KabarKito
Ketika Fans K-Pop Indonesia Kecam Pendanaan PLTU Batu Bara
JAKARTA, WongKito.co – Para penggemar K-pop di Indonesia mengecam bank besar Korea Selatan terkait pendanaannya terhadap proyek-proyek industri yang berhubungan dengan batu bara, menunjukkan potensi komunitas penggemar untuk bergerak sebagai aktor politik serta sosial.
Kpop4planet, sebuah platform advokasi iklim global yang digagas oleh penggemar K-pop, menyuarakan penentangan terhadap pembiayaan luar negeri Hana Bank kepada produsen nikel utama Indonesia, Harita Group.
Mereka mengatakan, penggunaan pembangkit listrik tenaga batu bara oleh perusahaan tersebut berdampak negatif terhadap iklim, bertentangan dengan janji iklim bank dan citra publiknya yang telah dibentuk oleh bintang-bintang K-pop.
Hana Bank sendiri merupakan lembaga keuangan Korea yang banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia. Untuk menarik kalangan muda, bank ini menggandeng sejumlah idol K-pop, seperti G-Dragon dan Ahn Yujin IVE, sebagai duta promosi.
Mewakili lebih dari 280.000 pengikut di media sosial, Kpop4Planet bersama 12 fan club K-pop di Indonesia telah menggelar kampanye bertajuk “Hana, Bring K-pop, Not Coal” sejak Desember lalu.
Mereka menilai bank tersebut terus memberikan pinjaman kepada Harita Group di Pulau Obi, Indonesia, di mana pembangkit listrik tenaga batu bara baru memasok energi ke industri pengolahan nikel yang berkembang pesat.
Pulau Obi dengan cepat berubah menjadi pusat industri utama seiring melonjaknya permintaan global terhadap nikel, yang didorong oleh meningkatnya kendaraan listrik dan produksi baterai. Sebagian besar aktivitas pengolahan nikelnya bergantung pada pembangkit listrik tenaga batu bara.
Menurut laporan Recourse yang berbasis Belanda, anak usaha Hana Bank di Indonesia membantu mengatur pinjaman sindikasi senilai US$530 juta pada tahun 2022 untuk afiliasi Harita Group.
Dana tersebut digunakan untuk pelunasan utang dan pembangunan pabrik peleburan nikel di Pulau Obi. Global Energy Monitor memperkirakan pembangkit listrik tenaga batu bara yang memasok kawasan ini telah melampaui 1.630 megawatt, dan Harita berencana meningkatkan kapasitasnya hingga lebih dari 4 gigawatt.
Emisi tahunan Harita sudah mencapai sekitar 1% dari total emisi Indonesia dan diproyeksikan hampir dua kali lipat pada 2028.
Para aktivis mengatakan praktik tersebut bertentangan dengan janji Hana Financial Group sendiri untuk keluar dari pembiayaan batu bara, yang diumumkan pada tahun 2021.
“Pulau Obi yang dulunya hijau dan subur kini mengalami kerusakan lingkungan yang parah,” kata kelompok penggemar dalam surat terbuka mereka kepada Hana Bank.
“Warga semakin kesulitan mendapatkan air bersih, sementara industri terus beroperasi dengan dukungan pendanaan internasional,” tulis mereka.
“Emisi karbon dan polusi dari perluasan batubara, yang dimungkinkan oleh pembiayaan Hana Bank, akan menjadi beban langsung bagi generasi mendatang,” imbuhnya.
- Simak Tips War Tiket Tambahan KAI, Siap Lebaran 2026
- Lezat, Yuk Buat Puding Semangka
- Kala Perempuan Bertahan Suarakan Dampak Tambang Batu Bara
Menanggapi kritik tersebut, Hana Bank mengatakan kepada The Korea Herald, mereka belum memberikan pembiayaan proyek untuk usaha baru terkait batubara sejak mengumumkan kebijakan keluar dari industri batubara pada tahun 2021.
Bank itu juga menekankan bahwa keterlibatannya dalam proyek peleburan nikel di Indonesia bukan sebagai pengatur, melainkan hanya sebagai peserta kecil dalam skema pinjaman sindikasi.
Hana Bank mengonfirmasi bahwa anak perusahaannya di Indonesia ikut serta dalam pinjaman sindikasi senilai US$530 juta yang diberikan pada 2022 kepada salah satu afiliasi Harita Group bersama DBS dan UOB. Namun, porsi pembiayaan Hana Bank disebut hanya sebesar US$15 juta dan telah dilunasi sepenuhnya.
Bank tersebut mengatakan bahwa mereka kemudian berpartisipasi dalam putaran pembiayaan ulang senilai US$500 juta pada tahun 2024 dengan komitmen US$30 juta, di mana sekitar US$25,5 juta masih belum dilunasi.
