9 Tahun Pedagang Bertahan di Tengah Pasar Soak Bato yang Sepi

Gedung Pasar Soak Bato yang telah direvitalisasi, tetapi pedagang justru mengeluhkan pasar sepi (Foto WongKito.co/Magang/Nur Izzati Kharisma)

PAGI itu lorong-lorong Pasar Soak Bato atau biasa juga disebut Pasar 26, pasar tradisional yang berada di pusat Kota Pempek tepatnya di Jalan Soak Bato, kawasan Jalan Merdeka tak jauh dari Puskesmas Merdeka, Kelurahan Talang Semut, Kecamatan Bukit Kecil, Kota Palembang, tampak lengang saat Aku bersama tim liputan WongKito.co memasuki gedung pasar, Senin (12/10/2026).

Deretan lapak yang dibangun setelah revitalisasi berdiri rapi, namun sebagian pintunya masih tertutup. Di beberapa sudut, hanya terdengar suara pedagang yang saling menyapa, sementara pembeli yang datang bisa dihitung dengan jari.

Di atas meja dagang, potongan ayam, sayuran, dan kebutuhan pokok sudah tersusun sejak pagi. Para pedagang tetap menunggu, meski mereka tak pernah tahu apakah hari itu dagangannya akan habis terjual atau kembali dibawa pulang.

Sudah hampir sembilan tahun mereka menjalani rutinitas yang sama.

Revitalisasi Pasar Soak Bato selesai dilakukan pada 2016. Para pedagang kembali menempati gedung pasar pada 2017 dengan harapan kondisi perdagangan akan lebih baik.

Baca Juga:

Gedung baru, lapak yang lebih tertata, hingga fasilitas yang seharusnya membuat aktivitas jual beli semakin nyaman.

Namun harapan itu, menurut para pedagang, tidak pernah benar-benar terwujud. Salah satunya dirasakan Neng, pedagang ayam yang sudah berjualan sejak sebelum revitalisasi. Baginya, berjualan di pasar merupakan sumber penghasilan utama untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Setiap hari ia membuka lapak, menjual ayam yang telah dibersihkan. Berapapun hasil yang diperoleh, itulah yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Kalau tidak cukup ya dicukup-cukupkan," ujarnya.

Keluhan serupa juga disampaikan Uus. Ia mengaku kembali berjualan setelah pasar dibuka kembali pada 2017. Namun hingga kini kondisi pasar belum banyak berubah.

Selain berharap penertiban pedagang di pinggir jalan, ia juga menginginkan fasilitas di dalam gedung diperbaiki.

Menurutnya, toilet pasar tidak dapat digunakan, sementara saluran air yang kurang baik membuat lantai pasar sering becek sehingga mengurangi kenyamanan pedagang maupun pembeli.

Di lorong lain, Endah menyampaikan harapan yang sama agar aktivitas jual beli di bahu jalan dapat dipindahkan kembali ke dalam gedung pasar, yang sekaligus dapat mengurai kemacetan di Jalan Mujahidin.

Sementara itu, Cece memiliki pandangan yang lebih kompromistis, ia memahami kebutuhan masyarakat akan pasar pagi, namun mengusulkan agar aktivitas di pinggir jalan dibatasi hanya pada jam-jam sarapan (pukul 04.00 hingga 08.00 WIB), lalu masyarakat berbelanja kebutuhan rumah tangga ke pasar resmi.

"Sembilan tahun menunggu, tapi belum ada perubahan," katanya.

Adukan Masalah ke Walikota

Kondisi pasar yang terus sepi akhirnya mendorong para pedagang mengambil langkah bersama.

Pada Senin (12/10/2026), mereka mendatangi Kantor Walikota Palembang ingin bertemu langsung dengan Wali Kota Palembang, Ratu Dewa. Namun, mereka harus menunggu, jadwal audiensi telah diajukan, cuma infonya paling cepat satu pekan ke depan baru ada jawaban kapan bisa bertemu dengan orang nomor satu di Palembang.

Sebelumnya, para pedagang juga telah melayangkan surat tertanggal 10 Oktober 2026 yang ditandatangani belasan pedagang Pasar Soak Bato 26 Ilir. Surat tersebut berisi keluhan dan permohonan bantuan ke walikota atas berbagai masalah yang dihadapi pedagang.

Hari ini, tepat pukul 09.30 WIB, para pedagang akhirnya berhasil menyampaikan surat permohonan tersebut ke Kantor Walikota Palembang. Meski sempat melalui prosedur penjadwalan yang ketat dari petugas penjaga, surat tersebut akhirnya dinaikkan langsung ke meja Walikota Palembang. Petugas menyampaikan bahwa surat itu akan diproses lebih lanjut, dan para pedagang nantinya akan dihubungi kembali untuk mendapat kepastian jadwal peninjauan langsung oleh bapak wali kota

Dalam surat tersebut, mereka menyampaikan bahwa sejak revitalisasi selesai dilakukan pada 2016 hingga pasar kembali beroperasi pada 2017, jumlah pengunjung terus menurun.

Pasar Sepi, Retribusi Tetap Wajib

Akibatnya, pendapatan harian pedagang ikut merosot. Bahkan, tidak sedikit pedagang yang mengaku sering tidak berhasil menjual satu pun dagangannya dalam sehari.

Mereka juga menjelaskan bahwa sebagai pedagang resmi, mereka tetap memiliki kewajiban membayar berbagai retribusi, mulai dari retribusi kebersihan dan keamanan harian, retribusi bulanan hingga tahunan.

Namun, kondisi pasar yang sepi membuat sebagian pedagang kesulitan memenuhi kewajiban tersebut. Beberapa kios bahkan tidak lagi dibuka setiap hari karena biaya operasional dinilai lebih besar dibandingkan pemasukan yang diperoleh.

Melalui surat itu, para pedagang meminta Pemerintah Kota Palembang meninjau langsung kondisi Pasar Soak Bato.

"Kami berharap pemerintah dapat melihat sendiri aktivitas perdagangan yang berlangsung setiap hari dan mempertimbangkan kebijakan untuk meringankan, bahkan menghapus sementara beban retribusi hingga kondisi pasar kembali normal," kata seorang pewakilan pedagang.

Selain itu, pedagang juga meminta pemerintah menata aktivitas pasar dadakan di bahu dan badan Jalan Mujahidin 26 Ilir yang dinilai menjadi salah satu penyebab pembeli enggan masuk ke dalam gedung pasar.

Baca Juga:

Bagi para pedagang, revitalisasi seharusnya membuat pasar menjadi lebih tertata dan mampu menghidupkan kembali aktivitas perdagangan di dalam gedung, bukan justru memunculkan pusat keramaian baru di luar pasar.

Saat kami meninggalkan lokasi, para pedagang masih membuka lapaknya seperti biasa. Mereka tetap menata dagangan, menunggu pembeli datang, sambil berharap audiensi yang mereka ajukan kali ini benar-benar menghadirkan perubahan.

Gedung pasar hasil revitalisasi itu masih berdiri kokoh. Namun bagi para pedagang, yang mereka nantikan bukan lagi bangunan baru, melainkan ramainya aktivitas jual beli yang mampu menghidupkan kembali pasar dan mengembalikan harapan yang telah mereka tunggu selama hampir satu dekade. (*Nur Izzati Kharisma & M. Agna Dzisyarif)

*Mahasiswa Magang MBKM Prodi Jurnalistik, UIN Raden Fatah Palembang, Angkatan 2024
 

Editor: Nila Ertina
‌‌
‌‌

Related Stories