Bandara Halim Perdanakusuma
Minggu, 13 September 2026 06:13 WIB
Penulis:Nila Ertina

MINGGU pagi, setelah salat Subuh, seperti biasa aku membuka aplikasi percakapan, WhatsApp. Salah satu grup WA membahas sejumlah kawan yang seharusnya pulang ke Sulawesi, ke Maluku tengah malam, tetapi penerbangannya dibatalkan.
"Kami terpaksa balik kanan, penerbangan kami dibatalkan," kata seorang peserta pelatihan yang sama-sama ku ikuti selama 5 hari pada salah satu hotel di kawasan Jalan Simatupang, Jakarta Selatan.
Hal senada diungkapkan sejumlah anggota grup lainnya. Informasi pembatalan penerbangan karena erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) semakin banyak aku baca di grup-grup lainnya.
Guna memastikan informasi tersebut, aku pun mencari remote televisi di kamar hotel tempat kami menginap. Ternyata, semua televisi berita sudah menjadikan situasi erupsi GAK dan pembatalan penerbangan sebagai headline-breaking news.
Dalam hati aku bergumam, semoga penerbangan kami nanti malam ke Palembang tidak terganggu erupsi GAK dan situasi sudah kembali normal. Namun, kondisi tersebut tetap menjadi pikiranku, aku yang awalnya berencana untuk pergi ke Kota Tua, salah satu destinasi wisata di Jakarta, langsung membuka laptop dan mengumpulkan semua informasi terkait dengan erupsi GAK dan dampaknya.
Di sela-sela kesibukanku. "Abu vulkanik Krakatau sampai ke kos," pesan dari Jingga putri pertamaku.
Baca Juga:
Lalu, aku menghubungi sejumlah kawan yang seharusnya berangkat pulang ke daerah masing-masing setelah sepekan di Jakarta. Salah seorang yang aku kontak adalah DR Liza Lidiawati, akademisi dari Universitas Bengkulu yang semestinya penerbangannya pukul 10.00 WIB.
"Uni sudah di bandarakah?, tanyaku melalui pesan online. "Iya, sudah sampai di bandara," jawabnya. Saat itu, sekitar pukul 08.00 WIB pada Minggu (6/9/2026).
Ia bercerita Bandara Soekarno Hatta ramai, jauh lebih ramai dari biasanya. Banyak calon penumpang yang harusnya berangkat terpaksa antre untuk mengurus refund atau pengembalian dana karena penerbangan dibatalkan.
"Sampai saat ini, penerbangan ke Bengkulu masih belum bisa dipastikan, apakah dibatalkan atau mundur," kata dia.
Hingga, sekitar pukul 10.00 WIB yang seharusnya sudah terbang, Liza mengungkapkan masih juga belum ada kepastian, ia mengaku tetap akan menunggu sampai ada kepastian. Petugas di bandara menginformasikan tunggu sampai pukul 14.00 WIB.
Sampai akhirnya, dipastikan pembatalan penerbangan sehingga ia pun terpaksa antre mengurus refund selama sekitar 2,5 jam. "Antreannya panjang banget, terasa capek nian," kata dia.
Bandara Halim Perdakusuma Sepi
Meskipun tidak yakin bisa berangkat sesuai jadwal pukul 19.15 WIB ke Palembang dari Bandara Halim Perdakusuma, tetapi aku tetap berangkat ke Bandara Halim.
"Berangkatlah lebih cepat," kata Jingga, saat berjumpa di es krim Ragusa di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat.
Keputusan berangkat ke bandara lebih cepat diharapkan bisa mendapatkan kepastian awal, bisa terbang atau harus kembali menginap di Jakarta.
Aku sebenarnya sudah sangat ingin pulang ke Palembang, karena sudah delapan hari berada di ibukota, dan sudah saatnya kembali ke rumah. Pelatihan yang berlangsung selama 5 hari, dan ditambah sehari mengikuti Sisterhood Festival membuatku sudah merasa lama di tanah Betawi dan rindu pulang.
Sekitar pukul 14.40 WIB akhirnya, aku pun memesan taksi online untuk secepatnya menuju Bandara Halim. Tak sampai 1 jam, dari tempatku menginap di kawasan Blok M, tiba di bandara.
