ESB Dorong Bisnis F&B Palembang Tumbuh Lewat Strategi Data

Kopdar Racik Bisnis F&B Menjadi Ajang untuk Saling Berbagi Pengalaman dan Pengetahuan dalam Mengelola Bisnis (Foto WongKito.co/Ist)

PALEMBANG, WongKito.co – PT Esensi Solusi Buana (ESB) mengajak pelaku usaha kuliner di Palembang memanfaatkan teknologi berbasis data (data-driven F&B) untuk meningkatkan daya saing dan menjaga keberlanjutan bisnis di tengah perubahan perilaku konsumen serta tekanan biaya operasional.

Ajakan tersebut disampaikan dalam Kopdar Racik Bisnis F&B bertema "Meramu Strategi Tepat, Bisnis Kuliner Semakin Kuat" yang digelar di Palembang, Rabu (9/7/2026). Kegiatan ini diikuti lebih dari 400 pelaku usaha kuliner dan menjadi pemberhentian ketiga dalam rangkaian roadshow nasional ESB setelah Bandung dan Bali.

Co-Founder & CEO ESB, Gunawan, mengatakan Palembang dipilih karena menjadi salah satu pusat ekonomi terbesar di Sumatera dengan ekosistem kuliner yang terus berkembang, mulai dari makanan khas daerah hingga kedai kopi dan konsep F&B modern.

Baca Juga:

Menurutnya, industri kuliner saat ini menghadapi tantangan baru. Meski ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen pada triwulan I 2026, daya beli masyarakat kelas menengah justru mengalami tekanan sehingga konsumen semakin selektif dalam membelanjakan uangnya.

Para Staf ESB selalu siap membantu para pebisnis F&B di Palembang dalam mempelajari solusi digital inovatif dari ESB.Foto Ist

"Konsumen tetap menikmati kuliner di luar rumah, tetapi kini lebih mempertimbangkan kesesuaian antara harga dan kualitas. Di sisi lain, kenaikan harga bahan baku ikut menekan margin usaha. Karena itu, digitalisasi berbasis data menjadi fondasi penting agar bisnis tetap bertahan dan berkembang," ujar Gunawan.

Ia menjelaskan fenomena tersebut dikenal sebagai "lipstick effect", yaitu ketika masyarakat menunda pembelian barang bernilai besar, namun tetap mengalokasikan pengeluaran untuk kebutuhan hiburan atau konsumsi harian seperti kopi dan makanan.

ESB menilai kondisi tersebut masih membuka peluang bagi pelaku usaha kuliner, asalkan mampu mengelola operasional secara efisien dan mengambil keputusan berdasarkan data bisnis secara real-time.

Untuk mendukung hal tersebut, ESB memperkenalkan tiga solusi digital terintegrasi, yakni ESB POS untuk manajemen transaksi kasir, ESB Order yang memungkinkan pelanggan memesan melalui sistem "scan-order-pay", serta ESB Core (ERP) untuk memantau stok, inventaris, dan efisiensi operasional secara real-time.

Owner Kopi Loer Palembang, Mirza Oktaviansyah, mengaku penggunaan sistem digital membantu mengurangi kebocoran operasional yang selama ini sering terjadi saat pengelolaan stok masih dilakukan secara manual.

"Setiap produk yang terjual langsung mengurangi stok bahan baku secara otomatis. Kami bisa memantau penggunaan bahan baku, potensi "waste", hingga performa seluruh cabang melalui ponsel," katanya.

Sementara itu, F&B Educator sekaligus Business Management Consultant, Agung Haryadi, menilai keberhasilan bisnis kuliner saat ini tidak lagi ditentukan semata oleh ramainya pelanggan.

Para Pembicara Berfoto Bersama Peserta Kopdar Racik Bisnis F&B di Palembang. Foto Ist

"Bisnis yang mampu bertahan adalah bisnis yang cepat membaca perubahan pasar dan mengambil keputusan berdasarkan data. Pengusaha kuliner di Palembang sudah memiliki produk yang kuat, tinggal memperkuat sistem operasional agar siap berkembang ke skala yang lebih besar," ujarnya.

Regional Sales Lead ESB Sumatera, Edwin Djaja, menambahkan Palembang memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pertumbuhan industri kuliner di Sumatera.

Baca Juga:

Menurutnya, melalui pemanfaatan teknologi, pelaku UMKM kuliner dapat memiliki sistem operasional yang selama ini identik dengan perusahaan besar.

Kopdar Racik Bisnis F&B merupakan bagian dari roadshow ESB di 10 kota sepanjang 2026 sebagai forum edukasi, mentoring, dan diskusi bagi pemilik usaha kuliner. Program tersebut juga menggandeng sejumlah mitra strategis, termasuk BCA sebagai mitra pembayaran digital, guna memperkuat ekosistem bisnis F&B berbasis teknologi.

Gunawan berharap pemanfaatan teknologi dan pengelolaan data operasional dapat membantu pelaku usaha kuliner di Palembang meningkatkan efisiensi, menjaga margin keuntungan, dan mempercepat ekspansi usaha di tengah persaingan industri yang semakin ketat.(ril)


Related Stories