Menelusuri Kampung Perigi, Heritage Tempat "Main" Presiden Soekarno

Selasa, 23 Juni 2026 15:25 WIB

Penulis:Nila Ertina

Suasana di Kampung Perigi, 2 Ulu Palembang, Sumsel
Suasana di Kampung Perigi, 2 Ulu Palembang, Sumsel (Foto WongKito.co/Nila Ertina FM)

KAMPUNG Perigi menjadi salah satu kawasan yang membuatku penasaran, tetapi aku baru berkesempatan mendatangi kampung tersebut saat diselenggarakannya ajang “Masak Tepi Sungai tahun 2026: Kopi dan Roti”, Sabtu (20/6/2026).

Kegiatan yang diselenggarakan komunitas Sahabat Cagar Budaya Palembang tersebut berlangsung selama 2 hari, Sabtu-Minggu (20-21/6/2026), di Lorong Tangga Raja, Kampung Perigi, Kelurahan 2 Ulu, Palembang berlangsung menarik dan mengesankan.

Ketika tiba di Kampung Perigi, Sabtu pagi aku pun langsung mencari lokasi pembuatan Kue Maksuba sesuai dengan urutan jadwal yang disebarkan komunitas Sahabat Cagar Budaya Palembang. Nyayu Mardiana tampak sedang mengipasi arang kayu dan bara api yang terlihat menyala serta menyebarkan asap, sebagai bagian dari pembuatan Kue Maksuba yang dibuat dari selapis menjadi lapis-lapisan tebal.

Baca Juga:

Nyayu bercerita Kue Maksuba ini adalah salah satu warisan kuliner Palembang yang hingga kini masih terjaga secara turun temurun.

"Maksuba biasanya disajikan di hari Raya Idulfitri dan Iduladha serta hari istimewa lainnya, seperti pernikahan," kata dia dibincangi, Sabtu (20/6/2026).

Bahan dasar Kue Maksuba sangatlah mudah untuk didapatkan, telur ayam atau telur bebek, gula dan susu kental manis serta mentega.

Untuk membuat satu loyang ukuran 22x22 cm, kebutuhan bahan Kue Maksuba adalah 2 kg telur ayam, 1 kg gula pasir dan 1/4 kg mentega serta 1 kaleng susu kental manis.

Bahan-bahan tersebut diaduk hingga tercampur larut dan siap dipanggang lapis per lapis. "Setidaknya butuh waktu 2 jam untuk memagang lapis per lapis hingga menjadi santapan manis nan gurih," kata dia.

Kampung Palembang Bingen

Setelah menyaksikan Nyayu memasak Kue Maksuba, aku dan sejumlah peserta lainnya mengikuti arahan panitia untuk mengikuti walking tour, diawali dari Rumah Limas di Kampung Perigi Laut, Koordinator Sahabat Cagar Budaya Palembang Robby Sunata mengajak memulai perjalanan menelusuri kampung Bingen Palembang yang sebagian besar masih terjaga.

Sembari melangkah, Robby menceritakan setiap sudut kampung Perigi yang dilewati. Ia mengungkapkan kalau kampung tersebut dihuni suku asli Palembang, Wong Melayu.

Kalau di bagian tengah hingga depan kampung Perigi ini, masih warga asli, tapi kalau pendatang sebagian bermukim di tepi Sungai Musi, atau biasanya disebut daerah laut, kata dia bertutur.

Setelah berjalan sekitar 10 menit, kami pun diajak untuk naik ke rumah Mang Nasir atau Masagus Nasir, rumah yang difungsikan juga sebagai bengkel alumunium yang membuat beragam peralatan memasak mulai dari dandang, cetakan kue hingga oven tangkring.

Naik ke rumah Mang Nasir, peserta langsung menyaksikan beragam peralatan masak dan cetakan kue yang dipajang di dalam rumah tersebut, juga alat pembuat cetakan dan peralatan dapur.

Tak lama, tuan rumah menyajikan minuman dan bolu gulo abang atau gula aren yang masih hangat.

"Silakan dinikmati bolu-nya dan minum teh," kata Robby, sembari bercerita orang Palembang asli itu, selalu menjaga adat mengistimewakan tamu, salah satunya dengan menyajikan minuman dan makanan.

Setelah menikmati sajian, kami pun diajak melanjutkan perjalanan. "Kita akan Kembali berkeliling, menyaksikan langsung heritage di kawasan Palembang Bingen ini," kata Robby.

Selama ini, kawasan Seberang Ulu dikenal sebagai kawasan yang padat penduduk, dengan area permukiman di atas rawa bahkan menimbun rawa. Kesan kumuh biasanya menjadi salah satu ciri permukiman padat.

Namun, saat berkeliling di Kampung Perigi, terutama bagian tengah hingga ke depan, tidak ada kawasan seperti yang ku pikirkan, Slum Area alias kawasan kumuh.

Rumah-rumah besar yang masih sangat terawat dan ruang publik yang disebut alun-alun tampak berada di tengah kampung.

"Ini kami namakan Alun-Alun Kampung Perigi," kata Robby menjelaskan.

Di antara alun-alun atau lapangan terbuka tersebut terdapat dua Rumah Bari dan dua rumah gudang. Robby kembali bercerita kalau Rumah Bari dan rumah gudang telah berusia lebih dari 100 tahun.

Dia juga menjelaskan beda Rumah Bari dan Rumah Limas, kalau Rumah Bari biasanya berupa bangunan tapak atau lantai langsung ke tanah, sedangkan Rumah Limas, bangunan rumah panggung, ada tiang penyangga dan bawahnya bisa di tempati, sedangkan Rumah Bari tidak ada ruang bawah.

Baca Juga:

Setelah puas, berada di antara Rumah Bari dan Rumah Gudang, kami pun melanjutkan perjalanan, melewati dua rumah kembar yang di tengah-tengahnya juga cocok untuk lokasi bersantai, bercengkrama lalu melanjutkan berjalan melintasi jembatan yang di bawahnya mengalir Sungai Perigi, yang dimasa lampau ramai lalu lintas perahu kayu hilir mudik.

"Ini rumah singgah sang proklamotor Presiden Soekarno Poetra," ujar Robby.

Ia bercerita berdasarkan literasi yang mereka kumpulkan, rumah yang berada di bagian depan Kampung Perigi tersebut merupakan rumah singgah Soekarno, saat berada di Palembang. Bung Karno ketika dibuang ke Bengkulu, diam-diam sempat ke Palembang, dan tinggal di rumah saudagar kopi tersebut. Namun, saat siang hingga sore Bung Karno menghabiskan waktunya di Rumah Limas laut, tempat langkah pertama peserta mengelilingi Kampung Perigi.

Kami pun kembali ke lokasi awal, ke Rumah Limas dan tempat Nyanyu memasak Kue Maksuba, dan Kue Maksuba-nya sudah jadi.

"Enak Kue Maksuba-nya," kata seorang peserta saat menyicipi sepotong kue yang telah disediakan panitia.(Nila Ertin FM)