Saatnya Gen Z Melek Pangan untuk Tekan Sampah Perkotaan

Sabtu, 09 Mei 2026 19:16 WIB

Penulis:Redaksi Wongkito

Editor:Redaksi Wongkito

Berjemur Nyambi Ngopi.jpg
Pelanggan menikmati kopi usai berjemur di kedai kopi Nyambi Ngopi, Depok, Jawa Barat, Selasa, 3 Agustus 2021. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

SOLO, WongKito.co – Tren self reward di coffee shop, budaya jajan, hingga kebiasaan membeli makanan berlebih mulai menjadi sorotan dalam isu sampah perkotaan. Di tengah meningkatnya konsumsi anak muda di kota-kota besar, persoalan sampah makanan kini tak lagi sekadar isu lingkungan, tetapi juga berkaitan dengan ketahanan pangan dan kesenjangan sosial.

Hal itu mengemuka dalam diskusi pengelolaan sampah makanan di Warung Raras Roso, kompleks Pasar Jebres, Solo, Kamis, 7 Mei 2026. Acara yang difasilitasi Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan serta Gita Pertiwi ini merupakan forum berbagi praktik baik antara Pemkot Bogor, Pemkot Malang dan Solo. 

Hadir sebagai narasumber Ketua Carefood Solo Jody Julian Putra, dan Kepala Bidang Sarana Distribusi Perdagangan Dinas Perdagangan Kota Solo Indar Dhaniel Wicaksana. Jody dalam paparannya menilai generasi muda memiliki peran besar dalam timbulan sampah makanan di perkotaan.

“Anak muda menurut saya penyumbang utama sampah makanan, didorong budaya konsumerisme dan kebiasaan jajan. Sekarang berkembang dalam bentuk self reward di coffee shop yang menjamur,” ujarnya. 

Ia bahkan menyoroti fenomena baru yang muncul di kalangan urban muda, yakni ngopag atau ngopi pagi setelah jogging. Di balik tren gaya hidup tersebut, Jody melihat ada persoalan yang jarang dibicarakan, yakni meningkatnya limbah makanan dan minuman di perkotaan.

Menurutnya, banyak pangan yang sebenarnya masih layak konsumsi justru berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA).

Dari Pangan Berlebih ke Gerakan Sosial

Keresahan itu mendorong Jody bergabung dengan Carefood Solo pada 2019, saat dia masih SMP kelas VIII. Komunitas ini fokus menyelamatkan pangan berlebih dari katering, pasar, supermarket, hingga perusahaan makanan untuk disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Jody mengaku pengalaman hidup di kawasan bantaran sungai di Kampung Sewu membentuk kepeduliannya terhadap isu ketimpangan pangan. “Saya melihat Solo bagian barat mengalami kelebihan pangan, sementara Solo bagian timur kesulitan mengaksesnya,” katanya.

Skema distribusi dilakukan langsung ke rusunawa, pemulung, panti asuhan, hingga wilayah dengan angka stunting tinggi. Selain itu, komunitas ini membangun 12 etalase pangan di titik-titik kemiskinan Kota Solo dengan konsep “ambil secukupnya, berbagi semampunya”.

Saat ini Carefood bersama 10 komunitas lain di Soloraya mengembangkan gerakan Aliansi Berbagi Pangan, dengan target menyelamatkan hingga 3–4 ton pangan.

Fenomena ini menunjukkan isu sampah makanan mulai bergeser menjadi gerakan sosial berbasis komunitas anak muda. Tidak hanya soal lingkungan, tetapi juga soal distribusi pangan yang lebih adil.

Data Dinas Perdagangan Kota Solo menunjukkan 55% komposisi sampah Solo berasal dari sampah organik. Pasar tradisional sendiri menghasilkan sekitar 11 ribu ton sampah setiap tahun.

Kepala Bidang Sarana Distribusi Perdagangan Dinas Perdagangan Kota Solo Indar Dhaniel Wicaksana mengatakan perkembangan kota, termasuk menjamurnya coffee shop dan usaha kuliner, ikut meningkatkan timbulan sampah.

Namun di sisi lain, ia melihat sampah organik masih memiliki nilai ekonomi jika dikelola dengan benar, mulai dari pakan ternak hingga budidaya maggot. “Anak muda diharapkan bisa berperan aktif membangun sistem pangan yang lebih tangguh dengan memanfaatkan potensi yang ada,” ujarnya.

Program Pasar Jebres Minim Sampah pun mulai dijadikan model pengelolaan pangan dan sampah organik di Solo.

Generasi Muda Jadi Kunci Perubahan

Kegiatan diskusi turut dihadiri sejumlah anggota Bogor Food Savior (BFS). BFS dimotori anak muda Kota Bogor yang peduli dengan sistem pangan kota berkelanjutan. Salah satu penggerak BFS, Alya Agustina menyebut edukasi menjadi fokus utama agar isu ketahanan pangan semakin dekat dengan generasi muda.

Direktur Program Gita Pertiwi Titik Eka Sasanti menilai, gerakan penyelamatan pangan perlu terus diregenerasi agar tidak berhenti pada satu kelompok atau generasi tertentu saja. “Ini karena isu sampah dan pangan akan semakin strategis di masa mendatang,” ujarnya. 

Fenomena ini memperlihatkan perubahan menarik di kalangan Gen Z. Jika sebelumnya anak muda identik dengan konsumsi gaya hidup urban, kini mulai muncul kelompok yang justru menjadikan isu pangan dan sampah sebagai gerakan sosial baru.

Di tengah tren coffee shop dan budaya konsumtif perkotaan, muncul kesadaran bahwa makanan bukan sekadar komoditas gaya hidup, tetapi juga sumber daya yang berkaitan dengan lingkungan, kemiskinan, hingga ketahanan kota.

Kesadaran semacam ini menjadi penting karena persoalan sampah perkotaan tidak bisa lagi hanya dibebankan kepada pemerintah. Perubahan perilaku konsumsi, cara memandang pangan, hingga keterlibatan komunitas anak muda bisa menjadi salah satu kunci mengurangi sampah organik yang terus meningkat di kota-kota besar.

Tulisan ini telah tayang di TrenAsia.com, jejaring media WongKito.co, pada 8 Mei 2026.