KatoKito
Langit Sumsel yang Kelabu
Oleh: Innayah Al Husna, Eka Wahyu Nur Azizah, Maudy Adelia Mustika, Ines Cucano, Muhammad Fauzan Habibi, Al Farhan, Khadafi Alfarid*
LANGIT Sumatera Selatan yang kelabu tidak seharusnya dianggap sebagai pemandangan musiman. Ketika api membakar lahan, asap tidak berhenti di lokasi kebakaran, tetapi dapat mencapai permukiman, jalan, tempat kerja, dan lingkungan kampus. Karhutla karena itu bukan sekadar persoalan lahan yang hangus, melainkan masalah kesehatan lingkungan yang memengaruhi cara masyarakat hidup, belajar, dan bekerja.
Kebakaran memang lebih mudah terjadi ketika cuaca kering, tetapi penyebabnya tidak dapat dijelaskan oleh cuaca saja. Pembukaan lahan, pengeringan gambut, perubahan tutupan lahan, serta keterbatasan pilihan pengelolaan lahan tanpa bakar turut membentuk risiko. Carmenta et al. (2021) menekankan pentingnya melihat pencegahan kebakaran gambut melalui gabungan intervensi, bukan mengandalkan satu tindakan saja.
Dampaknya Tidak Berhenti pada Gangguan Pernapasan
Asap karhutla mengandung partikel halus, seperti PM2.5 yang dapat masuk jauh ke dalam paru-paru. Paparan asap dapat memperburuk asma, memicu gangguan pernapasan, dan meningkatkan kebutuhan pelayanan kesehatan. Penelitian Sambodo et al. (2024) mengenai kebakaran Indonesia pada 2015 menemukan peningkatan pemanfaatan layanan kesehatan primer terkait gangguan pernapasan pada anak balita di wilayah perkotaan yang terdampak. Hein et al. (2022) juga memperkirakan bahwa kebakaran gambut di Sumatera dan Kalimantan menambah beban penyakit pernapasan dan gejala asma berat pada anak.
Baca Juga:
- BMKG Ingatkan Waspada Hujan Pertama Setelah Kemarau Panjang
- BRI Perluas Energi Surya di Desa, Potensi Tekan Emisi Hingga 491 Ton per Tahun
- HRWG: Krisis Ekologis adalah Krisis Hak Asasi Manusia
Dampaknya juga merembet ke kehidupan sosial dan ekonomi. Kabut asap dapat mengurangi produktivitas, mengganggu transportasi, dan menyebabkan kegiatan sekolah perlu dibatasi ketika kualitas udara memburuk. Lo Bue (2019) mengkaji kaitan paparan asap kebakaran pada masa kanak-kanak dengan capaian pendidikan dalam jangka panjang, sedangkan Tan-Soo dan Pattanayak (2019) menunjukkan bahwa paparan asap pada awal kehidupan dapat menimbulkan konsekuensi ekonomi jangka panjang. Dengan demikian, kerugian karhutla tidak hanya terlihat pada luas lahan terbakar, tetapi juga pada kesempatan belajar, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat.
Kerusakan lingkungan turut memperpanjang persoalan. Kebakaran gambut melepaskan karbon yang tersimpan di dalam tanah, sementara kebakaran berulang dapat merusak habitat dan mengubah keanekaragaman tumbuhan. Syaufina dan Hamzah (2021), dalam penelitian di Teluk Meranti, Riau, menemukan perbedaan keanekaragaman spesies pohon antara area yang terbakar dan tidak terbakar.
Temuan dari wilayah lain tidak otomatis menggambarkan kondisi setiap lokasi di Sumatera Selatan, tetapi menunjukkan mengapa dampak ekologis karhutla perlu diperhitungkan.
Pencegahan Harus Menjawab Akar Masalah
Pencegahan tidak cukup dilakukan ketika titik api sudah membesar. Pengelolaan gambut perlu menjaga kondisi basahnya, pengawasan kawasan rawan harus dilakukan sebelum musim kering, dan informasi peringatan dini harus mudah dipahami masyarakat. Pemerintah juga perlu memastikan bahwa penegakan larangan membakar disertai dukungan nyata bagi petani dan masyarakat untuk menerapkan cara pembukaan lahan tanpa bakar. Jika alternatif tersebut mahal atau sulit diakses, larangan saja berisiko tidak menyelesaikan penyebab praktik pembakaran (Carmenta et al., 2021; Resosudarmo, Tacconi dan Waluyo, 2023).
Ketika asap telah terjadi, perlindungan kesehatan harus segera diberikan.
Masyarakat perlu memperoleh informasi kualitas udara yang jelas, mengurangi aktivitas luar ruang saat asap pekat, dan memprioritaskan perlindungan bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita penyakit kronis, serta pekerja luar ruang.
Baca Juga:
- Pemulihan Lahan Pangan dan Kepemimpinan Perempuan Tani Pascabencana
- Teater Rongsokan: Peringatkan Darurat Alam dalam Arisan Satwa Marga Sumatera
- Koalisi Pers Sumsel minta Kompolnas Pantau Langsung Kasus Pengeroyokan Jurnalis
Respirator seperti N95 atau P2 yang terpasang rapat dapat membantu mengurangi paparan partikel, tetapi tidak menggantikan upaya menghindari udara tercemar. WHO (2026) menekankan pentingnya mengurangi paparan dan melindungi kelompok yang lebih rentan.
Jangan Membiasakan Diri dengan Langit Kelabu
Karhutla perlu dipahami sebagai persoalan bersama yang menghubungkan tata kelola lahan, kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan perlindungan ekosistem. Pemadaman api tetap penting, begitu pula penghargaan kepada petugas dan relawan yang bekerja di lapangan. Namun, keberhasilan tidak seharusnya hanya diukur dari api yang padam, melainkan juga dari berkurangnya kejadian kebakaran dan terlindunginya masyarakat sebelum asap menyebar.
Langit Sumsel tidak seharusnya kelabu setiap musim kemarau. Berdasarkan berbagai penelitian yang dirangkum dalam pertanyaan kajian, pesan utamanya jelas: pencegahan perlu dilakukan sejak pengelolaan lahan, didukung alternatif tanpa bakar, pemantauan risiko, penegakan aturan, dan perlindungan kesehatan. Udara bersih bukan kemewahan; ia merupakan bagian penting dari lingkungan yang aman bagi seluruh warga.
*Kelompok 2 – Kesehatan Lingkungan (B), Program Studi Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Sriwijaya

