Menyesatkan: Cium Kucing Berisiko Terinfeksi Bakteri di Otak

Jumat, 03 April 2026 12:25 WIB

Penulis:Nila Ertina

Menyesatkan: Cium Kucing Berisiko Terinfeksi Bakteri di Otak
Menyesatkan: Cium Kucing Berisiko Terinfeksi Bakteri di Otak (Ist)

VIDEO dengan klaim bahwa mencium kucing berisiko menularkan bakteri yang dapat menginfeksi otak manusia beredar di WhatsApp, Instagram, dan Facebook. Narasinya menyebutkan, bakteri ini mampu menginfeksi otak dan mengubah perilaku seseorang menjadi lebih mudah marah.

Narator video menguraikan enam tahap infeksi yang bermula dari perpindahan telur parasit ke bibir hingga menetas di dalam lambung. Selanjutnya, parasit tersebut disebut menyerang sistem imun dan membangun sarang di otak guna memanipulasi zat kimia. “Kamu jadi mudah marah, nekat, dan refleksmu melambat,” bunyi pernyataan dalam video tersebut.

Tempo mendapat permintaan pembaca untuk memeriksa klaim tersebut. Namun benarkah mencium kucing berisiko parasit membajak otak manusia?

Pemeriksaan Fakta

Tim Cek Fakta Tempo memverifikasi klaim tersebut melalui wawancara ahli kedokteran hewan dan penelusuran data medis. Hasilnya, meski kucing merupakan inang parasit Toxoplasma, penularan kepada manusia terjadi melalui kotoran, bukan lewat kontak fisik seperti ciuman. Infeksi ini juga lebih berisiko mengganggu sistem reproduksi perempuan daripada menyebabkan gangguan otak.

Dosen Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, Siti Gusti Ningrum, menegaskan bahwa kucing adalah inang utama parasit Toxoplasma. Namun, ia menyebut parasit tersebut bisa menular jika kotoran kucing yang terinfeksi tidak sengaja tertelan manusia. Dampak infeksi ini bukan menyerang otak, melainkan berisiko mengganggu kesehatan reproduksi perempuan.

“Karena itu, penting sekali untuk selalu menjaga kebersihan, terutama dengan mencuci tangan setelah memegang kucing. Aktivitas seperti mencium kucing dinilai tidak berbahaya selama kebersihan tetap diperhatikan,” kata Siti kepada Tempo, Rabu, 18 Maret 2026.

Meskipun kucing suka menjilat anusnya, sistem pertahanan alami pada air liur dan lidah kucing juga membantu meminimalisir penyebaran kuman.

Cornell University College of Veterinay Medicine mencatat, toksoplasmosis berasal dari parasit Toxoplasma gondii. Kucing dapat tertular Toxoplasma dengan memakan hewan pengerat, burung, atau apa pun yang terkontaminasi feses dari hewan lain yang terinfeksi. Kucing yang terinfeksi dapat mengeluarkan parasit tersebut melalui fesesnya hingga dua minggu.

Setelah dikeluarkan melalui feses, parasit tersebut harus matang selama satu hingga lima hari sebelum mampu menyebabkan infeksi. Namun, parasit tersebut dapat bertahan di lingkungan selama berbulan-bulan dan terus mencemari tanah, air, kebun, kotak pasir, atau tempat mana pun di mana kucing yang terinfeksi telah buang air besar.

Manusia paling sering terinfeksi karena mengonsumsi daging mentah, sayuran yang tidak dicuci, atau tanah yang terkontaminasi. Sebagian besar penderita tidak menunjukkan gejala berat, kecuali bagi mereka yang memiliki sistem imun lemah atau pada kasus kehamilan.

Gejala toksoplasmosis meliputi nyeri otot seperti flu dan demam, serta sakit kepala. Dalam kasus yang jarang terjadi, gejala yang lebih parah seperti kebingungan, kejang, muntah, atau diare.

Kebersihan dasar dapat mencegah penyebaran Toxoplasma dari kucing ke manusia. Kenakan sarung tangan saat menangani bahan yang berpotensi terkontaminasi, misalnya saat berkebun atau membersihkan kotak kotoran kucing.

Jika melihat gejala penyakit pada hewan peliharaan, Anda disarankan untuk menghubungi dokter hewan. Akan tetapi kucing yang terlihat sehat pun dapat menyebarkan kuman kepada manusia dan hewan lain.

Anda juga disarankan untuk segera membersihkan urine, feses, atau muntahan di rumah. Pastikan untuk mencuci tangan secara menyeluruh setelah membersihkan kotoran hewan.

Kesimpulan

Verifikasi Tempo menyimpulkan bahwa klaim mencium kucing berisiko parasit membajak otak manusia adalah menyesatkan.

Kucing menjadi inang definitif parasit toxoplasma. Namun, penularan kepada manusia terjadi melalui feses, bukan secara langsung dari kontak biasa seperti mencium bagian tubuh kucing lainnya.

Selain itu, apabila feses yang mengandung parasit tersebut tidak sengaja tertelan manusia, dampaknya bukan menyerang otak melainkan lebih berisiko mengganggu sistem reproduksi perempuan.

Disclaimer

Konten ini direpublikasi dari laman cek fakta tempo.co, ini link lengkapnya.(*)