KatoKito
Api, Asap dan Sumsel: Ketika Kabut Asap Mengancam Kesehatan
Oleh: Mura Oi, Nata Deeaz Anggun Salsabila, Mutia Sapitri, Naura Amartha, Siska Sri Novitasari, Adinda Alya Angelin, dan Fadila Azzahra*
KABUT asap bukan sekadar mengurangi jarak pandang. Dampaknya menyentuh kesehatan, keselamatan pengguna jalan, dan keberlanjutan lingkungan.
Seberapa sering kita melihat tanah yang menghitam setelah kebakaran, kendaraan yang menyalakan lampu pada siang hari, atau bangunan yang tampak samar di balik kabut asap? Pemandangan tersebut mungkin terlihat seperti kejadian yang terpisah, tetapi semuanya mengingatkan kita pada persoalan lingkungan yang perlu mendapat perhatian. Di Sumatera Selatan (Sumsel), karhutla bukan hanya berkaitan dengan lahan yang terbakar, tetapi juga dengan kualitas udara, keselamatan perjalanan, dan kesehatan masyarakat yang menjalankan aktivitas sehari-hari.
Dokumentasi visual dari beberapa lokasi dalam tulisan ini memperlihatkan sisi berbeda dari persoalan tersebut. Namun, foto bukan sekadar gambaran untuk dilihat, melainkan titik awal untuk memahami mengapa pencegahan kebakaran, pemantauan kualitas udara, dan perlindungan masyarakat perlu dilakukan secara serius.
Baca Juga:
- Beban Berlapis Perempuan di Balik Asap Kebakaran Lahan
- Kehadiran Pojok Lokal SRC Berhasil Dorong Pertumbuhan Usaha Produk Lokal
- Koalisi Pers Sumsel Nilai Polda Lamban Tangani Kasus Pengeroyokan Jurnalis
Melalui foto-foto yang menggambarkan kondisi pascakebakaran, jalan yang diselimuti kabut asap, dan Jembatan Ampera, kita diajak melihat persoalan ini dari lebih dekat. Meskipun diambil dari lokasi yang berbeda, setiap foto mengingatkan kita pada satu hal, dampak karhutla perlu dipahami dan ditangani secara serius, bukan sekadar diterima sebagai pemandangan yang berulang.
Api Kecil, Dampak yang Meluas
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sering kali dipandang sebagai peristiwa musiman yang akan berakhir ketika hujan turun atau api berhasil dipadamkan. Padahal, dampaknya tidak berhenti ketika kobaran api menghilang. Tanah yang menghitam, vegetasi yang mengering, sisa pembakaran yang masih mengeluarkan asap, hingga udara yang tercemar menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan dapat berlangsung jauh lebih lama daripada peristiwa kebakaran itu sendiri.
Kebakaran di semak-semak atau lahan terbuka di pinggir jalan mungkin terlihat sebagai persoalan kecil. Namun, apabila tidak segera ditangani, api dapat merambat ke vegetasi di sekitarnya dan menghasilkan asap yang mengganggu aktivitas masyarakat. Kondisi ini semakin berbahaya ketika asap bergerak menuju jalan raya dan menurunkan jarak pandang pengendara.
Kondisi karhutla di Sumatera Selatan juga berkaitan dengan musim kemarau yang menyebabkan lahan gambut dan vegetasi mengering sehingga lebih mudah terbakar. Stasiun Klimatologi Sumatera Selatan melaporkan bahwa pada 26 Agustus 2026, asap dari karhutla berpotensi menurunkan kualitas udara dan jarak pandang di Palembang.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kebakaran yang terjadi di wilayah tertentu dapat berdampak lebih luas ketika asap terbawa angin menuju kawasan permukiman (Masrury, 2026). Sampah yang ikut terbakar dapat menambah kompleksitas pencemaran udara karena pembakaran berbagai bahan menghasilkan campuran polutan yang berbeda. Karena itu, penanganan kebakaran lahan perlu disertai pengelolaan sampah yang baik dan pencegahan pembakaran terbuka.
