Ketika Buruh Perempuan Kerepotan: Urus Anak Sekolah dan Kerja

Kamis, 08 Oktober 2026 08:05 WIB

Penulis:Nila Ertina

Ketika Buruh Perempuan Kerepotan: Urus Anak Sekolah dan Kerja
Ketika Buruh Perempuan Kerepotan: Urus Anak Sekolah dan Kerja (Foto WongKito.co/Magang/Nur Izzati Kharisma)

"Yuk pegawai ayuk ini ado berapo?, tanyaku saat berkunjung ke rumah produksi kerupuk ikan di kawasan Tangga Raja, Kecamatan Seberang Ulu I, Palembang, akhir pekan lalu.

"Ada 3 orang," jawab Sarnati pemilik rumah produksi kemplang tersebut. Namun, saat itu kami hanya melihat 2 orang pekerjanya sedang mencetak dan menjemur kerupuk.

"Sedang pulang urus anaknya yang sekolah daring," kata dia saat kutanya lagi.

Baca Juga:

Tak lama, Alya perempuan berusia 30 tahun tersebut datang dan kembali bekerja. Ia bercerita sejak sekolah dialihkan menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sangat kerepotan.

"Aku ini harusnya bekerja sejak pukul 07.30 WIB sampai sore, tetapi terpaksa minta izin ke bos agar bisa menenami anak sekolah online dulu," kata dia.

Dia bercerita anaknya baru kelas 2 SD, sehingga tidak bisa dilepaskan untuk mengerjakan tugas di rumah sendirian.

"Perlu usaha yang lebih keras karena PJJ ini," kata dia lagi.

Sebelumnya, menurut Alya dirinya hanya mengantar jemput anak ke sekolah dan belajar di rumah saat malam.

Namun, kini terpaksa harus mendampingi anak belajar dan mengerjakan tugas sekolah.

"Membagi waktunya lumayan repot, antar bekerja bikin kerupuk dengan mendampingi anak sekolah," tutur Alya lagi.

Kabut Asap Makin Parah

Setelah lebih dari 3 pekan sekolah dasar dan SMP di Kota Palembang menerapkan PJJ, hingga Kamis (8/10/2026) belum ada kepastian kapan Kembali belajar di sekolah.

Kondisi kabut asap di Kota Palembang semakin parah, bahkan catatan Dinas Kesehatan setempat sepanjang September 2026, sebanyak 17.434 kasus ISPA.

Tingginya angka penderita ISPA tersebut, erat kaitannya dengan kualitas udara di kota yang dibelah Sungai Musi belum bebas dari status berbahaya, dengan tingkat polutan PM2.5 sangat tinggi pernah mencapai 600 µg/m³ lebih.

Ojol Sepi Orderan

Dampak kabut asap yang pekat, telah dirasakan mayoritas warga Palembang, termasuk pengemudi ojek online (Ojol) yang mengaku kini orderan turun drastis.

Salah satunya, Agus (31) yang mengaku tetap mencari penumpang, di tengah kabut asap dan sepinya pesanan.

"Saya harus tetap memenuhi kebutuhan keluarga, jadi tidak bisa berhenti narik," kata dia.

Baca Juga:

Dia mengungkapkan, normalnya setiap  hari dia bisa membawa pulang upah tidak kurang dari Rp75 ribu, tetapi sejak 2 bulan ini, turun drastis. "Bahkan kadang hanya Rp25 ribu bawa pulang, karena memang orang enggan ke luar rumah," kata dia.

Sebelumnya, Walhi Sumatera Selatan merilis sebanyak 81 perusahaan perkebunan terpantau titik api atau hotspot dengan jumlah hotspot mencapai 22.690 Hotspot di Lahan Konsesi.(ert)