Rabu, 04 Maret 2026 10:08 WIB
Penulis:Redaksi Wongkito
Editor:Redaksi Wongkito

JAKARTA, WongKito.co - Ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat (AS)-Iran kembali menciptakan tekanan signifikan pada nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD).
Pada Selasa, 3 Maret 2026, nilai tukar rupiah menguat 9 poin (0,05%) ke level Rp16.859, setelah sebelumnya menembus angka Rp16.868 per dolar AS pada Senin, 2 Maret 2026.
Ekonom Global Markets Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menilai ketegangan tersebut semakin buruk setelah adanya penutupan jalur di selat Hormuz. Jika akses di jalur tersebut terhenti, sebagian suplai energi global otomatis terganggu dan memicu gejolak pasar.
Menurutnya, dalam jangka pendek maupun panjang, penutupan Selat Hormuz dapat memunculkan beragam risiko ekonomi. Salah satu dampak yang paling terasa adalah potensi pelemahan dan volatilitas nilai tukar rupiah akibat meningkatnya ketidakpastian global.
Selain itu, ketidakpastian geopolitik kerap meningkatkan harga minyak dunia, yang kemudian menekan current account (neraca perdagangan) dan berkontribusi pada kekhawatiran inflasi.
Indonesia sebagai negara pengimpor energi sangat rentan terhadap gejolak semacam ini, karena fluktuasi harga minyak dapat memengaruhi biaya produksi dan transportasi dalam negeri.
Imbasnya, rupiah berpotensi melemah terhadap dolar jika harga minyak tak terkendali dan arus modal asing keluar dari pasar Indonesia. Ditambah dengan momentum menjelang Lebaran, yang membuat banyak masyarakat bersikap bijak dalam mengatur strategi finansial dan menghindari sikap impulsif.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas (DPMA) BI Erwin Gunawan Hutapea menegaskan, BI akan merespons secara tepat dan memastikan nilai tukar bergerak sesuai fundamentalnya akibat kondisi geopolitik. "Bank Indonesia akan terus mencermati pergerakan pasar secara seksama dan merespons secara tepat," ujar Erwin dalam keterangan resmi, dikutip Selasa, 3 Maret 2026.
Dalam hal ini, BI terus bersiaga di pasar melalui strategi intervensi ganda atau triple intervention yang mencakup transaksi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga intervensi di pasar luar negeri melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF).
Berdasarkan jurnal “Manajemen Risiko Keuangan Dalam Menghadapi Ketidakpastian Ekonomi Global”, dalam menghadapi ketidakpastian global masyarakat dapat menerapkan strategi finansial berupa:
1. Pendekatan keuangan yang menyeluruh (holistik)
Ketidakpastian global berdampak pada banyak aspek sekaligus, mulai dari nilai tukar, inflasi, hingga stabilitas pekerjaan. Oleh karena itu, pengelolaan keuangan tidak bisa dilakukan secara parsial.
Dalam konteks ini, anak muda perlu melihat kondisi keuangan secara utuh mengenai pendapatan, pengeluaran, utang, tabungan, dan investasi di dalam satu perencanaan terpadu. Dengan pendekatan menyeluruh, risiko tersebut dapat diidentifikasi lebih awal dan dapat diantisipasi sebelum tekanan ekonomi semakin mendesak.
2. Menyiapkan skenario dan dana darurat
Ketidakpastian menuntut masyarakat untuk selalu siap menghadapi berbagai kemungkinan. Prinsip stress testing yang biasa digunakan dalam manajemen risiko dapat diterapkan secara pribadi dengan membuat simulasi sederhana.
Sebagai contoh, jika pendapatan menurun, terjadi pelemahan rupiah, atau kebutuhan mendesak meningkat, maka peran dana darurat menjadi jelas. Oleh karena itu masyarakat harus memiliki dana cadangan minimal untuk beberapa bulan, untuk membantu menjaga stabilitas finansial tanpa harus menjual aset atau berutang.
3. Diversifikasi sumber pendapatan dan instrumen keuangan
Ketergantungan pada satu sumber penghasilan atau satu jenis investasi akan meningkatkan risiko. Diversifikasi menjadi strategi penting untuk meminimalisir dampak buruk dari gejolak global. Selain itu, tabungan likuid, instrumen investasi yang berbeda, dan peluang penghasilan tambahan dapat menjadi penyangga ketika salah satu sektor terdampak.
Dalam hal ini, prinsip yang harus diterapkan adalah membagi masing-masing risiko pada instrumen investasi, agar tekanan pada satu sisi tidak langsung mengguncang kondisi keuangan secara keseluruhan.
4. Adaptif terhadap perubahan global dan teknologi
Perubahan ekonomi global sering dipicu oleh faktor eksternal seperti konflik geopolitik, kebijakan suku bunga, atau disrupsi digital. Oleh karena itu, literasi keuangan dan kemampuan mengikuti perkembangan informasi menjadi bagian penting dari strategi bertahan yang harus dipahami oleh masyarakat.
Selain itu, pemanfaatan teknologi keuangan juga harus diterapkan dengan penuh kewaspadaan terhadap risiko keamanan data dan transaksi. Hal ini akan membantu seseorang mengambil keputusan yang bijak dan rasional.
5. Membangun ketahanan jangka panjang
Pengelolaan keuangan di tengah ketidakpastian global, tidak hanya bersifat defensif. Namun, diperlukan perencanaan jangka panjang yang harus dijaga, termasuk tujuan investasi, pendidikan, atau pengembangan karier.
Melalui strategi yang disiplin dan terukur, ketidakpastian global dapat dihadapi dengan tenang. Fokus utamanya bukan sekadar bertahan, melainkan membangun sistem keuangan pribadi yang fleksibel dan tahan terhadap guncangan ekonomi.
Tulisan ini telah tayang di TrenAsia.com, jejaring media WongKito.co, pada 4 Maret 2026.