Kabut Asap dan Ancaman yang Tidak Selalu Terlihat
Salah satu persoalan yang sering luput dari perhatian masyarakat adalah anggapan bahwa asap hanya berbahaya ketika terlihat sangat tebal. Padahal, tingkat bahaya pencemaran udara tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan penampilan udara secara kasatmata. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO, 2026) menjelaskan bahwa asap kebakaran hutan merupakan sumber pencemar udara yang dapat menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan.
Partikel halus dalam asap dapat masuk jauh ke saluran pernapasan, bahkan mencapai bagian paru-paru yang lebih dalam. Paparan asap juga dapat menyebabkan iritasi mata dan saluran pernapasan, sesak napas, serta memperburuk kondisi penderita penyakit pernapasan dan kardiovaskular.
Anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, dan orang dengan riwayat penyakit pernapasan termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih. Ketika kualitas udara memburuk, aktivitas luar ruangan sebaiknya dikurangi, informasi kualitas udara perlu diperiksa secara berkala, dan masyarakat perlu mengikuti anjuran petugas kesehatan. Jika harus beraktivitas di luar ruangan ketika asap pekat, masker respirator yang sesuai, seperti N95, dapat membantu mengurangi paparan partikel.
Ketika Jalan Raya tidak Lagi Aman
Dampak kabut asap juga terlihat pada keselamatan pengguna jalan. Dalam dokumentasi lapangan kelompok kami, kendaraan tampak menyalakan lampu pada siang hari, sementara bangunan dan tiang listrik terlihat samar di balik asap. Kondisi seperti ini menunjukkan pentingnya kewaspadaan terhadap penurunan jarak pandang.
Ketika asap menutupi jalan, pengendara memiliki waktu yang lebih singkat untuk mengenali kendaraan di depannya, membaca kondisi jalan, dan merespons potensi bahaya. Risiko kecelakaan dapat meningkat, terutama apabila kendaraan melaju dengan kecepatan tinggi atau pengemudi tidak menjaga jarak aman.
Keselamatan tidak bisa hanya dibebankan kepada pengguna jalan. Pengelola jalan, pemerintah daerah, petugas pemadam kebakaran, dan instansi terkait juga memiliki peran dalam mengidentifikasi lokasi kebakaran, memberikan peringatan kepada pengguna jalan, serta melakukan penanganan apabila asap mengganggu keselamatan lalu lintas.
Jembatan Ampera yang Tertutup Asap: Peringatan bagi Kota
Jembatan Ampera bukan sekadar penghubung dua wilayah di Palembang. Ikon ini juga menjadi bagian dari identitas kota dan kehidupan masyarakat sehari-hari. Ketika keberadaannya tampak samar akibat kabut asap, kondisi tersebut menjadi gambaran kuat tentang bagaimana pencemaran udara dapat mengubah ruang yang biasa kita nikmati.
Foto Jembatan Ampera yang tertutup asap dalam dokumentasi kelompok kami menjadi pengingat bahwa persoalan lingkungan tidak selalu hadir dalam bentuk kerusakan yang langsung terlihat pada tanah atau pepohonan. Pencemaran juga dapat hadir di udara yang kita hirup setiap hari.
Meski demikian, foto semata tidak dapat menentukan tingkat pencemaran udara ataupun membuktikan bahwa seluruh asap berasal dari satu lokasi kebakaran tertentu. Untuk mengetahui tingkat risikonya, dokumentasi visual perlu dilengkapi dengan pengukuran kualitas udara, informasi cuaca, dan data resmi mengenai titik panas serta sebaran asap.
