Sabtu, 04 Juli 2026 08:13 WIB
Penulis:Nila Ertina

JAKARTA, WongKito.co — Di tengah gemerlap panggung Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, sembilan anak berdiri menatap dunia yang nyaris kehilangan segalanya. Tak ada orang dewasa, tak ada kepastian, hanya harapan yang mereka bawa dalam langkah kecil menuju masa depan.
Begitulah semesta yang dihadirkan dalam Musikal Senja Teduh Pelita, karya orisinal hasil kolaborasi Indonesia Kaya, Jakarta Movin, dan MALIQ & D’Essentials yang resmi dipentaskan pada 3–12 Juli 2026 di Jakarta.
Berbalut kisah fiksi ilmiah, pertunjukan ini mengajak penonton membayangkan masa depan bumi setelah diterpa perubahan iklim, krisis energi, pandemi, dan peperangan. Namun, di balik lanskap yang muram, tumbuh cerita tentang persahabatan, keluarga, dan keberanian untuk tetap menjaga harapan.
Baca Juga:
Tokoh utama bernama Arah menjadi pusat perjalanan tersebut. Diperankan secara bergantian oleh Alf Elijah Sigarlaki dan Daria Lakshmi Algamar, Arah memimpin Pasukan Pelita, sembilan anak dengan kemampuan berbeda yang berusaha bertahan hidup sekaligus mencari jejak orang tua mereka yang menghilang.
Dalam petualangannya, mereka menemukan sebuah tempat yang masih lestari dan belum tersentuh kerusakan. Teluk itu kemudian mereka namai Teluk Pelita, sebuah simbol bahwa harapan selalu bisa tumbuh, bahkan di tengah dunia yang runtuh.
Produser sekaligus sutradara, Nuya Susantono, menyebut dunia Senja Teduh Pelita lahir dari inspirasi atas karya-karya MALIQ & D’Essentials yang sarat refleksi tentang kehidupan.
“Di dalam diri kita ada cinta besarnya Arah, keberanian Kala untuk berpikir kritis, dan semangat Pasukan Pelita yang terus merawat kehidupan,” ujarnya.
Sekitar 20 lagu MALIQ & D’Essentials dihidupkan kembali dalam format baru, mulai dari Senja Teduh Pelita, Himalaya, Aurora, Jalan Pulang, hingga sejumlah lagu dari album Begini Begitu. Lagu-lagu tersebut tidak sekadar menjadi latar, tetapi menyatu dengan perjalanan emosional para tokoh di atas panggung.
Bagi Angga Puradiredja, karya-karya musik mereka kini menemukan rumah baru.
“Lagu-lagu itu tidak lagi hanya untuk didengar, tetapi juga untuk dilihat, dirasakan, dan dihidupkan dalam sebuah dunia yang baru,” katanya.
Keistimewaan lain hadir melalui dua interpretasi tokoh Arah, versi laki-laki dan perempuan. Meski menjalani alur cerita yang sama, keduanya menawarkan pengalaman emosional yang berbeda bagi penonton.
Di balik panggung, lebih dari 200 insan kreatif dan 32 pemeran, termasuk 11 anak-anak, terlibat membangun dunia Pasukan Pelita. Tata panggung modular, projection mapping, permainan laser, hingga teknik puppetry yang menghadirkan satwa khas Indonesia menjadi bagian dari pengalaman teater yang imersif.
Baca Juga:
Tak berhenti pada pertunjukan, pesan menjaga bumi juga diwujudkan melalui kerja sama dengan Remind Indonesia. Penonton diajak membawa sampah elektronik seperti telepon genggam, kabel, dan perangkat kecil lainnya untuk didaur ulang secara bertanggung jawab.
Melalui kisah yang hangat dan penuh refleksi, Musikal Senja Teduh Pelita menyampaikan satu pertanyaan sederhana kepada setiap penontonnya: dunia seperti apa yang ingin kita wariskan kepada generasi berikutnya?
Barangkali, seperti yang diyakini Pasukan Pelita, masa depan tidak dibangun oleh mereka yang paling kuat, melainkan oleh mereka yang memilih untuk tetap menjaga harapan.(*)