"Lipstick Effect" dan Tren F&B di Palembang

Sabtu, 11 Juli 2026 13:08 WIB

Penulis:Nila Ertina

Editor:Nila Ertina

Ilustrasi suasana kafe
Ilustrasi suasana kafe (Foto Canva)

ISTILAH "Lipstick Effect" kini semakin populer, lalu apakah sebenarnya makna dari istilah tersebut. Merunut berbagai sumber "lipstick effect" merupakan kondisi dimana orang kaya terpaksa menahan berbelanja dan berperjalanan mewah, sehingga mengantikan dengan kebiasaan "ngafe" atau nongkrong di kafe-kafe.
                                                                                                                                                                                                                                                                  Karena itu, tidak heran bisnis makanan dan minuman atau F&B kini semakin menjamur, termasuk di Kota Palembang, Sumatera Selatan.

Pada Sabtu (11/7/2026) pejabat Pemkot Palembang, Staf Ahli Bidang Ekonomi, Pembangunan dan Investasi Kota Palembang, Riza Fahlevi memnghadiri pembukaan salah satu kafe di kota Pempek, namanya Fine Today Coffee and Bistro.

Kafe tersebut didedikasikan bukan hanya untuk penikmat kopi, menyesap secangkir kopi, tetapi menjadi destinasi pertemuan, kolaborasi dan juga didorong menjadi ruang munculnya ide kreatif.

Baca Juga:

Pemkot Palembang pun mengeklim bahwa, kehadiran bisnis F&B di kota yang dibelah Sungai Musi membuktikan bahwa ekonomi ril telah berjalan optimal.

Menjamurnya, bisnis F&B, dipandang bukan sekadar penambahan destinasi kuliner bagi masyarakat, melainkan juga sebagai indikator penting dari perkembangan ekonomi kreatif di Palembang.

Pemerintah Kota Palembang berharap unit usaha ini dapat berkembang pesat serta memberikan dampak konkret berupa pembukaan lapangan kerja baru, penumbuhan wirausaha, dan penguatan ekosistem UMKM lokal.

Pertumbuhan sektor riil seperti ini sejalan dengan tren positif makro ekonomi Kota Palembang.

Berdasarkan data terbaru, pertumbuhan ekonomi Kota Palembang pada Triwulan I Tahun 2026 berhasil mencapai angka 5,91 persen. Capaian ini diperkuat dengan capaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang berada di angka 83,27.

Angka-angka strategis tersebut menjadi modal penting bagi pemerintah daerah untuk terus memacu investasi, memperluas kesempatan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan warga.

Oleh karena itu, Pemerintah Kota Palembang menegaskan komitmennya untuk selalu menciptakan iklim investasi yang kondusif serta memberikan kemudahan birokrasi bagi para pelaku usaha.

Sinergi yang kuat antara pemerintah dan dunia usaha diyakini akan menjadi fondasi utama dalam mewujudkan Palembang sebagai kota yang maju, berdaya saing, dan sejahtera.

Trik jaga keberlangsungan bisnis

Kekinian, teknologi berbasis data (data-driven F&B) untuk meningkatkan daya saing dan menjaga keberlanjutan bisnis di tengah perubahan perilaku konsumen serta tekanan biaya operasional, menjadi kunci eksistensi sebuah bisnis F&B.

Co-Founder & CEO ESB, Gunawan, mengatakan industri kuliner saat ini menghadapi tantangan baru. Meski ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen pada triwulan I 2026, daya beli masyarakat kelas menengah justru mengalami tekanan sehingga konsumen semakin selektif dalam membelanjakan uangnya.

"Konsumen tetap menikmati kuliner di luar rumah, tetapi kini lebih mempertimbangkan kesesuaian antara harga dan kualitas. Di sisi lain, kenaikan harga bahan baku ikut menekan margin usaha. Karena itu, digitalisasi berbasis data menjadi fondasi penting agar bisnis tetap bertahan dan berkembang," ujar Gunawan.

Ia menjelaskan fenomena tersebut dikenal sebagai "lipstick effect", yaitu ketika masyarakat menunda pembelian barang bernilai besar, namun tetap mengalokasikan pengeluaran untuk kebutuhan hiburan atau konsumsi harian seperti kopi dan makanan.

ESB menilai kondisi tersebut masih membuka peluang bagi pelaku usaha kuliner, asalkan mampu mengelola operasional secara efisien dan mengambil keputusan berdasarkan data bisnis secara real-time.

Untuk mendukung hal tersebut, ESB memperkenalkan tiga solusi digital terintegrasi, yakni ESB POS untuk manajemen transaksi kasir, ESB Order yang memungkinkan pelanggan memesan melalui sistem "scan-order-pay", serta ESB Core (ERP) untuk memantau stok, inventaris, dan efisiensi operasional secara real-time.

Baca Juga:

Sementara itu, F&B Educator sekaligus Business Management Consultant, Agung Haryadi, menilai keberhasilan bisnis kuliner saat ini tidak lagi ditentukan semata oleh ramainya pelanggan.

"Bisnis yang mampu bertahan adalah bisnis yang cepat membaca perubahan pasar dan mengambil keputusan berdasarkan data. Pengusaha kuliner di Palembang sudah memiliki produk yang kuat, tinggal memperkuat sistem operasional agar siap berkembang ke skala yang lebih besar," ujarnya.

Gunawan berharap pemanfaatan teknologi dan pengelolaan data operasional dapat membantu pelaku usaha kuliner di Palembang meningkatkan efisiensi, menjaga margin keuntungan, dan mempercepat ekspansi usaha di tengah persaingan industri yang semakin ketat.(*)