Selasa, 04 Agustus 2026 19:27 WIB
Penulis:Susilawati

PALEMBANG, WongKito.co - Pada Juli 2026, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) mencatatkan deflasi sebesar. 0,24% (mtm), menurun dari kondisi bulan sebelumnya yang tercatat inflasi sebesar 0,36% (mtm). Secara tahunan, inflasi Sumsel tercatat sebesar 2,50% (yoy), menurun dari bulan sebelumnya 2.89% (yoy) sejalan dengan tren inflasi nasional yang tercatat turut mengalami penurunan menjadi 2,88% (yoy) dari sebelumnya 3,34% (yoy).
Capaian ini mencerminkan terjaganya stabilitas harga serta efektivitas sinergi pengendalian inflasi di daerah, sehingga memberikan keseimbangan antara menjaga daya beli masyarakat sembari tetap memastikan kesejahteraan produsen.
Secara bulanan, deflasi terutama didorong oleh penurunan harga sejumlah komoditas utama, antara lain bawang merah (0,17%), emas perhiasan (0,16%), cabai merah (0,08%), cabai rawit (0,03%), dan tomat (0,03%), kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumsel, Bambang Pramono di Palembang, Selasa (4/8).
Penurunan harga komoditas hortikultura dipengaruhi oleh berlangsungnya masa panen di sejumlah daerah sentra produksi sepanjang pertengahan hingga akhir Juli 2026 yang meningkatkan jumlah pasokan di pasaran.
Baca juga:
Adapun penurunan. harga emas terjadi seiring membaiknya sentimen global yang mendorong penyesuaian harga di pasar domestik. Meskipun demikian, tekanan deflasi ditahan oleh peningkatan permintaan bahan pangan antara lain beras dan bawang putih dengan kembali beroperasinya Program MBG seiring dengan mulainya tahun ajaran baru yang turut mendorong konsumsi pada. kelompok pendidikan.
Menurut dia, tekanan inflasi pada Agustus 2026 diprakirakan akan cenderung meningkat, antara lain dipengaruhi oleh momentum HUT Kemerdekaan RI ke-B1 berpotensi meningkatkan konsumsi masyarakat terhadap sejumlah komoditas pangan dan jasa. Lebih lanjut, tekanan inflasi dapat dipengaruhi dari dampak kondisi musim kemarau yang diprakirakan akan lebih. kering, yaitu dengan curah hujan rendah yang berpotensi mengganggu kestabilan produksi komoditas hortikultura.
Dalam merijaga stabilitas harga, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumatera Selatan terus memperkuat koordinasi dan sinergi melalui strategi pengendalian inflasi berbasis 4K, yaitu keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif. Hingga akhir Juli 2026, telah dilaksanakan lebih dari 381 kegiatan operasi pasar murah/GPM/SPHP di berbagai wilayah Sumatera Selatan, serta puluhan inspeksi mendadak (sidak) pasar untuk memastikan ketersediaan stok dan kepatuhan terhadap harga eceran tertinggi.
Upaya stabilisasi juga diperkuat melalui subsidi harga dan subsidi ongkos angkut untuk menjaga kelancaran distribusi pangan. Hingga Juli 2026, Bl Sumsel telah memberikan fasilitasi subsidi ongkos angkut sebanyak 77 kali untuk komoditas pangan utama dengan total berat komoditas yang diangkut mencapai kurang lebih 47,92 ton guna mendukung kegiatan OPM di Provinsi Sumatera Selatan, ujarnya.
Lebih lanjut, BI Sumsel mencatat pembelian komoditas bawang merah secara B2B dari Sumatera Barat sebanyak 22,67 ton dan komoditas cabai dari
Kabupaten Magelang sebanyak 3,68 ton untuk turut membantu meningkatkan ketersediaan pasokan di Sumatera Selatan.
Hingga Juli 2026, tercatat telah dilakukan penambahan MoU (Memorandum of Understanding) KAD yang dilakukan antara Pemda di Sumatera Selatan dengan Pemda Jawa Tengah berupa 8 KSB (Kesepakatan Bersama) dan 21 PKS (Perjanjian Kerja Sama) untuk G2G (Government to Government). Sementara MoU B2B (Business to Business) sebanyak 4 PKS dengan penguatan koordinasi yang dilakukan melalui berbagai forum komunikasi, seperti Rapat Koordinasi TPIP-TPID secara rutin dan berbagai komunikasi kebijakan dalam rangka pengendalian inflasi seperti iklan layanan masyarakat bijak belanja dan publikasi jadwal OPM di berbagai kanal media.
Sinergi dan koordinasi dengan TPID antar wilayah juga terus dilakukan, antara lain studi tiru TPID Sumsel bersama dengan TPID Sulawesi Selatan kepada TPID Jawa Tengah, dalam rangka mempelajari inovasi pengendalian inflasi berdasarkan karakteristik masing-masing daerah.
Di sisi lain, penguatan ketahanan pangan daerah juga didorong melalui berbagai program inovatif seperti Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP), yang pada tahun ini telah secara resmi ditransformasikan menjadi Rantai Pasok Pangan GSMP untuk mendukung PSN melalui kolaborasi berbagai pihak seperti diantaranya pesantren dan koperasi sebagai bagian. dari ekosistem produksi dan distribusi pangan yang didukung melalui pelaksanaan business matching dengan offtaker dan finance matching dengan perbankan untuk peningkatan kapasitas produksi melalui kredit usaha.
Pesantren dianggap memiliki potensi untuk dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru sekaligus pilar ketahanan pangan. Ke depan, Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan bersama Pemerintah Daerah berkomitmen untuk terus memperkuat sinergi pengendalian inflasi guna menjaga stabilitas harga, meningkatkan ketahanan pangan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Upaya ini juga sejalan dengan dukungan terhadap program prioritas nasional, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG).