Sabtu, 31 Januari 2026 07:11 WIB
Penulis:Nila Ertina

KETIKA semua keluarga masih terlelap, pada pukul tiga dini hari, berbeda dengan Aura Dwi Kartini yang sudah terjaga. Perempuan asal Aceh itu menyiapkan bekal untuk menghadapi ulangan keesokan harinya. Begitulah ritme hidupnya sejak Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kota Palembang.
"Aku belajar sampai pukul 22.00 WIB setiap hari. Kalau ada ulangan tidur sebentar, baru dilanjut lagi sebelum subuh," kata Aura, Kamis (22/1/2026).
Aura tumbuh dalam keluarga yang tidak utuh. Pada usia tiga tahun, ia sudah belajar arti perpisahan. Ayah dan ibunya bercerai, lalu ia hidup bersama nenek, yaitu ibu dari ayahnya di Kota Palembang. Baginya, nenek sudah seperti ibu meski tetap tak bisa sepenuhnya mengantikan kasih sayang ibu. Sekali-kali ia masih berkomunikasi dengan orang tuanya di Aceh.
Baca Juga:
Perjalanan pendidikannya tak selalu mulus. Memasuki usia Sekolah Menengah Pertama (SMP), ia memutuskan pindah kembali ke Aceh, tinggal bersama ayah kandungnya yang sudah menikah lagi. Di kelas, ia mendapatkan predikat juara pertama. Suatu kebanggaan bagi Aura yang sudah berjuang keras. Namun, prestasi tak selalu datang bersamaan suara tepuk tangan.
Di tanah Serambi Mekkah inilah Aura pernah merasa dikucilkan. Temannya hanya ada dua orang selebihnya sekadar menyapa saja. Bahkan, hal personal menjadi bahan olokan temannya.
"Tas Aura bolong, punya ayah tapi ga bisa beliin tas yang bagus," kata temennya, cerita dari Aura.
Aura memilih diam, ia juga tidak menuntut untuk ayahnya membelikan tas baru. Ia tahu kapan harus meminta, dan kapan harus menahan. Perihal uang Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) ia akan meminta, tapi sekadar keinginan tidak perlu jika sudah ada.
Malam menjadi waktu favoritnya. Di saat sunyi, Aura sering menatap langit. Ia menyukai bintang, juga K-pop. Sekali-kali ia berkata pada bintang "Aku harus jadi seperti bintang, walaupun kecil tetap bersinar," katanya.
Kota Pempek menjadi titik balik, bukan hanya tempat tinggal baru, tapi ruang aman untuk menata ulang dirinya yang kini masuk usia SMA. Di sini, ia menemukan suasana berbeda. Tak ada pengucilan, justru banyak teman yang antusias mendengar cerita darinya tentang Aceh.
"Bagi aku, teman itu tempat bercerita, tapi tak semua hal harus dibagi. Teman adalah hiburan hidup bukan hakim atas luka sendiri," kata Aura.
Wakil Palembang pada Lomba Esai Fisika
Menjadi salah satu perwakilan siswi SMA Muhammadiyah 5 Palembang, ia berhasil mendapatkan mendali perunggu dalam tim lomba Esai Fisika Nasional. Dalam sesi presentasi hasil, ia dan tim terkendala teknis.
"Speakernya yang bermasalah sehingga suara tak terdengar jelas oleh juri. Jam empat sore, saat pengumuman dibacakan dan nama tim kami disebut sebagai pemenang," ucap Aura.
Saat itu, Ia mengaku bangga bukan pada piala, tetapi pada dirinya sendiri. Awalnya, Aura dan tim tak pernah membayangkan dirinya akan berdiri sebagai juara. Kesempatan itu datang ketika guru fisika memilihnya dengan percaya. Ia ragu, tapi mengikuti arahan guru membuatnya perlahan tertarik.
Tak hanya itu, Aura juga masih mempertahankan juara pertamanya di kelas. Kakak perempuannya memberi hadiah kecil sebagai bentuk apresiasi kepada adiknya.
“Tidak nuntut, tapi harus bisa. Begitu prinsip yang dipegang dalam keluarganya," jelasnya.
Baca Juga:
Kini, ia tak ingin berhenti sampai di sini saja. Targetnya jelas, mempertahankan prestasi untuk melanjutkan kuliah. Ia ingin kuliah di bidang psikolog, meskipun dari hadiah lomba sudah mendapatkan beasiswa di bidang fisika.
"Memilih psikologi, karena senang mendengarkan. Dan percaya, di balik setiap masalah, selalu ada alasan mengapa seseorang bisa rapuh," ujar Aura.
Ia tak menyangkal pernah diremehkan, dianggap tak mampu. Baginya "Prestasi itu kebanggaan untuk diri sendiri. Aku belajar bahwa tak semua hal perlu dilawan dengan suara. Ada yang cukup dibuktikan dengan langkah," tutup Aura.(Magang/Manda Dwi Lestari)