, hingga menyuarakannya kepada pemerintah," cerita Sumhayana.

Baca Juga:

Respons yang nyata memang belum datang, tetapi bagi Sumhayana, didengar saja sudah menjadi awal.

"Walaupun belum ada tanggapan setidaknya mereka bisa mendengar, mungkin mereka sudah mendengar sebenarnya, hanya saja tindakannya belum ada," ungkap Sumhayana.

Sumhayana tak berharap desanya kembali sepenuhnya seperti dulu. Ia hanya ingin lingkungan diperbaiki, dari sungai yang kini mati, suara perlawanan masih bisa mengalir pelan, namun terus bergerak.

"Ke depannya kalo bisa suasana desa ini walaupun tidak bisa seutuh dulu setidaknya dampaknya berkurang dengan adanya suara suara dari kami masyarakat kecil ini," harap Sumhayana.(Magang/Manda Dwi Lestari)