Bandara Halim Perdanakusuma, memang tak sehiruk pikuk Bandara Soekarno Hatta, tetapi tidak juga selenggang yang aku saksikan saat tiba di bandara. "Sepi banget pikirku,". Saat petugas menyilakan untuk antre, aku pun bertanya sudah pasti tidak terbang ya pak?. "Jadwal penerbangan saya pukul 19.15 WIB ke Palembang," kataku.
Lalu petugas itu menjawab, bandara tutup, tapi kalau untuk penerbangan nanti malam belum ada info. "Silakan menunggu dulu," katanya.
Sampai akhirnya, pukul 17.15 WIB mendapat kepastian. Penerbangan Batik Air ke Palembang dibatalkan.
Aku pun akhirnya mengantre untuk mengurus refund. Pikirku, kenapa ya tidak ada WA dari maskapai, biasanya kalau terjadi perubahan jadwal penerbangan pasti diinfokan. "Ah mungkin karena ada bencana," gumamku.
Antre refund selesai, akhirnya bersama Senia kami pun keluar, sembari menarik koper yang lumayan berat, setelah berpikir akhirnya memilih untuk rehat dahulu di masjid bandara.
Status WA-ku mengambar kalau terdampak pembatalan penerbangan karena erupsi GAK.
Satu per satu keluarga, teman dan kolega mendoakan supaya tetap aman dalam kondisi kebencanaan dan batal terbang.
Extend Lagi
Sebenarnya kalau hanya mengikuti Pelatihan Penilai AMDAL, aku sudah akan pulang pada Sabtu (5/9/2026). Tetapi, aku tidak mau ketinggalan untuk mengikuti Sisterhood Festival yang sudah dijadwalkan jauh hari.
Sisterhood Festival diselenggarakan Magdalene.co yang didukung International Media Support (IMS) dan melibatkan Women News Network (WNN). Karenanya, aku menginformasikan kepada panitia atas pembatalan penerbangan dan memberikan bukti dari petugas bandara untuk klaim refund tiket milik Senia.
Chika dari Magdalene.co langsung merespons dengan cepat, dan menanyakan mau nginap dimana. "Nanti aja kak Chika, sudah maghrib baru mikir lagi," kataku menjawab pertanyaannya.
Akhirnya, aku memutuskan menginap disalah satu hotel di kawasan Jakarta Pusat, tepatnya di Jalan Wahid Hasyim setelah memikirkan beragam pertimbangan.
Malam itu juga, aku berpikir berat, saking beratnya bingung dan membagongkan bagaimana mau pulang cepat kalau bandara di Jakarta tutup. Akhirnya, aku mencari tiket bus, sembari tetap melayani chat dari kawan-kawan yang bersimpati atas pembatalan penerbangan yang aku alami.
"Naik bus sleeper bae yuk," kata seorang kawan yang bercerita kalau perjalanan menggunakan bus sleeper dengan menyebutkan armadanya nyaman dan mengesankan.
"Lagian aman kok lewat darat, karena hingga kini belum ada larangan dari otoritas Pelabuhan, kali ini percayalah dulu sama pemerintah yuk, daripada gak jelas kapan bandara buka lagi," ujar dia menambahkan.
Setelah cukup lama menimbang dan mencari tiket bus, aku merasa saatnya istirahat, pikirku besok pagi sajalah nyari tiket bus. Pagi hari akhirnya, kembali membuka aplikasi untuk mencari tiket bus, dan akhirnya mendapatkan tiket meskipun bukan bus sleeper seperti disarankan. Kami pun pulang ke Palembang dari Terminal Kampung Rambutan, keesokan hari setelah pembatalan penerbangan malam sebelumnya.
Sebenarnya, transportasi darat, terutama menggunakan angkutan publik bus bukanlah hal baru bagiku. Sejak merantau ke Jawa Barat, menjelang akhir tahun 1990-an bus antar kota antar provinsi (AKAP) sudah sangat akrab denganku. Dahulu perjalanan dengan bus lebih lama lagi bahkan seakan berliku-liku.
Pada masa libur kuliah, aku terbiasa dari Terminal Leuwi Panjang, Bandung ke Merak, Banten dengan menumpang bus, lanjut menyeberang dengan kapal reguler atau kapal cepat, tergantung kondisi kantong, kalau lumayan tebal biasanya pakai kapal cepat yang hanya 40 menit saja menyeberang ke Pelabuhan Bakau Heni, Lampung Selatan.
