Palembang
Rabu, 28 Oktober 2026 18:19 WIB
Penulis:Redaksi Wongkito

PALEMBANG, WongKito.co - Di tengah bayang-bayang darurat timbunan sampah Kota Palembang yang mencapai 1.000 ton setiap harinya di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sukawinatan, sebuah gerakan akar rumput tumbuh secara perlahan namun berdampak.
Berlokasi di kawasan padat penduduk Kampung 19 Ilir, Kota Palembang yang berada tepat di titik nol kilometer Palembang, Bank Sampah Kenanga hadir bukan sekadar sebagai tempat pengumpulan barang bekas, melainkan sebuah ekosistem ekonomi sirkular yang digerakkan sepenuhnya oleh tangan-tangan perempuan.
Berawal dari program pendampingan sanitasi dasar dan pembuatan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang diinisiasi oleh akademisi Profesor Erna Yuliawati dari Universitas Muhammadiyah dan warga setempat mulai mendapat pencerahan tentang pengelolaan lingkungan.
Baca Juga:
Dari sana, inisiatif itu bersambut. Ibu-ibu di kampung tersebut, dipelopori oleh Nyimas Eli Agustina selaku pengelola, merasa tergugah untuk bergerak mandiri. Tanpa sokongan dana awal yang besar dari pemerintah, modal operasional, seperti buku tabungan dan perlengkapan dasar dibeli secara swadaya dari kantong pribadi.
“Dulu tidak pernah terbayang Bank Sampah Kenanga bakal sebesar dan dikenal seperti sekarang. Niat awal kami sederhana saja, ingin mengurangi tumpukan sampah di kampung dan menciptakan kegiatan yang produktif,” ungkap Eli saat ditemui di lokasi, Jumat (23/10/2026).
Di balik operasional hariannya, Bank Sampah Kenanga dijalankan oleh struktur pengurus inti sekitar 6 hingga 7 orang perempuan yang aktif menggerakkan warga.
Menariknya, gerakan ini juga merangkul kelompok rentan dengan mempekerjakan penyandang disabilitas agar turut mandiri secara finansial melalui pengelolaan bank sampah.
Ubah Paradigma
Konsep bank sampah modern kini telah mengubah paradigma masyarakat. Sampah anorganik yang tadinya dianggap sebelah mata dan dibuang begitu saja, dipilah secara teliti dari rumah tangga mulai dari botol plastik, kardus, arsip kertas, hingga minyak jelantah yang disetor dan dicatat rapi ke dalam buku tabungan warga.
Nilai ekonomis dari tabungan sampah ini mendatangkan tambahan pemasukan finansial bagi keluarga. Bahkan, produk daur ulang yang dihasilkan dari kreativitas warga dan pengurus, seperti lilin aromaterapi berbahan dasar minyak jelantah, yang dijual mulai dari Rp7.000 per buah, pembalut kain Rp35 ribu per satuan dan sabun cuci Rp5 ribu per batang.
Eli mengungkapkan barang yang mereka produksi telah menembus berbagai pameran bergengsi di hotel-hotel hingga dibawa ke Jakarta dalam ajang Musrenbang.
Meski menorehkan segudang prestasi, perjalanan ini tidak lepas dari tantangan. Hambatan terbesar pengurus bukanlah persoalan teknis, melainkan mengubah pola pikir (mindset) masyarakat, kerap meremehkan urusan sampah.
“Mengubah pola pikir orang dewasa itu sangat berat karena mereka sudah nyaman dengan kebiasaan lama. Banyak yang merasa malu atau menganggap pekerjaan ini remeh. Padahal, jika setiap rumah tangga mau mengelola sampahnya sendiri, pemerintah tidak akan kewalahan menghadapi ribuan ton sampah di TPA,” jelas Eli.
Baca Juga:
Karena itu, strategi edukasi kini mulai menyasar generasi usia dini melalui sekolah-sekolah dasar agar budaya sadar lingkungan bisa tertanam sejak dini.
Di balik lelahnya rutinitas menyortir barang dan membina warga, para pengurus di Bank Sampah Kenanga memegang prinsip bahwa bekerja dan menebar manfaat lingkungan adalah sebuah ladang berkah. Bank Sampah Kenanga membuktikan bahwa dari sebuah lorong kecil di Kampung 19 Ilir, kepedulian mampu merajut kesejahteraan, memberdayakan perempuan, dan merangkul kaum disabilitas demi masa depan bumi Sriwijaya yang lebih bersih.(* M. Agna Dzisyarif)
*Mahasiswa Magang MBKM Prodi Jurnalistik, UIN Raden Fatah Palembang, Angkatan 2024