Bank tersebut juga berpendapat bahwa menghindari semua pemberian pinjaman kepada perusahaan yang secara tidak langsung menggunakan listrik yang dihasilkan dari pembangkit listrik tenaga batu bara adalah sulit secara realistis, dan mencatat bahwa ini adalah tantangan yang dihadapi oleh lembaga keuangan lain yang beroperasi di pasar negara berkembang.
Aktivis Kpop4Planet Nurul Sharifah mengatakan kepada media lokal bahwa sensitivitas pembangkit listrik tenaga batu bara di daerah seperti Maluku Utara, di mana banyak masyarakat masih kekurangan listrik yang stabil, sangatlah penting.
“Di tempat-tempat seperti Halmahera Selatan, tempat Pulau Obi berada, masyarakat masih kesulitan mengakses listrik, sehingga pembangkit listrik tenaga batu bara mandiri yang tidak memberikan manfaat bagi masyarakat menjadi poin kritik utama,” ujarnya.
Sharifah, yang melakukan perjalanan ke Seoul untuk menyampaikan pandangan penggemar langsung ke Hana Bank, menggambarkan dirinya sebagai penggemar D.O EXO selama satu dekade, dan mengatakan bahwa dia merasa dikhianati ketika mengetahui sebuah bank Korea mendukung proyek yang bergantung pada batu bara di luar negeri.
“Kami menyukai K-pop, jadi kami peduli dengan masa depan yang akan dijalani idola kami,” katanya.
Tiga Tuntutan Utama
Melalui aksi lintas lintas negara ini, fandom K-pop di Indonesia mengajukan tiga tuntutan utama kepada Hana Bank:
- Menghentikan seluruh pendanaan terhadap Grup Harita selama perusahaan tersebut masih mengandalkan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara baru.
- Menecualikan investasi pada perusahaan yang membangun atau memperluas bisnis berbasis PLTU batu bara.
- Memperkuat kebijakan pendanaan berbasis iklim yang selaras dengan target penurunan emisi global.
Seruan tersebut juga ditujukan kepada lini bisnis Hana Bank di Indonesia, termasuk Line Bank, yang dikenal aktif menyasar anak muda.
Aktivisme K-Pop
Didirikan pada 2021, Kpop4Planet mendefinisikan dirinya sebagai wadah bagi penggemar K-pop mengadvokasi keadilan iklim dalam solidaritas dengan komunitas yang seringkali dikecualikan dari debat lingkungan, seperti anak muda, masyarakat adat, perempuan, negara-negara Global South, dan komunitas LGBTQ+.
Sejumlah akademisi menilai penggemar K-pop sebagai salah satu kelompok online yang paling terorganisasi dan mudah digerakkan di dunia, yang sejak lama dikenal karena koordinasi digital mereka.
Komunitas penggemar K-pop memiliki jaringan komunikasi yang pada di berbagai platform media sosial, mengoperasikan tim yang dijalankan oleh sukarelawan, dan memiliki pengalaman dalam mengoordinasikan donasi massal, penggalangan dana, dan kampanye.
“Meskipun komunitas penggemar biasanya berpusat pada artis, mereka telah berkembang menjadi komunitas dengan norma internal yang kuat seputar keadilan, inklusi, dan tindakan kolektif,” jelas pengamat budaya Ha Jae-geun.
- Perekonomian Sumsel Tumbuh 5,2%, BI Luncurkan LPI
- Transisi Energi di Persimpangan, Efek Batalnya Pensiun PLTU
- Misbakhun, Kandidat Ketua OJK Rekam Jejak dan Kontroversi
Di Indonesia, di mana K-pop memiliki basis penggemar muda yang sangat besar, para penggemar sebelumnya telah bergerak untuk berbagai tujuan sosial, mulai dari bantuan bencana hingga transparansi politik.
“Kampanye melawan Hana Bank menyoroti bagaimana penggemar global sekarang mengharapkan perusahaan yang didukung oleh bintang K-pop untuk menjunjung tinggi tanggung jawab sosial dan iklim, bukan hanya memanfaatkan citra idola untuk pemasaran,” ujar Ha Jae-geun.
“Masalahnya bukan hanya lingkungan, tetapi juga hubungan. Ada anggapan bahwa perilaku perusahaan harus selaras dengan nilai-nilai yang diasosiasikan dengan para seniman yang mereka kagumi,” tambahnya.
Kelompok penggemar di Indonesia mengatakan mereka akan melanjutkan kampanye mereka sampai Hana Bank secara jelas berkomitmen untuk mengakhiri pembiayaan terkait batu bara.
“Kami tidak akan berhenti sampai Hana Bank memberikan jawaban yang jelas dan mengakhiri pembiayaan untuk industri yang bergantung pada pembangkit listrik tenaga batu bara,” tegas kelompok tersebut.
Tulisan ini telah tayang di TrenAsia.com, jejaring media WongKito.co, pada 9 Februari 2026.

