Senin, 19 Oktober 2026 13:40 WIB
Penulis:Nila Ertina

PENAMPILAN Teater Rongsokan dari Provinsi Aceh siang itu di Gedung Graha Budaya Jakabaring Palembang, Rabu (7/10/2026), bukan sekadar pertunjukan biasa. Lewat lakon yang mereka bawakan dengan judul "Arisan Satwa Marga Sumatera" menggambarkan kondisi kerusakan hutan dan penghuninya.
Tampil pada Festival Teater Sumatera IV tahun 2026, dengan tema "Merawat Bukit Barisan", Teater Rongsokan dari UIN Ar-Raniry mendapatkan dukungan penuh dari kampus di Banda Aceh tersebut.
Di awal penampilan, terdengar suara para Satwa Marga Sumatera riuh dan ramai. Karya besutan sutradara, Machfud Ridha itu, membuka mata para penonton, betapa kerusakan lingkungan akibat keserakahan kaum kapital telah berdampak luar biasa.
Pemeran pada penampilan Teater Rongsokan adalah Adek, Anggi, Jay, Resta, Rosa, dan Zuhra.
Baca Juga:
Diiringi melodi alunan suling ruang pertunjukkan mulai meriah, lampu panggung hidup dan tampak di atas panggung ada beberapa potongan pohon dan taburan bunga, lampu menyoroti harimau yang datang terlebih dahulu di atas panggung, kapalanya melihat ke kanan dan kiri mencari temannya yang masih belum dating lalu ia berdiri sambil berkata.
Harimau Sumatera atau Panthera Tigris Sumatrae adalah satwa yang paling pertama sampai dilokasi arisan lalu disusul oleh Burung Elang, Badak, Orang Utan dan Gajah.
Ceritanya, masing-asing satwa memberikan laporanya terkait masalah yang mereka alami di hutan, setelah seluruh marga satwa menyampaikan laporannya. Lampu panggung mati suara pemberitahuan muncul.
"Pengumuman diberitahukan kepada seluruh satwa marga Sumatera kita akan mengadakan arisan pada pukul tiga siang diharapkan kehadirannya, sampai jumpa," terdengar suara pengumuman menggema.
"Mana yang lain, katanya mau arisan jam tiga sore ini, kebiasaan sering kali tidak tepat waktu, kalau begini tidak ada bedanya kita sama manusia sering kali tidak tepat Waktu," ujar pemeran harimau di atas panggung.
Tak lama kemudian muncul suara burung elang datang dengan suara merintih sambil memegang sayapnya yang terluka karena terkena timah dari senjata pemburu liar menembus ke salah satu kepaknya.
Disusul Badak dengan penampilan yang sedikit berbeda karena culanya yang sudah dipangkas, culanya dipangkas diburu keserakahan manusia.
Lalu, suasana semakin muram seekor anak Orang Utan Sumatera dengan raut wajah yang bingung dan panik, ia menceritakan saat mencari makan, pohon pohon pisang yang menjadi sumber kehidupannya kini sudah tidak ada. Sang ibu Orang Utan mengatakan dalam perjalanannya ada kabut asap kebakaran.
Panggung bergetar pertanda Gajah Sumatera datang dengan kepiluanya, ia datang paling terlambat karena jalur yang sering ia lewati kini telah berubah drastis akibat penebangan pohon, pembangunan jalan tol dan infrastruktur lainnya, tak hanya itu kakinya pun terluka akibat perangkap dari manusia.
Baca Juga:
Dari perkumpulan yang penuh keperihan itu, mereka mengabil keputusan akan turun ke rumah satwa, mencari para satwa dan akan memburu semua manusia. Kemudian dibagilah tugas, Orang Utan ke bagian timur, Gajah kebagian selatan, dan Harimau ke utara.
Sepulangnya dari pembagian tempat tersebut harimau di kejar manusia yang membabat hutan mereka dengan rasa cemas harimau menyampaikan kepada teman temannya, mereka semua pun mati tertembak oleh manusia yang membabat hutan.
Akhir yang tragis ini menyampaikan pesan moral bahwa ini sebuah perigatan darurat (red alert). apabila eksploitasi, pembakaran, dan alih fungsi lahan terus menurus terjadi, maka keberadaan satwa-satwa endemik Sumatera tak akan lagi tersisa di alam nyata, tapi hanya akan jadi sejarah tentang bagaiamana manusia menghancurkan rumah mereka.(Tanya Zalzalbilla)