Sampai di Pelabuhan Bakau Heni, lanjut ke Terminal Raja Basa, Bandar Lampung, dari terminal biasanya aku naik angkot dua kali untuk mampir ke tempak uwak, baru besoknya lanjut naik bus lagi ke Pagar Alam, Sumatera Selatan.
Perjalanan darat ke Pulau Jawa juga telah aku kenalkan kepada anak-anakku sejak dini. Apalagi sejak beberapa tahun ini, perjalanan darat menggunakan bus dari Jakarta ke Palembang dan sebaliknya membutuhkan Waktu yang lebih pendek, bahkan ke Solo butuh sekitar 24 jam pun kami jabani dengan bus, kekinian pun sudah banyak pilihan bus eksekutif. Waktu-nya juga lebih cepat, karena ada tol, meskipun kualitas jalan tol Sumatera masih jauh standar dari tol di Pulau Jawa.
Perjalanan darat karena force majeure erupsi GAK, akhirnya kami pilih. Umumnya, kalau menggunakan kendaraan pribadi perjalanan dari Jakarta ke Palembang menempuh waktu sekitar 10 jam, biasanya lama antre masuk ke kapal dan istirahat di rest area. Pengalaman sebelumnya, menggunakan bus mencapai 12 jam, tetapi kali ini perjalanan sekitar 14 jam.
Tidak ada antre masuk kapal, Pelabuhan cenderung sepi. Tetapi selama perjalanan dari Jakarta ke Pelabuhan Merak, cukup lama 5 jam, karena menjemput penumpang bus ke beberapa terminal dan pool bus termasuk di Kota Serang.
"Cepat ya masuk kapal, biasanya antre lebih dari 1 jam," ujar seorang penumpang. Setelah bercakap-cakap dengan penumpang lainnya, ternyata mayoritas adalah mengalihkan perjalanan udara ke moda transportasi darat karena pembatalan penerbangan.
Bus sudah masuk kapal dan penumpang pun dipersilakan keluar bus, menuju kapal bagian atas.
"Kapal kecil dan kelas ekonomi, panas juga ya," kata penumpang di dekatku. Lalu, kami pun duduk di pelataran kapal di atas tikar yang berbayar Rp 15 ribu per lembar, terasa lebih nyaman karena sepoi-sepoi angin laut.
"Saya harusnya berangkat tadi malam pukul 19.15 WIB dari Halim," tutur perempuan muda bersama anaknya. Ia bercerita baru pulang dari Makassar karena sang nenek tutup usia. Dari Makassar harusnya mendarat di Bandara Soekarno Hatta tetapi setelah berputar lama, mendarat di Bandara Halim.
Akhirnya, memilih jalan darat karena memang harus segera tiba di Palembang dan perjalanan pun disebut aman.
Biasanya, menggunakan kapal jalur reguler butuh waktu sekitar 3 jam perjalanan laut. Malam itu, hanya 1 jam saja sudah tiba di Pelabuhan Bakau Heni dari Pelabuhan Merak.
Terdengar suara pengumuman melalui pengeras suara. Pikirku, ada masalah yang timbul akibat erupsi GAK, karena merasa masih di tengah laut.
Tiba-tiba Senia bertanya. "Kita sudah tiba ya bu?," masa ia jawabku, itu sudah ada daratan sambung dia.
Ah ternyata benaran kapal mulai merapat. "Alhamdulillah, kita sudah aman," ujarku bersemangat.
2 Hari Bandara Lumpuh, 341.000 Penumpang Terdampak
Data dari Kementerian Perhubungan Indonesia, akibat semburan abu vulkanik GAK pada 6-7 September 2026, tercatat 2.961 penerbangan yang terdampak, termasuk yang dibatalkan, keterlambatan dan dialihkan.
Adapun sebanyak 2.339 penerbangan domestik dan 622 penerbangan internasional terdampak erupsi GAK.
Baca Juga:
Terbanyak pembatalan penerbangan dari Bandara Soekarno Hatta yang mencapai 209 penerbangan.
Akibatnya, sebanyak 341.000 penumpang yang terdampak.
Pemerintah mengungkapkan penutupan bandara dilakukan karena sebaran abu vulkanik dari erupsi GAK yang membahayakan keselamatan penerbangan.
"Arah dan kecepatan angin terus berubah, sehingga otoritas penerbangan bersama VAAC dan BMKG terus memantau perkembang situasi secara dinamis," demikian pernyataan otoritas Bandara Soekarno Hatta, awal pekan ini.(Nila Ertina)