Pencegahan harus Dimulai Sebelum Kebakaran Terjadi
Upaya mengatasi karhutla tidak cukup dilakukan ketika asap sudah menyelimuti permukiman. Pencegahan harus menjadi prioritas melalui kerja sama pemerintah, pelaku usaha, masyarakat, dan berbagai pihak yang berkaitan dengan pengelolaan lahan.
Pemerintah perlu memperkuat patroli pada wilayah rawan, mempercepat penanganan titik api, melakukan pengawasan terhadap pembukaan lahan, dan menegakkan aturan terhadap pembakaran yang melanggar ketentuan.
Di wilayah gambut, pengelolaan air dan pembasahan lahan juga penting untuk mengurangi risiko kebakaran berulang.
Pelaku usaha perlu memastikan kegiatan pengelolaan lahan tidak memicu kebakaran, sedangkan masyarakat dapat berperan dengan tidak membakar sampah sembarangan, tidak membuang puntung rokok di area yang mudah terbakar, serta segera melaporkan munculnya api kepada petugas setempat.
Ancaman karhutla juga belum dapat dianggap selesai hanya karena jumlah titik panas menurun. Pada 27 September 2026, BMKG mencatat 1.505 titik panas di Sumatera Selatan, kemudian jumlahnya turun menjadi 279 titik pada 28 September.
Namun, penurunan tersebut tidak serta-merta berarti risiko kebakaran telah berakhir. BMKG juga menjelaskan bahwa asap dari sejumlah wilayah, termasuk Tulung Selapan dan Pangkalan Lampam, dapat terbawa menuju Palembang mengikuti pola angin. Oleh karena itu, pencegahan kebakaran dan pemantauan kondisi udara perlu dilakukan secara berkelanjutan (Gemayunanda, 2026).
Selain itu, pemerintah daerah dan instansi kesehatan perlu memperkuat pemantauan kualitas udara dan penyampaian informasi risiko. Masyarakat membutuhkan informasi yang mudah diakses mengenai kondisi udara, wilayah yang terdampak, kelompok yang paling berisiko, serta langkah perlindungan yang harus dilakukan.
Jangan Menunggu Asap menjadi Hal Biasa
Kabut asap tidak seharusnya diterima sebagai bagian normal dari kehidupan masyarakat Sumatera Selatan. Ketika udara yang tercemar dianggap biasa, kita berisiko mengabaikan bahaya yang berlangsung perlahan, sementara kerusakan lingkungan terus menumpuk dan keselamatan masyarakat terancam.
Baca Juga:
- Dry Ice Dinilai Sebabkan Efek Rumah Kaca? Simak Penjelasan Pakar Fisika
- KUR BRI Bantu Penjual di Bengkulu Selatan Naik Kelas Lewat Usaha Ketoprak
- BRI Perluas Energi Surya di Desa, Potensi Tekan Emisi Hingga 491 Ton per Tahun
Kebakaran lahan yang tampak kecil di pinggir jalan, tanah yang menghitam setelah api padam, kendaraan yang menyalakan lampu pada siang hari, hingga Jembatan Ampera yang tertutup asap merupakan gambaran dari persoalan yang saling berkaitan. Semua itu mengingatkan kita bahwa lingkungan, kesehatan, dan keselamatan manusia tidak dapat dipisahkan.
Pada akhirnya, persoalan kabut asap bukan hanya tentang siapa yang memadamkan api, melainkan juga tentang siapa yang mencegahnya, siapa yang bertanggung jawab atas kerusakan yang terjadi, dan seberapa serius kita melindungi masyarakat dari dampaknya.
Kita tidak seharusnya menunggu sampai langit benar-benar tertutup asap untuk mulai bertindak. Udara bersih bukan kemewahan, melainkan kebutuhan dasar. Menjaganya merupakan tanggung jawab bersama yang harus diwujudkan melalui tindakan nyata, pengawasan yang konsisten, dan keberanian untuk menghentikan kebiasaan yang merusak lingkungan.
*Mahasiswaa Program Studi Kesehatan Lingkungan, FKM Unsri

